JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Semarang

Inilah Semangat Para Kaum Disabilitas di Pati dalam Menghadapi Pandemi Covid-19 Mempoduksi Pelindung Wajah

Sejumlah penyandang disabilitas memproduksi pelindung wajah ( face shield) di kantor sekretariat lama Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Desa Tlogorejo, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati. Istimewa

PATI, JOGLOSEMARNEWS.COM — Di dunia ini kita tidak bisa memilih akan seperti apa takdir yang telah digariskan oleh Allah SWT untuk kita. Kita yang ditakdirkan terlahir sehat tanpa kekurangan satu apapun dan bisa beraktivitas sehari-hari secara normal tentu haruslah banyak bersyukur.

Apapun itu penyebabnya, orang-orang yang memiliki keterbatasan tersebut berhak untuk memperoleh kesetaraan hidup sama seperti mereka yang berfisik normal.
Keterbatasan bukanlah alasan untuk membatasi kita berkarya apalagi menutup diri terhadap luasnya dunia luar. Justru, keterbatasanlah yang harus menjadi motivasi dan lecutan semangat untuk bisa meraih kehidupan yang lebih baik.

Rubiatun (38), mungkin adalah salah satu dari sekian banyak penyandang disabilitas yang masih terus semangat berkarya demi melanjutkan hidup, di tengah pandemic virus coroa yang belum berakhir.

Sejumlah penyandang disabilitas memproduksi pelindung wajah ( face shield) di kantor sekretariat lama Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kabupaten Pati, Desa Tlogorejo, Kecamatan Tlogowungu.

Mereka mengerjakan ribuan face shield pesanan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah.

Salah satu pembuat face shield ialah Rubiatun (38), ibu rumah tangga yang memiliki kekurangan cacat pada kakinya. Warga Desa Tambahrejo, Kecamatan Pati Kota itu tidak menyerah meski kedua kakinya tidak berfungsi normal. Untuk berjalan saja, ia harus merangkak.

“Iya, ini membuat face shield pesanan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Saya membuatnya di sini,” ujarnya Senin (24/8/2020), kemarin.

Baca Juga :  Berdalih Amaliah Rusak Warung di Solo dan Minta Setoran Rp 400.000, 6 Orang Diduga Laskar Ditangkap Polisi. Kapolda Keluarkan Peringatan Keras!

Jarak tempuh rumahnya menuju lokasi membutuhkan waktu sekitar 10 menit, Ia berangkat menggunakan sepeda motornya yang sudah dimodifikasi roda tiga. Tiap harinya, Rubiatun hanya seorang ibu rumah tangga dengan suami yang bekerja sebagai penjual es keliling. Ia dikarunia seorang anak yang saat ini empat SD.

“Saya hanya ibu rumah tangga, kalau suami penjual es keliling. Anak satu sekolah di SD,” tutur dia.

Untuk membuat face shield, Rubiatun mengaku senang karena merasa mendapat perhatian dari pemerintah. Menurutnya, kaum disabilitas dapat berperan sebagaimana orang normal lainnya.

“Kami berharap orang-orang seperti saya mendapat tempat yang layak seperti yang lainnya. Saya senang bisa mengerjakan pesanan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, jadinya ada masukan buat keluarga,” ungkapnya.

Ketua PPDI Kabupaten Pati, Suratno menuturkan bahwa pesanan face shield dari Pemprov Jateng sebanyak 3500 biji. Masing-masing 2000 biji ukuran dewasa dan 1500 biji ukuran anak-anak.

“Total pesanan 3500 face shield, yakni 2000 untuk ukuran dewasa dan 1500 untuk anal-anak. Per biji harga kerja Rp 2750, untuk bahan sudah dari provinsi. Ini dikerjakan dua tim, dengan jumlah total 20 orang. Kalau anggota PPDI Pati sendiri ada sekitar 243 orang,” paparnya.

Suratno menyebut ini merupakan kali kedua Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bekerja sama dengan PPDI Kabupaten Pati.

Baca Juga :  Jadi Bandar Upal, Kakek Asal Mojo Dibekuk Polisi di Temanggung. Saat Ditangkap Bawa Satu Plastik Uang Palsu Rp 21 Juta, di Rumahnya Juga Ada!

“Sebelumnya juga sudah pesan masker di sini sekitar 1500 masker. Nah, kali ini pesan lagi tapi face shield. Semoga ini bisa berlanjut,” terangnya.

Sementara Kepala DP3AP2KB Provinsi Jawa Tengah, Retno Sudewi menuturkan bahwa dari total 15.374 orang ada sekitar 561 orang (4%) diberdayakan untuk membuat face shield. Jumlah face shield yang diproduksi 2.252.500 biji.

Selain kelompok disabilitas, pihaknya juga memberdayakan perempuan rentan dengan kriteria perempuan KK, disabilitas, perempuan migran, perempuan korban kekerasan, HIV/AIDS dan kader PKK.

“Di 35 kabupaten/kota dibentuk kelompok masing-masing 10-15 orang dan bukan penjahit. Tidak murni disabilitas, tergantung masing-masing kabupaten/kota. Untuk PKK jadi satu mayoritas korban kekerasan 3-4 persen, dominan perempuan KK dan kader PKK sekitar 80-90 persen,” ujarnya.

Tujuannya adalah agar mereka mendapatkan penghasilan, apalagi saat ini masih dalam masa Pandemi covid-19.

“Mereka membuat masker dengan honor pengerjaan Rp 3000 per biji. Dan setiap kelompok mendapat jatah 1.500 masker, jadi total mendapat Rp 4,5 juta. Face shield Rp 2.750 per biji, per kelompok 1.700 face shield, total Rp 4.675.000 per kelompok. Sedangkan paketnya per kelompok, 1 kelompok ada yg 10-15 orang. Sejauh ini, di Jateng ada 1.325 kelompok,” tandasnya. Satria Utama