JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Semarang

Senyum Nicky Pelajar SMAN 11 Kota Semarang Merekah Terima Bantuan Alat Sekolah Sistem Daring

Nicky Rizky Zulamto pelajar SMAN 11 Kota Semarang. Istimewa

SEMARANG, JOGLOSEMARNEWS.COM – Sistem pembelajaran daring adalah implementasi pendidikan jarak jauh. Sejak pandemi covid-19 melanda, seluruh siswa dari berbagai tingkatan sekolah terpaksa harus belajar dari rumah.

Sebagai bentuk interaksi dengan siswa, dilakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara online. Kebijakan tersebut sebagai upaya pencegahan penularan covid-19.
Model pembelajaran seperti itu ternyata telah menjadi hal yang fenomenal.

Bahkan, sejumlah keluhan orang tua siswa juga menjadi hal kerap ditemui. Terutama dari kalangan yang kurang mampu. Salah satunya Nicky Rizky Zulamto pelajar SMAN 11 Kota Semarang.

Selama sistem pembejaran online digulirkan, Nicky sempat kebingungan saat harus belajar daring, ketika gawainya rusak. Sempat nebeng belajar bersama temannya, kini ia bisa mandiri dengan gawai pinjaman dari sekolahannya.

Remaja 17 tahun asal Kelurahan Gemah, Kecamatan Pedurungan ini mengaku, telepon genggam pintar miliknya rusak saat sekolahan “diliburkan”, akibat Pandemi Covid-19. ‎Karena tak punya uang untuk membeli, ia akhirnya berinisiatif pergi ke warung internet.

“Eh malah nggak boleh, kan waktu itu wabah sedang tinggi-tingginya. Jadi tidak boleh keluar. Lalu saya minta teman saya ke rumah, saya nebeng belajar lewat handphone-nya. Tapi lama-lama kasihan juga. Akhirnya, saya bilang ke wali kelas,” ujar siswa kelas XII IPA, Senin (3/8/2020).

Dari keluhannya ke wali kelas, ia lantas dipanggil ke sekolahan. ‎Kepala SMAN 11 Kota Semarang Supriyanto, lantas memberikan jalan tengah, dengan meminjaminya sebuah handphone.

Baca Juga :  Objek Wisata Watu Amben Berpotensi untuk Pengembangan Wisata Edukasi, Diyakini sebagai Cikal Bakal Desa Waru

Dengan handphone tersebut, Nicky akhirnya tak perlu ke luar rumah dan menyusahkan temannya. Lalu bagaiman dengan kebutuhan kuota per bulan?

“Alhamdulillah, sekarang sudah lancar buat ikut belajar daring. Kalau untuk kuota, ini handphone pinjaman saya gunakan juga untuk berjualan online. Saya reseller baju-baju. Hasilnya lumayan, untuk menambah beli kuota,” paparnya.

Dalam sebulan, Nicky mengaku menghabiskan uang hingga Rp100 ribu. Dengan uang itu, ia mendapatkan kuota sekitar 28 gigabyte. Jumlah itu menurutnya cukup untuknya belajar daring dan menjalankan usahanya.

‎Ditanya tentang pengalamannya belajar daring, Nicky mengaku sempat kesulitan mengawali belajar via daring. Lalu ia berinisiatif menambah porsi pengetahuan melalui Youtube dan bertanya kepada rekannya.

‎Kepala SMAN 11 Kota Semarang Supriyanto mengungkapkan, tidak hanya Nicky yang dipinjami gawai. Tercatat dua orang siswa yang dipinjami gawai untuk mempermudah pembelajaran.

“Ada yang dipinjami handphone, dan handphone tersebut milik saya pribadi, yang tidak terpakai. Ada pula yang dipinjami laptop milik sekolah. Baru dua orang yang dipinjami, namun kami tetap melakukan survei adakah siswa kami yang kesulitan belajar daring,” ungkapnya.

Terkait pembelajaran daring, Supriyanto menyebut, telah menyalurkan dana Biaya Operasional Sekolah (BOS) untuk membantu pembelian kuota internet. Sebanyak 243 anak telah mendapatkan jatah pembelian kuota sebanyak Rp50 ribu per bulan.
Jumlah tersebut menurutnya,‎ terus bertambah setiap minggu sesuai kebutuhan siswa.

Baca Juga :  Penasaran dengan Festival Kota Lama Semarang, Ini Informasi Detailnya

“Lalu untuk membangun kompetensi guru, kami melakukan pelatihan internet seperti webinar, Google Meet, Zoom, dan sebagainya. Dengan itu, guru yang mau pensiun pun jadi punya semangat,” urainya.

Guru SMAN 11 Kota Semarang Supeno mengatakan, pembelajaran daring adalah sesuatu yang baru. Namun, dengan hal tersebut ia dan rekan-rekan guru lain bersemangat membuat bahan ajar.

“Ya kalau dengan pembelajaran daring, kita jadi bisa bikin persiapan seperti bikin power point, persiapan bikin materi video dan sebagainya. Kalau untuk satu pelajaran biasanya sekitar 30 sampai 45 menit,” ungkap Supeno.

Terpisah, Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Jawa Tengah Padmaningrum‎ mengatakan, pembelajaran jarak jauh memang terdapat berbagai kendala. Namun, kreativitas dan kearifan lokal menjadi tuntutan bagi pendidik dalam melaksanakan pembelajaran di tengah Pandemi Covid-19.

“Problemnya memang bermacam-macam, mulai dari ketiadaan jaringan, kuota, tak semua anak punya gawai, hingga (rendahnya) kepedulian orang tua akan pendidikan di rumah,” ungkapnya, melalui sambungan telepon.

Terkait hal tersebut, pihaknya telah memberikan arahan kepada manajemen sekolah. Seperti peminjaman gawai, penggunaan dana BOS,  home visit (kunjungan rumah) sampai pemanfaatan internet desa.

“PJJ juga bukan berarti (mutlak) daring, namun dituntut pula inovasi dari guru. ‎Dibutuhkan penyederhanaan kurikulum sinkronisasi, agar anak tidak cepat bosan,” pungkas Padmaningrum. Satria Utama