JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Edhy Prabowo Tersangka, Kiara Minta KPK Usut 9 Perusahaan yang Sudah Kantongi Izin Ekspor Benur

Benih lobster yang akan diselundupkan di Jambi (17/4/2019). Polisi berhasil mengagalkan upaya penyelundupan benis lobster senilai Rp 37 miliar / tempo.co

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Pasca penangkapan dan penetapan tersangka Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Praboto oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sejumlah perusahaan yang telah melakukan ekspor benih lobster berdasarkan izin dari Edhy Prabowo seharusnya diusut tuntas.

Hal itu dilontarkan oleh Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) Susan Herawati. Karena itu, dia berharap KPK mengusut perusahaan-perusahaan tersebut.

“Setidaknya telah ada sembilan perusahaan yang telah melakukan ekspor benih lobster per Juli 2020, yaitu CV Setia Widara, UD Samudera Jaya, CV Nusantara Berseri, PT Aquatic SSLautan Rejeki, PT Royal Samudera Nusantara, PT Indotama Putra Wahana, PT Tania Asia Marina, PT Indotama Putra Wahana, dan PT Nusa Tenggara budidaya,” ujar Susan dalam keterangan tertulis, Kamis (26/11/2020).

Susan mempertanyakan, jika PT Dua Putra Perkasa Pratama diduga memberikan suap sebanyak US$ 100.000 atau setara Rp 1,41 miliar kepada Edhy, bagaimana dengan sembilan perusahaan lain yang telah melakukan ekspor benih lobster.

Baca Juga :  Beban Rumah Sakit Kian Berat, Menkes Budi Gunadi: Bagi yang OTG, Tolong Isolasi Mandiri di Rumah!

“Apakah mereka tidak melakukan hal yang sama?” tuturnya.

Kiara, ujar Susan, meminta komisi anti-rasuah terus menyelidiki mekanisme pemberian izin ekspor bagi sembilan perusahaan ini. Ia meminta KPK tidak hanya berhenti pada kasus ini.

“Perlu pengembangan dan penyelidikan lebih lanjut supaya kasus ini terang benderang dan publik memahami betul duduk perkaranya.”

Susan berujar bahwa Ombudsman pernah mengingatkan banyaknya potensi kecurangan dalam kebijakan pemberian izin ekspor lobster.

Bahkan, Ombudsman menyebut bahwa izin ekspor benih lobster itu bertentangan dengan konstitusi Republik Indonesia.

“Sayangnya, Edhy Prabowo tidak mendengarkan penilaian tersebut,” ujarnya.

Diketahui, KPK telah resmi menetapkan Edhy Prabowo sebagai tersangka dugaan suap ekspor benih lobster pada Rabu (25/11/2020).

Selain Edhy, ada 6 orang lainnya yang turut ditetapkan sebagai tersangka, satu  di antaranya adalah pemberi suap.

Baca Juga :  Resmi Tersangka, Rizieq Shihab dan Dirut RS Ummi Bakal Diperiksa Pekan Ini

Berdasarkan keterangan KPK, Edhy Prabowo menerima suap dari Direktur PT Dua Putra Perkasa Pratama, Suharjito. Tujuannya, agar perusahaan Suharjito ditetapkan sebagai eksportir benih lobster melalui forwarder, PT Aero Citra Kargo (PT ACK).

Edhy ditangkap dalam operasi senyap penyidik lembaga anti-rasuah di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada 25 November dinihari, setibanya dari Amerika Serikat untuk perjalanan dinas.

Dalam tangkapannya, KPK menyita sejumlah barang bukti seperti ATM BNI atas nama Ainul Faqih, tas LV, tas Hermes, baju Old Navy, jam Rolex, jam Jacob n Co, tas koper Tumi, dan tas koper LV.

Edhy kini telah mengundurkan diri sebagai menteri. Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga telah menunjuk Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan sebagai Menteri KKP ad Interim.

www.tempo.co