JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Solo

Pegiat Perlindungan Anak Rekomendasikan Setop Libatkan Anak dalam Promosi Rokok

Ilustrasi rokok. Pixabay

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM — Sejumlah pegiat perlindungan anak dari berbagai kota di Indonesia dan pakar hukum pidana sepakat bahwa promosi rokok yang melibatkan anak merupakan bentuk eksploitasi anak.

Hal itu merujuk pada UU No. 35 tentang Perlindungan Anak pasal 76I ditegaskan bahwa “Setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan atau turut serta melakukan eksploitasi secara ekonomi dan atau seksual terhadap anak”.

Terkait hal itu, eksploitasi anak dengan melibatkan mereka dalam promosi rokok direkomendasikan untuk dihentikan.

Hal itu mengemuka dalam Media Briefing bertema “2 Dekade Gugatan Promosi Rokok dengan Eksploitasi Anak Dulu dan Sekarang” yang diselenggarakan Yayasan Kepedulian untuk Anak Surakarta (KAKAK) dan Yayasan Lentera Anak (YLA), Rabu (25/11/2020), di Solo.

Prof. Irwanto, pakar perlindungan Anak, menegaskan salah satu hak anak adalah hak kesehatan dan kesejahteraan dasar, dimana anak berhak memperoleh standar kehidupan yang layak agar mereka berkembang baik fisik, mental, spiritual, moral dan sosial dengan baik.

Dengan kata lain anak berhak mendapatkan perlindungan dari segala bentuk ancaman yang dapat merugikan kepentingan terbaiknya untuk tumbuh kembang secara sehat, termasuk perlindungan dari ancaman bahaya rokok.

Baca Juga :  Lokasi untuk Rumah Sakit Darurat Covid-19 di Benteng Vasternberg Solo Jadi Sarang Ular. Saat Bersih-bersih Ditemukan Belasan Ekor

“Dalam upaya melindungi anak dari bahaya rokok perlu dilakukan sejumlah langkah serius untuk melindungi tumbuh kembang anak agar mereka mendapatkan “awal yang bagus”.

Karena itu, dalam konteks keluarga, orang tua yang sehat sangat dibutuhkan untuk menjamin keberlangsungan hidup anak yang sehat,” ujarnya.

Meskipun sebagian pihak menganggap industri rokok memiliki kontribusi besar dalam perekonomian, lanjut Prof Irwanto, hal ini sangat jauh tidak sepadan dengan dampak yang ditimbulkan dari bahaya rokok, khususnya dampak kepada generasi muda yang akan menjadi penerus di masa depan.

“Karena itu untuk melindungi anak-anak dari bahaya rokok, seharusnya rokok tidak diiklankan dan dipromosikan kepada anak,” tegasnya.

Di sisi lain, Emmy L Smith mengatakan, sejak 20 tahun lalu Yayasan KAKAK sudah mengajukan gugatan terhadap promosi rokok, yakni gugatan legal standing terhadap PT. BAT Indonesia di Pengadilan Negeri Surakarta dengan register peserta nomor: 127/Pdt.G/2000/PN. Ska.

Peristiwa tersebut bermula dari langkah PT. British American Tobacco (BAT) Indonesia Tbk yang meluncurkan merek rokok bernama Pall Mall. Promosi produk ini baru dilakukan di enam kota, salah satunya di Solo Jawa Tengah.

Baca Juga :  Sudah Kehilangan Suami Karena Tertabrak Kereta Saat Bertugas, Wanita Ini Juga Terancam Diusir dari Aspol Beskalan Solo

Promosi itu diberi tajuk Naked Cantest. Dalam kontes ini, bagi gadis remaja yang berani membuka pakaiannya seminimalis mungkin akan mendapakan gelar “Ratu Telanjang” dan di beri hadiah Rp. 500.000.

“Promosi rokok Pall Mall ini memang diperuntukan bagi oang dewasa tetapi banyak anak yang menonton. Padahal di acara promosi ini ada kontes dimana peserta berlomba-lomba menanggalkan aksesoris, serta adanya peragaan busana yang seronok yang tidak sesuai dengan nilai budaya karena pesertanya mengenakan busana yang sangat minim hingga ada yang hanya mengenakan pakaian dalam,” kata Emmy.

Ia menegaskan, promosi Pall Mall ini telah melanggar sejumlah peraturan, yakni UU No. 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen, PP No. 81/1999 tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan, Surat Keputusan Dirjen Pariwisata No. 14/U/II/1988 tentang Pelaksanaan Ketentuan Usaha dan Penggolongan Hotel, Tata Krama Periklanan Indonesia, serta SKB Mendagri dan Menhan dan Keamanan RI No. 153 /1995 dan No. KEP/12/XII/1985 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perijinan. Prihatsari