JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Kisah Pilu Perawat RSUD Sragen Hamil Besar Syok dan Nangis-Nangis Jalani Karantina Usai Ketahuan Positif Covid-19. Sempat Beredar Foto Menu Makanan Dinilai Kurang, Kiriman dari Dokter dan Rekan Sejawat Langsung Membanjir

Salah satu petugas RSUD Sragen saat berjaga di depan bangsal Teratai yang digunakan mengisolasi 19 tenaga medis dan petugas yang terkonfirmasi positif covid-19 sejak Senin (17/8/2020). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kasus positif covid-19 yang menimpa 20 tenaga kesehatan (nakes) dan petugas RSUD dr Soehadi Prijonegoro Sragen menghadirkan kesedihan tersendiri.

Tak hanya rumah sakit yang harus berjibaku mengalihkan pelayanan dan menangani mereka yang terpapar, kasus covid-19 itu juga memberi tekanan psikis kepada para nakes dan petugas yang positif.

Mereka yang sebelumnya menangani pasien, kini harus menerima kenyataan menjalani karantina akibat terpapar covid-19. Mereka dikarantina di bangsal Teratai yang dialihfungsikan semantara khusus untuk isolasi para petugas dan nakes itu.

Cerita di balik karantina bangsal Teratai pun mengalir. Di hari pertama masa karantina, sebagian nakes dan petugas dikabarkan sempat mengalami goncangan psikis.

“Ada satu perawat yang hamil besar dan mau melahirkan sempat nangis-nangis. Tapi setelah kita bincang-bincang langsung, untuk tempat mereka sebenarnya nggak ada masalah. Kalau ada masalah, mungkin lebih ke hati. Ada perasaan kangen dengan keluarga, harus pisah dengan keluarga, biasanya bebas jadi nggak bisa bebas. Hanya itu saja,” papar Dirut RSUD dr Soehadi Prijonegoro Sragen, Didik Haryanto kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Kamis (20/8/2020).

Baca Juga :  Tambah Lagi, 2 Warga Ngrampal Sragen Positif Terpapar Covid-19 Hari Ini. Jumlah Total Kasus Melonjak Jadi 485, Sudah 68 Warga Meninggal dari PP Hingga Positif

Didik menguraikan ada 19 nakes dan petugas positif yang dikarantina di Bangsal Teratai. Satu nakes residen dari Solo sudah ditangani di Solo.

Para petugas itu dinyatakan positif covid-19 pada Senin (17/8/2020) diduga tertular dari pasien di Bangsal Rosella yang meninggal dan positif terpapar covid sehari sebelumnya.

Didik menguraikan dari hasil perbincangannya dengan para nakes dan petugas yang dikarantina, ia memastikan kondisi kesehatan mereka semuanya dalam keadaan baik. Tak ada yang mengeluhkan gejala klinis.

Ia juga sempat menawarkan mau pilih dikarantina di ruangan apa atau di hotel. Para nakes itu menyatakan soal tempat bukan jadi masalah.

Hanya, ia mengatakan sempat ada insiden kecil ketika kemudian beredar foto-foto menu makanan di lokasi karantina yang dianggap kurang layak.

Baca Juga :  Tambah 6 Warga Positif, Kasus Covid-19 Sragen Naik Jadi 520. Jumlah Pasien Sembuh 408, Satu Pasien Suspek Kembali Dilaporkan Meninggal Dunia

Namun kasus foto menu itu sudah ditindaklanjuti dan yang bersangkutan diajak bicara hati ke hati dan permintaan soal menu langgsung ditindaklanjuti

“Kemarin sudah kami panggil kita tanya uneg-unegnya apa tolong disampaikan. Sebenarnya soal menu juga sudah kita penuhi. Mereka hanya memibta kebutuhan kelengkapan mandi, salat dan vitamin lalu jaringan Wifi. Sudah kita penuhi,” terangnya.

Dampak dari foto menu itu, pihaknya justru kewalahan lantaran ada banyak kiriman makanan yang mengalir untuk para nakes dan petugas yang dikarantina.

Donasi itu datang dari para dokter, perawat dan rekan sejawat. Bahkan saking banyaknya, Didik mengaku dari manajemen harus menempatkan personel di lokasi karantina untuk mengatur supaya donasi bisa terkoordinir.

“Ada yang makanan sampai isi pulsa. Rata-rata dari dokter, perawat dan rekan sejawat. Donasi dan support mereka luar biasa,” terangnya.

Ditambahkan, para petugas dan nakes itu nantinya akan dilakukan tes swab setelah 10 hari menjalani isolasi. Wardoyo