JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Semarang

Awas, Tanah Permukiman dan Jalan-Jalan di Desa Banjaran Purbalingga Mendadak Retak dan Ambles. Pertanda Apa?


PURBALINGGA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purbalingga bersama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah segera melakukan kajian geologi di wilayah Desa Banjaran, Kecamatan Bojongsari.

Langkah tersebut diinstruksikan Bupati Purbalingga, untuk mengetahui penyebab terjadinya tanah bergerak di wilayah tersebut.

Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi, mengungkapkan, kejadian tanah bergerak sering terjadi di Desa Banjaran. Hal itu menyebabkan kerusakan beberapa rumah, mulai dari kerusakan ringan hingga berat.

“Berdasarkan informasi dari Pak Kades, kita langsung survei ke beberapa rumah. Ada yang cukup parah, ada yang kerusakan ringan,” kata Bupati Tiwi, saat mengunjungi lokasi bencana alam, kemarin.

Ditambahkan, sebagai langkah awal, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purbalingga akan membantu material bangunan, bagi warga yang rumahnya rusak akibat tanah bergerak namun masih bisa ditempati.

“Perbaikan rumah ini sambil menunggu hasil kajian ESDM dan geologi. Sedangkan, untuk perbaikan jalan akibat tanah bergerak, saya perintahkan DPUPR untuk menggunakan anggaran rutin memperbaiki jalan yang patah-patah akibat tanah bergerak,” ungkapnya.

Tiwi juga meminta pemerintah desa bersama warga setempat untuk tetap waspada. Pasalnya, selama musim hujan, kemungkinan datangnya bencana masih ada. Salah satunya berupa tanah bergerak.

Baca Juga :  Penanganan Banjir di Kota Semarang, Gubernur Ganjar Minta Pompa Ditambah

Kepala Desa Banjaran, Muhamad Ichmun, mengungkapkan, kejadian tanah bergerak memang biasa terjadi, khususnya ketika hujan berlangsung dalam waktu lama. Kondisi tersebut ditandai dengan retakan di dinding dan lantai rumah yang kian hari makin lebar dan panjang.

Selain rumah, sejumlah patahan juga terlihat di jalan kabupaten yang melalui desa tersebut, sehingga menyulitkan para pengguna jalan, khususnya pengendara sepeda motor.

“Kerusakan parah terjadi di RT 19 RW 9, (yakni) ada enam rumah dan RT 17 sejumlah dua rumah. Retakan bertambah parah ketika pagi tadi, waktu sore kemarin tidak separah itu,” katanya.

Sebelumnya, bencana banjir melanda Desa Cilapar dan Cipulih di Kecamatan Kecamatan Kaligondang. Banjir tersebut disebabkan luapan Sungai Ranu yang tidak mampu menampung debit air hujan akibat sedimentasi sungai.

Guna mengatasi hal tersebut, Pemkab Purbalingga berencana untuk melakukan normalisasi Sungai Ranu.

Hal itu disampaikan Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi, saat mengunjungi korban banjir di Desa Cilapar dan Penolih, Kecamatan Kaligondang, kemarin.

“Penanganan setelah surut akan dilakukan oleh DPUPR sambil kita bantu alat berat untuk normalisasi sungai. Namun untuk penanganan cepat sementara akan dipasang sandbag dulu untuk menahan air meluap,” katanya.

Baca Juga :  Disapa Gubernur Ganjar saat Divaksin Covid-19, Para Pedagang Pasar di Pati Semringah dan Mengajak Selfie

Kepala Desa Cilapar, Somlikhun mengatakan selain menggenangi rumah warga, luapan air juga berdampak pada 50 hektare lahan pertanian, dan mengakibatkan kerusakan jalan desa sepanjang 80 meter. Pihaknya bersyukur, banjir tidak memakan korban jiwa.

“Warga masih bertahan di rumah masing-masing. Ketika mereka ingin mengungsi, sudah kami sediakan kantor balai desa dan gedung khusus pengungsian yang sudah kami siapkan di RW 003,” katanya.

Kepala Desa Penolih, Sosro Purnomo mengatakan, warga yang terdampak banjir sebagian masih bertahan sedangkan sebagian lainnya mengungsi di rumah saudaranya.

Sebagai informasi, banjir melanda wilayah Desa Cilapar dan Desa Penolih. Banjir tersebut disebabkan oleh luapan Sungai Ranu. Puncak luapan banjir terjadi pada Selasa (12/1/2021) pukul 23.00 WIB.

Tinggi muka air di Desa Penolih mencapai pinggang orang dewasa atau sekitar satu meter. Meski demikian, genangan kembali surut seiring berjalannya waktu.

Pemkab Purbalingga pun memberikan bantuan berupa paket sembako kepada 80 kepala keluarga terdampak banjir di Dusun I dan II Desa Cilapar, dan 83 kepala keluarga di Dusun II, III dan IV Desa Penolih. Wardoyo