JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Pilkada Lawan Kotak Kosong, Agustina Wiludjeng Sebut Sebenarnya Keuntungan Bagi Masyarakat. Bilang Tak Masuk Akal, Sebut Penyoblos Kotak Kosong Berarti Bikin Pesan Tak Butuh Pemimpin!

Anggota DPR RI, Agustina Wiludjeng saat sosialisasi empat pilar di Ndayu Park Sragen, Kamis (22/10/2020). Foto/Wardoyo
Madu Borneo
Madu Borneo
Madu Borneo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Anggota DPR RI asal PDIP, Agustina Wiludjeng Pramestuti mendorong KPU untuk lebih gencar melakukan sosialisasi ke masyarakat terkait Pilkada serentak 2020.

Pasalnya, kondisi pandemi covid-19 yang membuat gerak paslon untuk sosialisasi sangat dibatasi, menjadi kendala tersendiri untuk memaksimalkan sosialisasi ke masyarakat.

“Memang nggak ada batasannya harus berapa warga yang mencoblos untuk bisa dikatakan menang terutama pada Pilkada yang melawan kotak kosong. Tapi kita berharap 50 sampai 60 persen masyarakat hadir di TPS. Memang butuh sosialisasi yang tajam dari KPU dan calon sehingga masyarakat itu melakukan konsolidasi dengan baik dan datang ke TPS,” paparnya ditemui di sela sosialisasi empat pilar di Ndayu Park Sragen, Kamis (22/10/2020).

Legislator asal PDIP itu menyampaikan pentingnya menggandeng tokoh agama, tokoh masyarakat hingga RT untuk menyosialisasikan gelaran Pilkada.

Hal itu dilakukan agar pemahaman masyarakat bisa meningkat sehingga partisipasi untuk mencoblos juga tinggi.

Terkait Pilkada dengan calon tunggal atau lawan kotak kosong, Agustina mengatakan sebenarnya calon tunggal memberi keuntungan bagi warga. Sebab dengan calon tunggal maka akan lebih kondusif dan terhindar dari kompetisi negatif.

Baca Juga :  Fenomena Pilkada Calon Tunggal, Anggota DPR RI Ini Beber Kerugian-Kerugian Jika Masyarakat atau Pilih Kotak Kosong. Dari Kehilangan APBD Hingga Pembangunan Terhambat!

“Keuntungannya jadi persatuan kesatuan itu lebih lebih terjaga. Daripada ketika Pilkada ada lawan, misalnya head to head, berarti calon ini dan calon itu berkompetisi dan biasanya itu yang kemudian berusaha melakukan kompetisi yang kadang-kadang berakhir dengan sosialisasi negatif dan kadang berpotensi memicu konflik juga di masyarakat,” terangnya.

Dengan hanya lawan kotak kosong,calon juga bisa lebih fokus memperkenalkan apa program yang akan dilakukan.

Sembari mengajak masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam proses membangun. Menurutnya hal itu sebuah keuntungan bagi masyarakat karena terhindar dari potensi konflik.

Terkait ada isu pilihan kotak kosong, Agustina memandang orang yang datang ke TPS hanya semata-mata untuk nyoblos kotak kosong itu sangat tidak masuk akal.

Sebab ia memandang pilihan kotak kosong itu justru akan berdampak merugikan bagi masyarakat sendiri.

Ketika menjatuhkan pilihan ke kotak kosong, maka nantinya masyarakat malah akan kehilangan kesempatan mendapatkan prioritas untuk anggaran pembangunan. Bahkan ia menyebut warga yang mencoblos kotak kosong menyiratkan pesan mereka tidak butuh pemimpin.

Baca Juga :  Berikut Daftar 31 Warga Positif dan Meninggal Sragen Hari Ini. Dua Desa di Masaran Paling Banyak, 8 Orang Dirawat di Rumah Sakit

“Ya kalau orang datang ke TPS hanya untuk semata-mata nyoblos kotak kosong ya kok aneh ya. Dana APBN dan APBD ini kan terbatas. Kalau warga memilih kotak kosong ya otomatis kerugiannya ketika ada prioritas-prioritas, tentu pemimpin pasti yang milih yang akan dirawat terlebih dahulu. Karena dia harus menepati janjinya. Tapi kalau memilih kotak kosong ya berarti masyarakat itu memang secara umum bikin pesan bahwa dia tidak membutuhkan pemimpin. Tapi sebagai pemimpin tentunya memiliki jiwa apakah itu milih kotak kosong atau bukan, tetap harus pemerataan pembangunan,” tegasnya.

Agustina menambahkan di era digital ini, selain sosialisasi lewat elemen masyarakat, KPU diminta tak menafikan peran media baik media mainstream maupun sosial media atau sosmed.

Menurutnya media itu memiliki peran paling tinggi di dalam proses untuk menyosialisasikan segala sesuatu. Terlebih di tengah keterbatasan aktivitas tatap muka di masa pandemi seperti saat ini. Wardoyo