JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Semarang

Mbah Pur, Usia 68 Masih Sanggup Tempuh Jarak Ratusan Kilometer

Mbah Pur dengan sepeda ontel kesayangannya / lupita - joglosemarnews

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Di usia yang kian menua, bukan berarti semangat muda juga ikut menghilang. Hal itu seperti yang tergambarkan pada sosok Mbah Pur.

Usia pria yang bernama lengkap Iwan Purwadi itu kini telah menginjak usia 68 tahun. Namun, warga Kecamatan Pucanggading, Semarang itu terus mengayuh sepeda tak kenal lelah.

Saat ditemui tim joglosemarnews, wajah ramahnya langsung terpancar, meski keringat masih bercucuran membasahi dahinya.

Kepada Joglosemarnews, Mbah Pur pun mulai berkisah. Petualangannya bersepeda dimulai pada tahun 2004 silam. Baginya, bersepedsa adalah sebuah perjalanan yang membawa warna baru dalam kehidupannya.

Hanya saat bersepedalah ia mengaku bisa menikmati kebahagiaan. Hampir seluruh pelosok pulau Jawa, demikian Mbah Pur, pernah dijelajahi dengan sepeda ontelnya.

“Kalau di luar Pulau Jawa, saya pernah bersepedas ake Bali dan Bandar Lampung,” ujarnya.

Ibarat meniti kehidupan, Mbah Pur pun mengayuh pedal sepedanya dengan pelan namun pasti. Bergerak maju untuk mencapai tempat yang dituju.

Tak pernah merasa tergesa-gesa, Mbah Pur selalu menikmati setiap perjalanan sepedanya. Karena menurutnya, itulah hidup yang sebenarnya.

Baca Juga :  Perhiasan Hasil Rampokan Toko Emas di Blora Dijual Secara Eceran

Jika dengan mobil jarak Semarang-Bali yang jauhnya 669 kilometer itu bisa ditempuh dalam waktu satu hari, maka dengan mengendarai sepeda tua, Mbah Pur membutuhkan waktu sekitar dua minggu.

Mbah Pur mengakui, sebenarnya istrinya pernah melarang kebiasaannya bersepeda jarak jauh seperti itu. Tapi untungnya, ujar Mbah Pur, isterinya pulang sebulan sekali, karena bekerja sebagai baby sitter.

Mbah Pur / lupita – joglosemarnews

Kesempatan itulah yang dimanfaatkan Mbah Pur untuk melampiaskan hasratnya bersepeda. Menurut Mbah Pur, jika tidak bersepeda, hidup serasa tidak ada tantangan.

“Rasanya sama saja tidak menikmati hidup,” ujarnya.

Mbah Pur yang kini tergabung di komunitas sepeda tua Indonesia (KOSTI), selalu mencoba mengikuti event sepeda ontel yang ada di Pulau Jawa.

Dalam setiap perjalannya, Mbah Pur tidak banyak membawa perlengkapan. Dia hanya membawa peralatan perbaikan sepeda, bendera merah putih, bendera Provinsi Jawa Tengah, bendera komunitas onthel wisata Indonesia (OWI), peta sebagai pemantau jalan.

“Yang tidak pernah lupa, baju lurik khas Jawa Tengah serta blankon,” ujarnya sembari tertawa.

Baca Juga :  Objek Wisata Watu Amben Berpotensi untuk Pengembangan Wisata Edukasi, Diyakini sebagai Cikal Bakal Desa Waru

Mbah Pur punya alasan tersendiri mengapa selalu membawa baju lurik dan blangkon dalam setiap perjalannya.

Ia seolah punya nadar untuk mengenalkan budaya Provinsi Jawa Tengah dalam setiap jengkal perjalanan yang dia tempuh. Budaya Jawa Tengah itu tercermin dari baju lurik dan blangkon yang dikenakannya.

Menurut pengakuannya, ketika memperkenalkan pakaian khas daerahnya, hal itu merupakan suatu kebanggan tersendiri.

Sepanjang wawancara, Mbah Pur tak pernah meninggalkan sikap ramah. Oleh sikap ramahnya itulah, tak jarang selama perjalanannya dia diberi makanan dan minuman secara cuma-cuma oleh orang-orang yang ditemuinya.

“Bahkan, kemarin ada yang memberi saya masker di saat pandemi seperti ini,” ujarnya.

Jika tidak sedang bepergian dengan sepedanya, Mbah Pur bekerja mengurus bengkel sepeda yang dimilikinya. Dia juga tak segan mengajari anak-anak di sekitar rumahnya untuk mengendarai sepeda.

Mbah Pur berpesan, hidup itu haruslah mempunyai banyak pengalaman untuk masa depan.

“Dalam hidup, ilmu harus dicari, tetapi pengalaman juga harus didapat,” pungkas Mbah Pur.  wandani-lupita