JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Ini Strategi Meningkatkan Ekonomi Selama Pandemi di Jawa Tengah

SEMARANG, JOGLOSEMARNEWS.COM – Peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia selama periode Februari hingga Agustus 2020 masih terus terjadi.

Menurut Prof. Dr Andreas Lako, SE, MSi’, ekonom darj Unika Soegijapranata, Semarang, Indonesia menyumbang 0,65 persen dari pertumbuhan Covid-19 global.

Akan tetapi, menurutnya jumlah dan rasio kesembuhan Covid-19 di Indonesia juga terus naik. Pada 20 Agustus 2020, rasio kesembuhan nasional dan Jawa Tengah bahkan mencapai 68 persen.

Sedangkan rasio meninggal akibat Covid-19 di Jawa Tengah sebesar 9,18 persen. Jumlah itu bahkan lebih tinggi daripada rasio meninggal Covid-19 secara nasional yang hanya sebesar 4,4 persen.

Dijabarkan Andreas, pandemi Covid-19 telah membelit dan berdampak negatif pada kinerja perekonomian dan berimplikasi negatif pada penurunan kinerja sosial-masyarakat, terutama masalah ekonomi yang merupakan salah satu pondasi kehidupan.

Hampir semua kalangan merasakan dampak dari penurunan ekonomi tersebut. Mulai dari UMKM hingga perusahaan besar.

Data menyebutkan, di Indonesia pertumbuhan ekonomi turun sebesar sebesar 5,2 persen, tak terkecuali di wilayah Jawa Tengah.

Baca Juga :  Indonesia di Ambang Resesi, Ini Saran dari Pengamat Ekonomi: Masyarakat Menengah Atas Jangan Berhemat dan Tetap Belanja

“Hanya ada empat sektor yang tumbuh yaitu pertanian, jasa keuangan, jasa kesehatan, jasa sosial, serta bidang informasi dan komunikasi,” ujar Andreas Lako, saat menyampaikan materi dalam diskusi online yang diadakan oleh Joglosemarnews institute dengan tema Strategi Jitu Bangkitkan Ekonomi Pasca Pandemi.

Untuk memacu pertumbuhan perekonomian di Jawa Tengah 2020, jelas Andreas, setidaknya ada empat strategi yang bisa diterapkan. Pertama, pengendalian terhadap Covid-19, kedua, memacu permintaan dan penawaran ekonomi via APBD, ketiga berkolaborasi dengan stakeholders, dan yang keempat yaitu tata kelola yang baik.

Pembicara lainnya, yakni ekonom dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Prof. Dr. Sugiyanto, MS mengatakan, selain empat strategi tadi, pemerintah juga memiliki opsi untuk memacu pertumbuhan ekonomi.

“Pemerintah juga akan memberikan bantuan modal kerja bukan investasi, sebesar 2,4 juta per UMKM, Kementrian Koperasi harus melakukan validasi kepada UMKM yang mendapat bantuan, UMKM kuliner menjadi prioritas bantuan,” ujar Sugiyanto.

Baca Juga :  Cerita Warga Sekitar soal Klinik Aborsi Ilegal yang Digerebek Polisi: Lihat Perubahan Janggal, Dokter yang Bertugas Ganti Beberapa Kali

Ketepatan sasaran, menurut Sugiyanto, akan sangat menguntungkan dan membangun kondisi ekonomi yang sedang anjlok.

Dikatakan, selama pandemi berlangsung, 90 persen usaha mikro di desa tetap aktif. Hanya saja, terjadi penurunan daya jual sebesar 40 persen. Dari contoh tersebut, pemerintah harus tepat sasaran dalam melakukan validasi dalam usaha mikro.

Namun demikian, ujar Sugiyanto, semua hal itu harus dilakukan dengan melibatkan banyak pihak dan mengesampingkan politisasi.

“Jadi satu sama lain harus saling membangun satu pemahaman untuk penanganan ekonomi yang lebih baik,” bebernya.

Dengan adanya beberapa strategi dari pakar ekonom dan opsi bantuan dari pemerintah tersebut, harapannya masyarakat mampu menerapkan strategi tersebut sehingga kondisi perekonomian bisa pulih kembali.

“Tak lupa bantuan dari pemerintah juga harus terealisasi agar membantu pertumbuhan perekonomian di masyarakat, khususnya para pemilik UMKM,” ujarnya. lukman – najmi yafi