JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Karanganyar

Fakta Miris, Pengakuan Warga Positif Terpapar Covid-19 di Wukir Sawit Karanganyar. Sudah Swab Sendiri Rp 260.000, Isolasi Mandiri di Rumah Tanpa Penanganan hingga Bingung Mengetahui Apakah Sudah Sembuh atau Belum!

Ilustrasi pemakaman protokol covid-19. Foto/PMI

KARANGANYAR, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kasus temuan 6 warga positif covid-19 dan satu orang sampai meninggal dunia di Desa Wukir Sawit, Kecamatan Jatiyoso, Karanganyar menguak fakta miris.

Hasil penelusuran JOGLOSEMARNEWS.COM , para warga yang positif pun mengaku sama sekali tak mendapat penanganan dan perlakuan dari instansi kesehatan pemerintah setempat.

Dua dari 6 orang yang positif itu, salah satunya Meidita Trijaya (16) warga Dusun Norito, Desa Wukir Sawit, Jatiyoso.

Kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , ia menuturkan untuk swab saja terpaksa dirinya harus bayar dengan uang sendiri sekitar Rp 260 ribu di Puskesmas Tawangmangu.

Padahal harusnya ia ditangani Puskesmas Jatiyoso. Atas kasusnya, puskesmas juga tidak tahu sama sekali jika ada warganya yang reaktif hingga berlanjut positif covid.

Baca Juga :  Tukang Parkir dan Massa Sebuah Perguruan Silat Berselisih, Wisata Cemoro Kandang Sempat Mencekam

“Iya saya terpaksa swab mandiri di Puskemas Tawangmangu. Bayar sendiri dan hasilnya dinyatakan positif covid dan saya isolasi mandiri di rumah sudah 3 minggu ini,” tandasnya Sabtu (16/01/2021).

Ironisnya, hingga Sabtu (16/01/2021), Meidita Trijaya belum swab lagi guna mengetahui hasil isolasi apakah sudah sembuh atau belum. Sebab Puskesmas Jatiyoso juga belum melakukan swab pada dirinya.

Dirinya juga tak kuat melakukan swab kedua di Tawangmangu karena tidak memiliki biaya.

“Ya gimana ya mau swab lagi kalau mandiri harus membayar, saya pilih dirumah saja,” ungkapnya.

Kini Meidita pasrah apa yang terjadi yang jelas dia hanya berusaha secara alami apa adanya isolasi mandiri dirumah tanpa pengobatan.

Baca Juga :  Kasus Dugaan RSUD Covid-kan Pasien, Polres Karanganyar Segera Panggil Saksi-saksi

Terpisah, Camat Jatiyoso, Kusbiyantoro membenarkan adanya satu warga yang meninggal positif covid. Namun pihaknya menampik jika dianggap lambat merespon laporan warga.

“Masalahnya warga disini pada takut kalau dirapid apalagi diswab sehingga pemdes kesulitan mendeteksinya. Sebenarnya gerak pemdes camat dan.puskesmas juga cepat melakukan tracking akan tetapi warga takut jika sudah mendengar akan dirapid,” ujarnya.

“Inilah yang menjadi kendala namun diluar terjadi opini seolah lambat padahal jelas tidak seperti itu,” ungkapnya.

Kusbiyantoro mengungkapkan soal bantuan juga sudah diberikan, juga tracking. Jika hanya soal selisih waktu sehari itu biasa.

“Kami juga memberikan bantuan jadi nggak benar kalau dikatakan tidak ada penanganan dan terlambat,” lanjutnya. Beni Indra