JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

Merapi Siaga, BPPTKG Perkirakan Volume Magma di Dalam Gunung Api Itu Saat Ini Melebihi Tahun 2006

Ilustrasi erupsi Gunung Merapi. Foto: Twitter/ BPPTKG
Madu Borneo
Madu Borneo
Madu Borneo

YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM Status Gunung Merapi telah dinaikkan dari Waspada menjadi Siaga sejak 5 November lalu. Hingga kini, aktivitas gunung berapi itu juga terus menunjukkan adanya peningkatan.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat pada Selasa (10/11/2020) juga telah terjadi satu kali guguran material gunung berapi. Selain itu, laju rata-rata perubahan bentuk Gunung Merapi telah mencapai 12 sentimeter perhari.

BPPTKG juga memperkirakan berdasarkan pemantauan bahwa volume magma dalam Gunung Merapi saat ini telah melebihi volume magma gunung api itu pada tahun 2006 silam.

“Sekarang ini menurut data-data yang ada itu (volume magma) sudah melebihi 2006. Artinya, kemungkinan volume kubah lava ini adalah akan lebih besar dari tahun 2006,” kata Kepala BPPTKG Hanik Humaida di Pengungsian Merapi Balai Kalurahan Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, seperti dikutip Liputan6.com dari Antara, Selasa (10/11/2020).

Baca Juga :  Terdampak Jalan Tol Solo-Yogya, 2 Dusun di Sleman Bakal Terima Ganti Rugi Rp 45 M Lebih

Hanik memperkirakan, kondisi volume magma itu menjadi salah satu faktor penyebab pergerakan magma lambat menuju permukaan gunung yang kini berstatus siaga tersebut. Selain itu, menurut dia, lambatnya pergerakan magma menuju permukaan juga dipengaruhi oleh gas sebagai pendorong magma di gunung itu yang kini masih minim.

“Jadi yang mendorong atau yang menyebabkan magma menuju ke permukaan adalah gas. Ini menunjukkan bahwa kenapa sampai saat ini masih pelan-pelan jalannya. Ini karena magma ini miskin gas,” kata dia.

Peluang Erupsi Eksplosif

Hanik memperkirakan, apabila kondisi gas di Gunung Merapi masih seperti saat ini, maka erupsi eksplosif yang kemungkinan terjadi tidak akan sebesar erupsi pada tahun 2010. “Kalau data masih begini terus itu (erupsi) tidak terjadi. Kalau ada eksplosif, tidak sebesar 2010. Itu berdasarkan data-data yang ada sampai saat ini,” kata dia.

Baca Juga :  Perspektif Yogyakarta Gelar Pesta Gambar untuk Anak-anak Secara Virtual

Sementara itu, terkait bahaya erupsi Gunung Merapi, Hanik memperkirakan yang paling utama berada di Kali Gendol karena bukaan kawah saat ini ke arah Kali Gendol. “Namun demikian karena deformasi ada ke arah barat juga, sehingga potensi ke sana juga ada,” kata dia.

Meski demikian, terkait kecepatan serta sejauh mana jangkauan saat terjadi erupsi, menurut dia, baru bisa dihitung apabila kubah lava telah muncul. “Seberapa jauh kalau terjadi erupsi akan kami perbarui lagi rekomendasi yang sekarang kita sampaikan,” pungkasnya. Liputan 6