JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sukoharjo

Di Tengah Pandemi, di Warungnya Asih Masih Setia Menanti Pembeli

Asih di warungnya yang sepi pembeli karena terdampak pandemi Covid-19 / Foto: Bagas Prakasa

SOLO JOGLOSEMARNEWS.COM Demi mengais rezeki, Asih(42) dan suaminya harus setia menunggui warung makan yang menjadi gantungan hidupnya.

Setiap malam, ia bahkan rela tidur dengan suaminya di ruangan kios yang sempit.  Semuanya itu dilakukannya karena tak ada lagi tempat baginya.

Asih berkisah, rumahnya di Boyolali sudah lama dijual, lalu hasilnya digunakan untuk modal usaha dan mengontrak kios. Kios itu digunakan untuk berjualan sekaligus tempat tinggal mereka.

Sementara anak-anak mereka sudah dewasa dan berkeluarga. Begitulah, maka rutinitas Asih setiap hari ya menunggui warung makan yang menjadi gantungan hidupnya.

Setiap hari ia sudah harus membuka warungnya dari pukul 07.00 WIB sampai nanti pukul 18.00 WIB baru tutup.

“Kalau buka jam tujuh, berarti saya harus mulai masak dari jam empat pagi. Nanti habis warung tutup, badan sudah capai, ya sudah langsung tidur,” ujarnya kepada Joglosemarnews.

Asih membuka warung makan di Jalan Tanuragan 2, Kartasura, Surakarta. Lokasinya di dekat kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Baca Juga :  Warga Sukoharjo yang Meninggal Tambah 2 Orang Lagi, Seperti ini Sebaran Kasus Aktif dan Kematian di 12 Kecamatan

Para mahasiswa kampus itulah yang selama ini menjadi rezeki bagi Asih dan kelurganya. Namun, kerja keras yang dilakoni Asih, termasuk harus tidur di warung, tidak terlalu sia-sia, karena omzet dia dari warung itu rata-rata mencapai Rp 800.000 per harinya.

“Kalau untung bersihnya per hari ya sekitar lima ratus ribu,” ujarnya.

Ia mengakui, warung itu bukanlah miliknya. Ia hanya menyewa pada seseorang, yang tagihannya mencapai Rp 10 juta per tahun. Dengan demikian, per bulannya Asih harus mengumpulkan rezeki Rp 800-an ribu agar bisa membayar kontrakan rumah tersebut.

Namun dengan pendapatan rata-rata Rp 500.000 per harinya, Asih sebenarnya tak merasa terbebani untuk membayar uang kontrakan. Bahkan keuntungan dari jualannya tersebut masih bisa digunakan untuk menghidupi keluarganya.

Baca Juga :  Mengingatkan Slur Jumlah Kasus Aktif COVID-19 di Sukoharjo Masih di Angka Segini Loh, Tetap Jangan Kendor Prokesnya Yah

“Tapi itu dulu, Mas. Sebelum pandemi Covid-19 merebak. Saat pandemi seperti ini, pendapatan saya jauh merosot,” ujar Asih dengan senyu kecut.

Asih memang masih mampu bernafas dengan penghasilan dengan membuka warung makan, meski tidak sebaik dulu.

Paling tidak, ia masih punya penghasilan dari warungnya sekitar Rp 300.000 per harinya. Tapi kalau lagi jeblok, ia hanya mampu mendapat keuntungan Rp 150.000 saja.

“Sejak saya menempati kios ini tiga tahun lalu, baru kali ini mendapat cobaan seberat ini,” ujarnya.

Semenjak pandemi Covid-19 melanda, mahasiswa yang biasanya menjadi sumber rezeki bagi Asih,  kini tak ada lagi  seiring dengan kebijakan kuliah daring.

Dampaknya, warung Asih dan warung-warung lain di sekitarnya menjadi sepi pembeli.  Bagas Prakasa