JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Kabar Baik, Wujudkan Sirkular Ekonomi Desa, PKBS Bakal Buat Harga Ikan Petani WKO Sragen Jadi 2 Kali Lipat. Bangkai Ikan Diberdayakan Jadi Pakan, Sisa Makanan Semua Restoran Juga Akan Dimanfaatkan

Ketua Umum PKBS, Tedy Sudjarwanto bersama tim dan dinas terkait saat meninjau potensi perikanan di Waduk Kedungombo (WKO) Sragen akhir pekan lalu. Foto/Wardoyo
Ketua Umum PKBS, Tedy Sudjarwanto bersama tim dan dinas terkait saat meninjau potensi perikanan di Waduk Kedungombo (WKO) Sragen akhir pekan lalu. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Paseduluran Keluarga Besar Sragen (PKBS) terus berupaya merintis program-program guna mengangkat potensi desa dan petani Sragen untuk mewujudkan sirkular ekonomi desa.

Setelah kedelai edamame dan sweet shorgum, paguyuban yang mewadahi pakar-pakar dan orang sukses lintas kalangan kelahiran Sragen itu, kini merintis program sirkular untuk mengangkat derajat petani ikan di waduk kedung ombo (WKO).

Ketua Umum PKBS, Tedy Sudjarwanto mengatakan sudah mempelajari potensi yang bisa diberdayakan untuk mengangkat sektor perikanan utamanya petani ikan di WKO.

Dari hasil tinjauan ke WKO dan diskusi dengan sejumlah pihak serta pelaku perikanan WKO, PKBS sudah menyiapkan konsep sirkular yang akan diterapkan.

“Pertama, kita akan taruh mesin cold storage atau semacam pendingin di sana (WKO). Nantinya ikan-ikan saat panen besar yang biasanya harganya agak turun, bisa dibuat fillet atau diambil dagingnya. Lalu ditaruh ke cold storage untuk nanti dijual pas masa tidak panen. Ibu-ibu di sana diberdayakan kerja untuk membuat fillet ikannya dan harga ikan kalau dijual dalam bentuk fillet bisa dua kali lipat,” paparnya saat berbincang dengan JOGLOSEMARNEWS.COM , kemarin.

Baca Juga :  Awas, 3 Pasien Baru Positif Covid-19 Sragen Belum Terlacak Sumber Penularnya. Berikut Daftar 4 Tambahan Pasien Positif Tanggal 18 September!

Pakar teknologi kelahiran Kecik, Tanon yang menetap di Bekasi itu menguraikan sebagai perbandingan, harga jual ikan dalam bentuk fillet bisa Rp 40.000 perkilogram.

Sementara, selama ini harga ikan segar saat panen besar di WKO hanya berkisar Rp 20.000 sampai Rp 22.000 perkilogram.

Menurutnya dengan sentuhan teknologi cold storage itu, akan bisa mengatur pasar dan menaikkan harga jual. Sehingga muaranya nantinya diharapkan bisa mengangkat pendapatan serta kesejahteraan petani ikan di WKO.

“Ibu-ibunya bisa kerja, hasil panen ikan petani juga harganya lebih mahal. Kalau difillet dan disimpan di cold storage itu bisa bertahan setahun. Nah, kepala ikannya yang tidak digunakan nanti bisa dimanfaatkan diolah jadi pakan ikan atau pellet,” terangnya.

Lebih lanjut, Tedy menguraikan sirkular yang bisa digarap di WKO adalah pemanfaatan bangkai ikan.

Bangkai ikan yang selama ini hanya dibuang, nantinya bisa diberdayakan menjadi bahan untuk pellet atau pakan ikan bersama dengan kepala ikan sisa proses fillet tadi.

Gagasan merombak bangkai itu muncul setelah melihat bangkai-bangkai ikan di karamba yang terbuang sia-sia.

Baca Juga :  Bona Sinaga, Amran Sinaga dan Suherno Siburian Digerebek Saat Asyik Main di Masaran Sragen. Polisi Amankan Satu Tikar dan Uang Rp 700.000

“Satu kolam itu dari penuturan petani, kadang ikan yang mati bisa 10 ekor. Di WKO itu ada sekitar 4.000 kolam atau kotak. Bayangkan kalau satu kotak aja 10 ekor kan sangat banyak. Selama ini cuma dibuang, karena kalau dibiarkan di kolam malah jadi racun. Sementara kalau dibuang keluar akan jadi pencemaran dan menambah sedimentasi waduk. Apalagi kalau pas ada upwelling yang mati sampai berton-ton, kan sayang kalau tidak dimanfaatkan,” jelasnya.

Dari kondisi itu, nantinya PKBS sudah menyiapkan teknologi untuk produksi pakan ikan. Dadi bangkai ikan itu ditambah dengan sisa tulang atau makanan dari semua restoran, nantinya akan diproses menjadi pakan ikan.

“Selama ini sisa makanan di restoran kan juga hanya dibuang. Nanti kita akan koordinasikan semua sisa makanan di restoran diambil untuk dimanfaatkan jadi pakan ikan. Bangkai ikan walaupun mati dan biasanya dibuang, nanti bisa diproses dan jadi duit. Sehingga tidak mencemari lingkungan tapi malah diberdayakan jadi bermanfaat. Kami akan menggandeng pengusaha untuk alat dan teknologinya,” timpal Sekjen PKBS, Agus Mulyadi. Wardoyo