JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Semarang

Menuju Zona Hijau Covid-19, Legislator Dorong Pemkot Semarang Gencarkan Uji Swab dan Rapid Test Massal

Ilustrasi petugas dari Dinas Kesehatan Kota Semarang menggelar uji swab dan rapid test massal. Istimewa
Madu Borneo
Madu Borneo
Madu Borneo

SEMARANG, JOGLOSEMARNEWS.COM — Kalangan DPRD Kota Semarang terus mendorong Pemerintah Kota Semarang bersama-sama bergerak menuju zona hijau pada akhir 2020 covid-19. Saat ini, Kota Semarang berada pada zona oranye. Target besarnya masuk zona hijau pada Desember mendatang.

Sekretaris Komisi D DPRD Kota Semarang, Anang Budi Utomo, kemarin, menegaskan, langkah paling tepat untuk mendorong Semarang segera masuk zona hijau yakni menambah uji swab maupun rapid yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Semarang.
“Jadi kapaitasnya harus ditambah,” terang dia.

“Kalau nanti persentasenya, sebaran, atau cakupan yang diswab lebih banyak lebih segera ditangani atau diisolasi sehingga transmisi tidak begitu cepat,” sambung Anang, Senin (19/10/2020).

Dijelaskan oleh Anang lebih detail, sejauh ini Dinas Kesehatan telah bergerak cepat melakukan tracking atau penelusuran terhadap klaster penyebaran Covid-19. Lini satu atau kontak erat langsung dilakukan tracking setelah diketahui seseorang terpapar Covid-19. Dia meminta Dinas Kesehatan tidak hanya berhenti melakukan penelusuran pada lini satu saja.

Baik lini dua dan tiga pun harus dilakukan pemeriksaan rapid atau swab test.
“Misalnya, klaster takziah. Jika ada ibu takziah, dia pulang menulari keluarga di rumahnya. Mungkin ada yang pernah bertamu dikejar lagi. Tidak terputus di lini satu tapi lini dua dan tiga,” terang dia.

Baca Juga :  Kalahkan DKI dan Jabar, Jateng Kembali Dinobatkan Jadi Provinsi Paling Informatif Nasional

Anang melanjutkan, dengan melakukan penelusuran hingga lini tiga, sambung Anang, klaster baru bisa berkembang jumlahnya hingga empat kali lipat dari temuan awal.
Anang pun juga meyakini bahwa deteksi dini terhadap lini dua dan lini tiga akan membuat orang yang terpapar Covid-19 bisa segera melakukan karantina sehingga tidak menulari orang lain. ”Kami juga mendorong upaya preventif dan promotif terkait 3M+I (mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, dan imunitas) semakin digencarkan,” terang dia.

“Meningkatkan imunitas itu penting. Orang tidak boleh terlalu panik, stres dikurangi. Ini jadi kuncinya selain 3M,” ujarnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Moh Abdul Hakam mengatakan, hingga 10 Oktober lalu jumlah spesimen atau swab test yang sudah diperiksa di Kota Semarang sudah mencapai 58.423 spesimen.

Sejak Agustus, rata-rata spesimen yang diperiksa sebanyak 2.175 spesimen per minggu. Dari jumlah itu, 83 persen atau 48.739 spesimen dinyatakan negatif, dan 17 persen atau 9.684 spesimen dinyatakan positif.

“Target dari provinsi 1.800 spesimen per minggu. Alhamdulillah kami tercapai terus.
Dalam minggu lalu saja setiap hari hanya dinkes saja sudah 400-500 swab,” terangnya.

Hakam melanjutkan, Dinas Kesehatan Kota Semarang terus melakukan skrining terhadap kelompok rentan antara lain lansia di atas 60 tahun, masyarakat yang memiliki riwayat penyakit lebih dari dua penyakit, ibu hamil, serta anak-anak.

Baca Juga :  Tembus Angka 1.416 Orang Per 1 Juta Penduduk Per Minggu, Tes PCR Jateng Lampaui Target WHO

Sementara itu, pemerintah, masyarakat, dan pengelola tempat wisata wajib meningkatkan kewaspadaan pada masa libur panjang akhir Oktober 2020, terutama dalam penegakan disiplin protokol kesehatan.

“Pada pekan depan ada libur panjang akibat dua hari cuti bersama yang ditetapkan pemerintah. Kewaspadaan semua pihak wajib dilakukan, terutama dalam disiplin menjalankan protokol kesehatan di masa pandemi,” kata Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulis yang diterima.

Menurut Lestari, libur panjang pekan depan itu merupakan gabungan tanggal peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada 29 Oktober plus cuti bersama yang ditetapkan pemerintah pada 28 dan 30 Oktober 2020.

Dengan demikian, tambah Rerie, sapaan akrab Lestari, pekan depan akan ada 5 hari libur mulai Rabu, Kamis, dan Jumat plus Sabtu serta Minggu.

Relatif panjangnya waktu libur di masa pandemi tersebut, menurut Rerie, menuntut kewaspadaan semua pihak agar tidak terjadi peningkatan tajam penyebaran COVID-19 di tempat-tempat wisata dan rumah tangga. Karena, tambah Legislator Partai NasDem itu, pascalibur panjang akhir Juli dan Agustus 2020 lalu, terjadi peningkatan kasus positif corona. Satria Utama