JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Rampok Sate Mahbang Sragen Sempat Dipergoki Jalan Kaki, Usai Gondol Uang Rp 80 Juta Seperti Nylorot ke Atas Motor Satria..

Lokasi perampokan pejabat Distan Sragen di depan warung sate kelinci Pak Peng Mahbang Sambungmacan. Foto/Wardoyo
Lokasi perampokan pejabat Distan Sragen di depan warung sate kelinci Pak Peng Mahbang Sambungmacan. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kasus perampokan dengan modus pecah kaca yang menimpa bendahara bidang di Dinas Pertanian Sragen, Sutrisno (48) kemarin, menyisakan fakta baru.

Menurut pelayan warung sate Mahbang, Sri Rejeki menuturkan kejadian perampokan siang bolong itu terjadi sangat cepat.

Dia yang saat kejadian sedang berada di warung dekat jalan dan membakar sate, sama sekali tak mengira jika ada perampok yang nekat beraksi di dekatnya.

“Saya hanya lihat ada orang jalan kaki dari dekat tugu ke sini. Kemudian menuju ke arah mobil. Lalu setelah dekat ke mobil, seperti mengeluarkan sesuatu dari celana. Lalu terdengar suara pyarr seperti kaca pecah. Saya lihat orang itu kabur bawa tas dari mobil. Saya langsung teriak maling maling,” paparnya ditemui Selasa (11/8/2020).

Sri mengaku sama sekali tak mengira jika pria yang jalan kaki itu adalah perampok. Saat itu perhatiannya terpusat pada kerjaannya membakar sate yang dipesan Sutrisno dan rekannya Dedy Wahyudi.

Saat diberitahu ada maling yang mecah kaca mobilnya, Sutrisno dan Dedy seketika masih belum percaya.

Keduanya baru sadar ketika mengecek ke arah mobil dan kaca depan sudah pecah serta tas isi uang Rp 80 juta di jok depan sudah raib.

Nurmila, pemilik warung sate kelinci Mahbang, menuturkan perampoknya berjumlah dua orang dengan menaiki sepeda motor jenis Satria.

Dari perawakannya, satu pelaku yang bertindak sebagai eksekutor, diketahui berbadan kecil dan agak tinggi. Kedua pelaku mengenakan masker dan helm.

Ia juga tak mengira jika kedua pria itu adalah perampok. Menurutnya pelaku terlihat sudah siap dan berbagi tugas sehingga secepat kilat beraksi lalu kabur.

“Pas kacanya dipecah, lalu tas dibawah jok kiri isi uang milik Pak Tris disaut. Ngambil uangnya kelihatan gugup sekali setelah dapat tas, pelaku sampai nylorot ke boncengan motor temannya yang sudah nunggu di depan. Nggak ada lima menit, mereka beraksi,” urai Nurmila.

Baca Juga :  Sejarah, Penetapan Paslon Pilkada Sragen Rame-Rame Diboikot Wartawan. Kesal Kinerja KPU Dinilai Tidak Profesional

Nur menguraikan pelaku diduga memang sudah nguntit dari bank. Hal itu terlihat dari aksi mereka yang dilakukan hanya beberapa saat ketika korban tiba di warung.

“Baru duduk dan pesen, satenya saja belum jadi. Tapi biasanya Pak Tris itu duduknya di warung depan, kemarin itu duduke milih ke teras,” urai Nurmila.

Ia juga menyampaikan seusai beraksi, kedua pelaku kabur ke arabh timur. Seketika tahu ada rampok, suami Nurmila atau pemilik warung Sate Mahbang, Pak Peng sempat berinisiatif mengejar.

Namun karena motornya kalah cepat, upaya pengejaran gagal. Pak Peng yang mengejar sambil membawa pisau, sudah kehilangan jejak ketika sampai di bangjo Tunjungan.

“Bapak ikut ngejar bawa pisau. Kalau-kalau rampoknya terjatuh saat kabur. Tapi wong motornya motor tua, nggak kecandak,” tandas Nurmila.

Kapolres Sragen, AKBP Raphael Sandhy Cahya Priambodo juga memastikan pelaku terlebih dahulu menguntit dan mengintai pelaku sebelum menjalankan aksinya.

Menurutnya, biasanya modus perampok dengan pecah kaca mobil yang menyasar nasabah bank, melibatkan sindikat. Mereka cenderung berbagi tugas mulai dari memetakan, menggambar situasi dan menguntit sasaran sebelum beraksi.

“Pasti itu (sudah nguntit). Sindikat ini ini kan cara bermainnya sudah rapi. Ada yang sebagai menggambar lapangannya, eksekutornya dan lain-lain,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Selasa (11/8/2020).

AKBP Raphael menguraikan meski beraksi di Sragen, tidak menutup kemungkinan pelaku adalah pemain luar atau bukan orang Sragen.

Baca Juga :  Kebakaran Landa Rumah Mbah Marto di Kedawung Sragen, 2 Ekor Sapi Luka Bakar, Pemilik Terpaksa Harus Mengungsi

Sebab biasanya kasus modus pecah kaca lebih banyak melibatkan sindikat lintas atau luar daerah.

“Masih kita dalami terus. Ini tim masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap kasus itu,” tukasnya.

Di sisi lain, uang Rp 80 juta yang baru diambil dari Bank Mandiri Sragen itu ternyata bukan uangnya sendiri. Akan tetapi, uang itu adalah uang dana bantuan Gerakan Percepatan Olah Tanah (GPOT) dari pusat yang akan diberikan kepada kelompok penerima besok pagi.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sragen, Eka Rini Mumpuni Titi Lestari mengatakan, uang yang dicuri merupakan uang dinas yang berasal dari dana pusat. Uang tersebut rencananya akan dibagikan kepada kelompok penerima esok hari.

“Saya baru dapat laporan dari sekdin. Informasinya jumlah uangnya Rp 80 juta. Itu dana dari pusat, untuk kegiatan Gerakan Percepatan Olah Tanah. Tadi ambil dari bank, karena besok pagi mau diberikan ke kelompok penerima,” paparnya dihubungi wartawan, Senin (10/8/2020).

Sekretaris Dinas Pertanian, Joko Wikanto, yang mendampingi korban melapor ke Polres, menguraikan korban bernama Sutrisno (49), salah satu bendahara bidang di Dinas Pertanian Sragen.

Saat kejadian, korban diketahui selesai mengambil uang dari Bank Mandiri Sragen, ditemani salah satu stafnya, Dedi Wahyudi.

Usai dari bank, korban berniat makan siang di salah satu warung sate kelinci di Jalan Sragen-Ngawi, tepatnya di Dukuh Lemahbang, Desa Karanganyar, Kecamatan Sambungmacan, Sragen.

“Belum sempat makan, baru turun dari mobil kemudian mau duduk tiba-tiba salah satu karyawan sate sudah teriak maling. Saat dicek, kaca depan bagian kanan sudah pecah. Uang Rp 80 juta yang ditaruh di depan sudah hilang,” urainya. Wardoyo