JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Semarang

Distan Kota Semarang Temukan 48 Jeroan Hewan Kurban Tak Layak Konsumsi, Disiplin Protokol Kesehatan Jadi Prioritas

Ilustrasi sapi kurban. Pixabay

SEMARANG, JOGLOSEMARNEWS.COM — Pelaksanaan perayaan Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban di Kota Semarang mengedepankan protokol kesehatan. Pengawasan kedisiplinan sebagai upaya pencegahan penularan covid-19 sangat diperketat.

Seluruh masyarakat pada saat pelaksanaan salat Idul Adha hingga pelaksanaan penyembelihan hewan kurban wajib rajin cuci tangan, menggunakan masker atah face shield.

Selanjutnya, jarak antar barisan salat diatur sebagai bentuk physical distancing.
Begitupula saat pembagian hewan kurban dilaksanakan secara bergiliran untuk mencegah adanya penumpukan masyarakat.

Di sisi lain, petugas dari Dinas Pertanian (Distan) Kota Semarang, juga gencar menggelar operasi guna menjamin kelayakan konsumsi daging dan jeroan hewan kurban.
Hasilnya, puluhan jeroan hewan kurban yang tidak layak konsumsi.

Baca Juga :  Terlantar, Situs Kalitaman Butuh Perhatian Pemerintah

Pihak Distan Kota Semarang langsung meminta para panitia penyembelihan hewan kurban untuk tidak membagikan jeroan itu ke masyarakat. Kepala Distan Kota Semarang Hernowo Budi Luhur Hernowo, saat dikonfirmasi pada Minggu (2/8/2020), menyebutkan, pemeriksaan yang dilakukan Distan Kota Semarang di 297 titik selama dua hari perayaan Idul Adha.

Yakni pada Jumat (31/7/2020) serta Sabtu (1/8/2020). “Total ada 1.052 sapi, dua kerbau, 34 domba dan 3.081 kambing yang diperiksa kualitas jeroannya,” bebernya.
Hasilnya, lanjut Budi, setidaknya ada 48 jeroan atau organ dalam dari hewan kurban yang tidak memenuhi persyaratan aman, sehat, utuh dan halal (ASUH) untuk dikonsumsi.

“Mayoritas temuan dari hewan kurban sapi, dengan kasus cacing hati. Rata-rata di sapi, sekitar 90 persen, sisanya kambing dan kerbau ada satu temuan.
Yang tidak layak dikonsumsi harus dibuang,” urai dia.

Baca Juga :  DPRD Kudus Pacu Realisasi Pembangunan Sekolah Unggulan di Masing-masing Kecamatan

Budi juga mengungkapkan, jeroan-jeroan itu didapati dari hewan ternak jenis sapi, kerbau, domba dan kambing. “Pemeriksaan digelar secara merata di Kota Semarang,” imbuh dia.

Kendati demikian, Budi juga mengungkapkan, temuan jeroan tak layak konsumsi ini sebenarnya menjadi hal biasa di tiap kegiatan masyarakat di perayaan kurban maupun aktivitas lain terkait mengkonsumsi hewan ternak.

“Hal itu disebabkan organ dalam tidak bisa dipastikan dari luar. Pemeriksaan hanya diperiksa secara fisiknya,” sambung dia. Satria Utama