JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Firasat dan Mimpi Terakhir Ibu 5 Anak Asal Sragen Sebelum Tewas Digasak Bus PO Haryanto. Sempat Pamit dan Mendadak Ciumi Neneknya, Bercita-Cita Buatkan Kamar untuk Anak-Anaknya Biar Tidurnya Tak Ngumpul

Putri sulung almarhumah, Nita Wulantari dan adiknya saat diwawancara Joglosemarnews.com. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Kecelakaan maut yang merenggut nyawa Sutarti (49) warga Dukuh Taraman RT 12/4, Desa Taraman, Sidoharjo, Sragen digasak Bus PO Haryanto di Kebakkramat, Karanganyar, Minggu (21/3/2021) petang menyisakan cerita pilu.

Kepergian ibu lima anak itu meninggalkan duka mendalam bagi anak-anaknya yang masih kecil. Sebab selama belasan tahun ditinggal suami, wanita paruh baya itu rela berjuang sendirian membesarkan dan membiayai anak-anaknya.

Anak sulung korban, Nita Wulantari (23) mengaku sangat kehilangan. Sebab ibunya adalah tulang punggung keluarga dan perempuan yang sangat tangguh di mata anak-anaknya.

Beliau ditinggal bapak sudah lama, kerja sendiri nggak ada yang bantu Mas. Direwangi nibo nangi demi bisa nguripi adik-adik. Kesel pun ndak diketok-ketokne Mas (capek pun ndak pernah diperlihatkan),” ujar Nita sembari menitikkan air mata ditemui JOGLOSEMARNEWS.COM di rumahnya, Kamis (25/3/2021).

Nita yang sudah menikah dan masih tinggal serumah dengan ibu dan adik-adiknya itu menuturkan setiap hari, ibunya bekerja keras seolah tanpa ada waktu istirahat.

Baca Juga :  Berikut Daftar Lengkap 12 Korban Tewas dan Luka-Luka Kecelakaan Maut Elf Terseret Fuso di Tol Bawen!

Sejak pagi sudah memasak air untuk mandi nenek, mencuci pakaian semua anaknya, hingga menyiapkan jualan es di rumah.

Selesai itu, kemudian jam 09.00 WIB, ibunya berangkat untuk mencari sisa-sisa gabah di sawah yang sedang panen. Rutinitas itu dilakoni hampir setiap hari.

“Hampir ndak ada lerene Mas. Berangkat pagi nanti pulang sampai rumah malam. Karena nyari gabahnya sampai luar Sragen, Karanganyar juga. Kadang sampai rumah jam 21.00 WIB malam,” tutur Nita.

Melihat kondisi ibunya, sebenarnya dirinya tak tega. Ia pernah meminta agar ibunya bekerja di rumah saja biar dirinya merantau untuk membantu membiayai keluarga.

Ia juga sempat meminta agar tak perku mencari gabah sampai luar daerah yang jauh. Namun ibunya selalu menolak dan tetap ngasak untuk keluarga.

Semua itu karena ibunya menyadari bahwa tidak punya sawah sehingga mencari gabah adalah satu-satunya cara untuk mencukupi kebutuhan pangan dan biaya hidup keluarga.

Make itu kalo lihat ada panen, jiwanya ndak bisa diam di rumah. Pinginnya ya ngasak. Karena ingat kalau anaknya di rumah, anak yang di pondok itu butuh beras dan biaya banyak,” urai Nita.

Baca Juga :  Kapolda Jabar Menangis Minta Maaf di Depan Ibu Cantik yang Putrinya Diperkosa Oknum Polisi

Ia menceritakan selama ini, ibunya ngasak dengan sarana sepeda motor butut. Gabah hasil ngasak itulah yang dimakan sekeluarga dan sebagian dikirim untuk dua anak yang mondok di Ponpes Walikukun Ngawi.

Nita juga menyebut ibunya juga sosok yang sangat penyayang. Setiap sepekan sekali, almarhumah selalu menyempatkan menengok anaknya yang ada di pondok dengan membawakan beras dan mengirim uang.

“Setiap adik yang di pondok telpun, make langsung ke sana naik sepeda motor sendirian. Ya bawa beras, gula dan uang saku. Dua hari sebelum kejadian itu, make juga sempat nengok adik di pondok karena di sana ada haul pengajian. Katanya sambil nengok kangen anak yang nomer 4,” ulasnya.

Tak hanya perjuangan mencari nafkah, Nita juga melihat ibunya sebagai sosok yang mengayomi. Ketika dirinya terkadang teringat dan menanyakan sosok bapaknya, ibunya selalu memberikan penguatan.

Halaman selanjutnya »

Halaman :  1 2 Tampilkan semua
  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com