JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Cerita Warga Sekitar soal Klinik Aborsi Ilegal yang Digerebek Polisi: Lihat Perubahan Janggal, Dokter yang Bertugas Ganti Beberapa Kali

Ilustrasi USG. Foto: pixabay.com
madu borneo
madu borneo
madu borneo

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM Sebuah klinik aborsi ilegal di kawasan Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat, mencapi sorotan setelah digerebek pihak kepolisian. Warga yang tinggal di sekitar lokasi klinik pun buka suara tentang apa yang mereka lihat di klinik tersebut.

Perhatian warga terutama dari jumlah pasien yang datang ke klinik itu setiap harinya. Menurut warga, jumlahnya bisa mencapai puluhan orang per hari. “Banyak yang datang. Kelihatannya bisa puluhan pasien per hari,” ujar Ella, salah seorang warga di Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat, Kamis (24/9/2020).

Sedangkan jumlah pasien paling ramai, dikatakannya, biasanya pada hari Sabtu, yang bisa jauh lebih banyak dibandingkan hari biasa. “Kalau hari Sabtu, itu paling banyak (pasien).”

Ella mengaku bisa mengetahui apakah seseorang merupakan pasien klinik itu atau bukan dari tempat mereka memarkir mobil. Biasanya pasien klinik akan memarkir mobil di sekitar lokasi klinik seperti di toko swalayan, sebelum berjalan beberapa puluh meter menuju klinik.

Sementara itu warga lainnya, Dedi, mengatakan bahwa meskipun banyak pasien yang datang, orang-orang di klinik itu cenderung tertutup, sehingga ia pun tak pernah berinteraksi dengan pemilik maupun karyawan di sana. Hanya saja, ia mengaku mendapati pernah ada perubahan janggal pada klinik itu.

Baca Juga :  Buron 1 Bulan, Cai Changpan, Terpidana Mati Kasus Narkoba yang Kabur dari Lapas Kota Tangerang Ditemukan Tewas Gantung Diri di Hutan

Seingat Dedi, sekitar 2012, ia melihat ada papan tanda yang bertuliskan “dokter kandungan” terpasang di bagian depan klinik, sehingga ia menduga itu klinik kesehatan biasa.

Namun, sekitar lima tahun lalu, kata Dedi, papan tulisan itu hilang, sedangkan praktik tampak tetap berjalan. Ia pun sempat bertanya-tanya apakah hal tersebut legal. “Saya mulai gak tahu apa ini legal,” ujar pria 75 tahun itu.

Saryumi, warga yang berjualan makanan tak jauh dari klinik punya cerita lain. Ia mengatakan dokter yang bekerja di klinik itu sudah beberapa kali ganti. “Dulu ada dokter yang tua, 60 tahunan, terus ganti dokter yang muda,” tuturnya.

Ia sempat mendengar kabar seorang dokter muda meninggal, lalu dokter yang tua sempat kembali. “Sekarang dokternya baru lagi, masih muda,” ujarnya.

Sebelumnya, dalam konferensi pers pada Rabu (23/9/2020), Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus mengatakan, klinik aborsi ilegal tersebut telah digerebek polisi pada tanggal 9 September lalu. Klinik tersebut disebut telah menggugurkan sebanyak 32.760 janin dalam waktu tiga tahun, terhitung sejak 2017. Klinik itu diduga menangani pasien 5-6 orang per hari.

Baca Juga :  Kemenaker Klaim Bantuan Subsidi Upah Telah Disalurkan Kepada Lebih dari 12 Juta Pekerja

Selama membuka praktik aborsi ilegal dalam tiga tahun itu, jumlah keuntungan yang diraup klinik ilegal itu ditengarai mencapai Rp10 miliar.

Polisi telah menahan 10 orang terkait praktik aborsi di klinik yang berlokasi di Jalan Percetakan Negara itu. Mereka telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini termasuk di antaranya adalah pemilik klinik, dokter, staf, dan pelanggan aborsi.

Para tersangka tersebut masing-masing berinisial LA (52), sebagai pemilik klinik; DK (30) yang bertindak sebagai dokter; NA (30) sebagai kasir; MM (38) selaku operator mesin USG; YA (51) dan LL (50) sebagai pembantu dokter; RA (52) sebagai penjaga pintu klinik; ED (28) sebagai petugas kebersihan; SM (62) yang bertindak sebagai pelayan pasien; serta RS (25), yang diketahui adalah salah seorang pasien.

Yusri mengatakan, DK belum menjadi seorang dokter, melainkan baru sarjana kedokteran yang sempat menjalani koas, tapi tak selesai karena mendapat tawaran bekerja di klinik itu.

www.tempo.co