JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Ngotot Beri Dukungan, Anggota DPR Sebut Vaksin Nusantara Muncul untuk Jawab Keinginan Jokowi

Ilustrasi obat Covid-19.

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Keberadaan vaksin Nusantara masih menjadi polemik sampai sekarang, antara yang pro dan kontra.

Dalam diskusi Polemik Trijaya, Sabtu (17/4/2021), Wakil Ketua Komisi Kesehatan DPR, Emanuel Melkiades Laka Lena mengatakan, vaksin Nusantara muncul untuk menerjemahkan keinginan Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar vaksin Covid-19 tidak hanya untuk kelompok masyarakat tertentu.

“Peneliti kan tertantang mencoba cari tahu pakai format apa bisa menjawab keinginan mulia Presiden ini untuk coba membuat vaksin yang bisa menjawab kebutuhan dari banyak rakyat Indonesia,” katanya.

Dia mengatakan, vaksin Covid-19 yang ada saat ini tidak bisa digunakan untuk seluruh masyarakat. Vaksin hanya bisa diberikan pada usia 19-50 tahun dan tidak memiliki penyakit penyerta atau komorbid.

Baca Juga :  Suplai Vaksin Covid-19 Kembali Normal, Menkes Genjot Lagi Vaksinasi Satu Juta Dosis Per Juni

Sehingga kemudian, muncullah vaksin Nusantara yang menggunakan metode sel dendritik.

“Proses ini bergerak tanpa ada banyak orang tahu,” ujar politikus Golkar tersebut.

Vaksin Nusantara digagas mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. Vaksin ini dikembangkan menggunakan metode berbasis sel dendritik autolog yang diklaim menjadi yang pertama di dunia untuk Covid-19.

Selama ini, teknologi sel dendritik masih dilakukan untuk pengobatan kanker melalui teknik rekombinan dengan mengambil sel, lalu dikembangkan di luar tubuh, sehingga dengan teknik tersebut dapat dihasilkan vaksin.

Baca Juga :  Anggota Ormas Diingatkan untuk Tidak Paksa Minta THR kepada Masyarakat

Dalam dunia kedokteran, sel dendritik merupakan sel imun yang menjadi bagian dari sistem imun, di mana proses pengembangbiakan vaksin Covid-19 dengan sel dendritik akan terbentuk antigen khusus, kemudian membentuk antibodi.

Prosesnya diawali dengan mengambil darah pasien. Kemudian diambil sel darah putih dan sel dendritiknya.

Sel ini kemudian dikenalkan dengan rekombinan dari SARS-CoV-2. Prosesnya dapat ditunggu sekitar tiga hari sampai seminggu, lalu disuntikkan kembali ke dalam tubuh.

www.tempo.co