JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Pemerintah Akui Ada Peningkatan Kasus Covid-19 Pasca Libur Panjang Oktober Lalu

Ilustrasi kenaikan covid-19. pixabay

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM — Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengakui terjadi peningkatan kasus Covid-19 pasca libur panjang Oktober lalu.

Tetapi lonjakan yang terjadi masih dapat dikendalikan dan tidak lebih tinggi dibandingkan pada libur panjang bulan Agustus lalu.

“Harus diakui bahwa terjadi peningkatan kasus selama libur panjang yang lalu. Namun, kalau dilihat angkanya masih bisa kita kendalikan. Artinya tidak lebih tinggi dibandingkan pada libur panjang bulan Agustus sebelumnya,” kata Doni usai rapat terbatas dengan Presiden di Istana Merdeka, Jakarta, Senin, (23/11/2020).

Baca Juga :  Hari Kelima Pencarian, Basarnas Berhasil Kumpulkan 141 Kantong Potongan Tubuh Korban Sriwijaya Air SJ-182

Sejumlah peristiwa menurut Jenderal bintang tiga tersebut berkontribusi pada lonjakan Covid-19 pasca libur panjang Oktober lalu. Peristiwa itu terkait dengan aktivitas Imam Besar FPI Rizieq Shihab.

Kegiatan-kegiatan kerumunan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Terutama di wilayah Bandara Soetta, di wilayah Kelurahan Petamburan, dan juga wilayah Slipi. Kemudian juga Tebet Timur, serta Megamendung,” katanya.

Peristiwa-peristiwa tersebut membuat penambahan kasus di Jakarta relatif tinggi dibandingkan, waktu-waktu sebelumnya. Dua hari lalu misalnya kasus Covid-19 di DKI mencapai 1.579.

Baca Juga :  Melonjak Lagi, Pasien Meninggal Gegara COVID-19 di Sukoharjo Tambah 7 Sedangkan Kasus Aktif Baru Bertambah 40, Semua Terjadi Hanya Dalam Waktu Sehari

“Kemudian kemarin 1.300an. Oleh karena itu teman-teman wartawan sekalian, kita harus mampu mengajak seluruh komponen bangsa untuk patuh kepada protokol kesehatan,” katanya.

Lonjakan kasus Covid-19 pasca libur panjang juga dapat dilihat dari tingkat keterisian tempat tidur ICU rumah sakit di sejumlah wilayah. Diantaranya Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah yang mengalami peningkatan menjadi di atas 70 persen.

“Sedangkan Jakarta, angka keterisian ruang ICU mencapai 69,5 persen. Tetapi ini pun harus bisa kita upayakan untuk tidak bertambah lagi,” pungkasnya.

www.tribunnews.com