JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

Rancangan Habibie, Pesawat N250 Gatotkaca Kini Resmi Masuk Museum TNI AU Yogyakarta

Para siswa siswi dari Sekolah dasar hingga Sekolah menengah atas serta sekolah Menengah kejuruan tengah melihat sebuah pesawat N250 dalam pameran Orbit Habibie Festival di JiExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (17/10/2019) / tempo.co

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Pesawat N250 Gatotkaca rancangan BJ Habibie, Presiden RI Ketiga, kini resmi menjadi koleksi Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala di Yogyakarta, Jumat (21/8/2020).

Fuselage atau badan pesawat N250 Gatot Kaca yang ada di PT Dirgantara Indonesia, diangkut menuju Yogyakarta menggunakan truk trailer. Perjalanan sang Gatot Kaca ini menempuh jarak kurang lebih 567 kilometer.

“Hal menarik dari perjalanan tersebut, banyak dari pemudik yang melintas di jalan tol, membuka kaca jendela, karena merasa penasaran, dengan apa yang di bawa oleh truk tersebut,” ujar Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsma TNI Fajar Adriyanto secara tertulis, Jumat (21/8/2020).

Baca Juga :  Pemkot Yogya Gencarkan Pemutusan Penularan Covid-19, Ini Yang Dilakukan    

Fajar mengatakan, pesawat kebanggaan RI itu akan dijadikan monumen yang bisa dilihat masyarakat sebagai pertanda bahwa bangsa Indonesia mampu membuat pesawat terbang dengan teknologi canggih, yakni fly by wire.

Pesawat N250 Gatotkaca merupakan satu dari dua prototipe pesawat, dari rencana empat prototipe pesawat yang dibangun PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN), saat ini PT Dirgantara Indonesia.

Baca Juga :  Puskesmas Gedongtengen dan Wirobrajan Ditutup karena Sejumlah Nakes Dinyatakan Positif Covid-19

Pesawat prototipe rancangan Habibie itu dinamai Gatotkaca oleh Presiden RI Kedua Soeharto.

Pesawat N250 tersebut diperkenalkan pertama kali kepada masyarakat Indonesia saat rool-out tanggal 10 November 1994.

Soeharto ditemani istri, Tien Soeharto, hadir langsung menyaksikan penampilan perdana pesawat itu di Bandara Husein Sastranegara, Bandung.

Gatotkaca pertama kali mengudara, bertepatan HUT RI ke-50 pada tahun 1995. Meski mendapat banyak pujian pada masanya, pesawat N250 tidak jadi diproduksi secara massal karena Indonesia mengalami krisis moneter pada 1998.

www.tempo.co