JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Polemik Vaksin Nusantara Ingatkan Kontroversi Metode Cuci Otak Besutan eks Menkes Terawan

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menghadiri acara Presidential Lecture Internalisasi dan Pembumian Pancasila di Istana Negara, Jakarta, Selasa (3/12/2019) / tempo.co

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS – Polemik mengenai vaksin Nusantara yang hingga sekarang belum reda, menjadikan nama mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mencuat ke permukaan.

Polemik vaksin Covid-19 hasil besutannya itu pun mengingatkan hasil penelitian sebelumnya yang juga menuai kontroversi, yakni tentang metode cuci otak, yang secara metodologi penelitian dipertanyakan.

Dari laporan Majalah Tempo edisi Senin 2 Desember 2019, disertasi Terawan tentang metode cuci otak, juga menjadi kontroversi.

Sejumlah dokter menganggap disertasi yang juga membahas intra-arterial heparin flushing (IAHF) alias ‘cuci otak’ itu tak memenuhi syarat klinis sebagai metode penyembuhan stroke.

Dalam disertasinya, eks Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto itu menyebutkan metode cuci otak itu hasil
modifikasi terhadap digital substraction angiography (DSA) serta penggunaan heparin.

Dia mengklaim metode itu bisa langsung dipakai pada manusia tanpa melakukan uji klinis, yang umumnya dilakukan pada binatang.

Baca Juga :  Pembatalan SKB 3 Menteri Soal Seragam Sekolah Dinilai Sebuah Kemunduran

“Ya, tidak perlu karena risetnya sudah ada,” kata Terawan dikutip dari Majalah Tempo edisi Senin, 2 Desember 2019.

Alasannya, DSA dan penggunaan heparin telah lazim diterapkan pada manusia.

Disertasi berjudul “Efek Intra Arterial Heparin Flushing terhadap Cerebral Flood Flow, Motor Evoked Potensials, dan Fungsi Motorik pada Pasien Iskemik” yang diuji pada 8 Mei 2016 di Universitas Hasanuddin, Makassar itu mendapat predikat “sangat memuaskan”.

Meski begitu, sejumlah kalangan dokter mempertanyakan metode penelitian Terawan. Dia menyimpulkan ‘cuci otak’ terbukti memberikan perbaikan untuk penderita stroke iskemik berdasarkan penelitian pendahuluan pada 2011-2014 di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta.

Persoalannya, kata sejumlah dokter yang ditemui Tempo, penelitian selama periode itu dianggap dilakukan tanpa information consent (lembar persetujuan) dari obyek yang diteliti.

Terawan menampik tudingan ini. Ia mengaku telah menjelaskan segala macam prosedur kepada pasiennya. Terawan juga menyatakan telah memperoleh persetujuan etis (ethical clearance) dan bioetik dari kampusnya sebelum menggelar riset.

Baca Juga :  Menko Airlangga Ajak Masyarakat Berdoa Agar Ekonomi Segera Bangkit

“Kalau orang lain memandang itu berbeda, mosok aku ngeyel. Ya, sudah, telan saja pendapatmu,” kata Terawan saat itu.

Hal nyaris serupa juga terjadi pada proyek pengerjaan Vaksin Nusantara ini. Dokumen hasil pemeriksaan tim BPOM yang salinannya diperoleh Majalah Tempo, menunjukkan berbagai kejanggalan penelitian vaksin.

Misalnya tidak ada validasi dan standardisasi terhadap metode pengujian. Hasil penelitian pun berbeda-beda, dengan alat ukur yang tak sama.

Selain itu, produk vaksin Nusantara tidak dibuat dalam kondisi steril. Catatan lain adalah antigen yang digunakan dalam penelitian tidak terjamin steril dan hanya boleh digunakan untuk riset laboratorium, bukan untuk manusia.

“BPOM menyatakan hasil penelitian tidak dapat diterima validitasnya,” tertulis dalam dokumen tersebut.

www.tempo.co