JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Balada Harga Kedelai Impor di Sragen Mencekik, Dewi Sampai Memohon dan Nyembah-nyembah: Pemerintah Tolong Sekali Turunkan Harga Kedelai!

Perajin tahu asal Teguhan, Dewi saat menyampaikan aspirasi mahalnya harga kedelai dan memohon pemerintah mencari solusi menurunkan harga. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Mahalnya harga kedelai impor di Sragen yang menembus angka Rp 11.000 perkilo benar-benar menjadi mimpi buruk bagi perajin tahu dan tempe.

Melambungnya harga yang meroket di atas Rp 10.000, membuat puluhan perajin tahu di Kampung Teguhan, Sragen bahkan terpaksa harus berhenti beroperasi.

Membengkaknya biaya produksi akibat kenaikan harga yang mencekik, tak bisa lagi tertutup meski harga tahu sudah dinaikkan dan ukuran dikurangi. Sehingga tak ada pilihan lain kecuali berhenti produksi meski itu pilihan yang sangat sulit.

Cerita pahit mahalnya kedelai impor diungkapkan salah satu perajin tahu Teguhan, Dewi.

Baca Juga :  Terungkap, 3 Kios Mewah di Pungkruk Sragen yang Disegel Ternyata Milik Pengusaha Batik

Saat menyampaikan aspirasi ke hadapan perwakilan Dinas Perdagangan, ia mengaku saat ini perajin tahu benar-benar tercekik harga kedelai impor.

Ia pun meminta pemerintah bisa menurunkan harga kedelai kembali di angka Rp 6.000 sampai Rp 7.000 seperti dulu. Dengan harga kedelai sudah di atas Rp 10.000 perajin tidak bisa lagi memproduksi.

“Tolong sekali, kami memohon sekali pemerintah bisa menurunkan harga kedelai impor. Agar pelaku usaha bisa produksi lagi Pak,” paparnya.

Tuntutan itu disampaikan saat digelar pertemuan antara paguyuban perajin tahu Kampung Teguhan dengan perwakilan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sragen di Kampung Teguhan, Jumat (28/5/2021).

Baca Juga :  Batal Dipulangkan ke Sragen, Jenazah Aipda Joko Akhirnya Diputuskan Dimakamkan di Depok. Orangtua Sudah Ikhlas

Salah satu perajin tahu, Hadi Widodo mengatakan semua perajin tahu di Teguhan mengeluh akibat mahalnya harga kedelai impor yang menjadi bahan baku.

Karena harga makin melambung dan tak bisa menutup biaya produksi, perajin akhirnya sepakat mogok produksi sejak dua hari lalu. Upaya menekan kerugian dengan menaikkan harga dan mengurangi ukuran tahu, tak lagi bisa menutup biaya.

Sebab harga kedelai semakin terus melambung. Selain berharap perhatian pemerintah, aksi mogok dilakukan untuk memberikan pemahaman ke konsumen bahwa saat ini perajin benar-benar tak berdaya akibat mahalnya kedelai.

Halaman selanjutnya »

Halaman :  1 2 Tampilkan semua
  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com