JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Pantura

Terapkan Protokol kesehatan, Sedekah Laut di Kendal Digelar Berbeda dari Tahun Sebelumnya

Para Nelayan di Kelurahan Bandengan, Kecamatan Kendal Kota mengelar sedekah laut atau Nyadran, pada Jumat (11/9/2020). Istimewa

KENDAL, JOGLOSEMARNEWS.COM — Sebagai wujud syukur kepada Tuhan YME karena hasil tangkapan tahun ini berlimpah, nelayan di Kelurahan Bandengan, Kecamatan Kendal Kota mengelar sedekah laut atau Nyadran, pada Jumat (11/9/2020).

Tradisi Nyadran tahun ini digelar sederhana dengan mengedepankan protokol kesehatan pencegahan covid-19. Tradisi Nyadran digunakan sebagai permohonan keselamatan bagi para nelayan saat melaut, serta dijauhi dari pandemi yang saat ini tengah terjadi.

Warga di Kelurahan Bandengan, Kecamatan Kota Kendal melaksanakan tradisi Sadranan Sedekah Laut dan Sedekah Bumi dimulai di Tempat Pelalangan Ikan (TPI) Bandengan Kecamatan Kota Kendal.

Kegiatan Sadranan diawali dengan karnaval, dengan mengarak miniatur perahu berisi sesaji yang akan dilarung ke laut. Miniatur perahu itu diarak sekitar 1 kilometer, dari TPI Bandengan menuju Makam Mbah Jenggot dan Mbah Rancang.

Baca Juga :  10.873 Pelaku UMKM di Kota Pekalongan Diusulkan Terima BPUM

Panitia Ahmadi mengatakan, kegiatan sadranan dan sedekah laut tersebut merupakan tradisi setiap tahunya yang diadakan di wilayah pesisir Pantura Kendal.

“Ini sebagai ungkapan rasa syukur warga Bandengan dengan harapan terus diberi rizki yang melimpah, baik dari hasil bumi maupun dari laut,” katanya.

Dikatakan oleh, kegiatan tahun ini berbeda tahun sebelumnya. Karena kondisi dimasa pandemi covid-19.

“Kegiatan Safran tahun ini kami batasi untuk karnaval dan kegiatan seni yang banyak mengumpulkan masa,” jelas Ahmadi.

Sementara, salah satu nelayan yang juga sebagai ketua RT 04 RW 01 kelurahan Bandengan, Kamdi mengatakan, berziarah ke makam Mbah Jenggot dan Mbah Rancang merupakan bentuk penghormatan dan memanjatkan doa kepada kedua sesepuh yang berjasa membangun kawasan Bandengan.

Baca Juga :  Tertangkap Tak Pakai Masker, 100 Warga di Pekalongan Diberi Hukuman Sosial

“Kegiatan ini digelar sebagai ungkapan rasa syukur, karena dengan banyak bersyukur dan bersedekah, insya Allah rizki akan terus melimpah.” tuturnya.

Dikatakannya, kegiatan ini bermaksud agar warga mengerti sejarah dari orang tua dan sudah turun temurun di masyarakat Bandengan.

“Sadranan ini sudah dari sejarah turun-temurun masyarakat Bandengan, mbah Jenggot dipercaya sebagai tokoh nelayan dan Mbah Rancang dipercaya sebagai tokoh yang merancang atau membuka kawasan Bandengan,” ucap Kamdi. Satria Utama