JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Semarang

Bupati Pati Cup Dalang Anak dan Remaja Sangat Menginspirasi

Bupati Pati Haryanto saat hadir pembukaan ajang bupati cup dalang anak dan remaja di gedung sanggar kegiatan belajar (SKB) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pati, belum lama ini. Istimewa
Madu Borneo
Madu Borneo
Madu Borneo

PATI, JOGLOSEMARNEWS.COM — Anak-anak dan remaja diharapkan dapat mencintai kesenian dan kebudayaan tradisional Indonesia, termasuk wayang. Mereka didorong untuk melestarikan kebudayaan lokal.

Hal itu disampaikan Bupati Pati Haryanto pada pembukaan ajang bupati cup dalang anak dan remaja di gedung sanggar kegiatan belajar (SKB) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pati, belum lama ini. Menurutnya, kebudayaan memiliki banyak filosofi, yang bisa dipelajari untuk membentuk karakter seseorang dan menekankan generasi muda untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan asli Indonesia.

“Saya sangat setuju jika seni wayang digunakan untuk mendidik anak-anak generasi penerus bangsa, agar mencintai budayanya. Jangan sampai kebudayaan-kebudayaan kita ini justru diuri-uri oleh negara lain,” terangnya.

Baca Juga :  Kenakan Pakaian Adat Ponorogo, Gubernur Ganjar Curi Perhatian Publik

Disampaikan, keberadaan wayang telah mendunia. Hal itu dapat dilihat dari banyak negara lain yang menerima dan menyukai seni budaya tersebut. Seperti halnya lagu keroncong Bengawan Solo karangan Gesang yang saat ini viral di Korea.

Karenanya, lanjut Haryanto, untuk memperingati hari wayang sedunia, pihaknya menggelar ajang bupati cup dalang anak dan remaja mulai Senin (19/10/2020) hingga Jumat (23/10/2020).

Baca Juga :  Dicekoki Miras Conyang, Siswi 15 Tahun asal Semarang Digilir 5 Pemuda Bergantian. Korban Digarap di Madrasah, di Rumah Kosong hingga di Kebun

“Ajang bupati cup digelar agar budaya ini tetap lestari, serta sebagai wujud kecintaan kami sebagai pemimpin daerah untuk nguri-nguri budaya lokal. Karena banyak budayawan dan seniman papan atas, mengawali karirnya dari event seperti ini,” terang bupati.

Haryanto menyayangkan bila masyarakat lebih menyukai budaya asing dibanding budayanya sendiri, hingga akhirnya kehilangan identitas.

“Karena negara lain juga ngangsu kawruh di Indonesia tentang budaya kesenian kita, jangan sampai malah anak-anak kita tidak ada yang berminat jadi penerus budaya kesenian ini,” tegasnya. Satria Utama