JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sukoharjo

Demi Menghidupi Keluarga, Daryono Merantau dan Jualan Kerupuk Opak Sampai Tengah Malam

Daryono berjualan kerupuk opak sampai tengah malam demi menghidupi keluarganya di Blora / Foto: Amirul Indra Buana Akbar

SUKOHARJO, JOGLOSEMARNEWS.COM Selepas dari buruh pabrik dua tahun silam, Daryono (31), warga asal Cepu, Kecamatan Blora, Jawa Tengah ini ibarat tinggal di jalanan.

Dari pagi sekitar jam 10.00 WIB hingga tengah malam, ia selalu berkeliling jalan kaki sembari menawarkan kerupuk opak yang dibawanya dengan pikulan.

Daryono memiliki area jualan di kawasan kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Jalan Ahmad Yani, Mendungan, Pabelan, Kartasura, Sukoharjo maupun di pemukiman warga.

“Awalnya saya cuma ditawari teman untuk juaan kerupuk opak ini. Tak tahunya, ini menjadi jalan rezeki saya,” ujarnya ketika bincang-bincang dengan Joglosemarnews.

Di Kartasura, Daryono terbilang seorang perantau. Istri dan anaknya yang sebentar lagi akan masuk SD, ditinggalkannya di tempat asal, Blora.

Baca Juga :  Lebaran Tinggal Menghitung Hari Kasus Kematian Gegara COVID-19 di Sukoharjo Terus Melonjak, Terkini Ada Tambahan 2 Warga Meninggal

Karena hanya sendirian, bagi Daryono tidak masalah untuk tempat tinggal di Kartasura. Selama ini ia  cukup tinggal di balai desa Bendungan. Toh keperluannya hanya untuk tidur dan mandi saja.

Seminggu sekali di hari Minggu, ia pulang ke Blora untuk melepas kangen dengan keluarganya, sekaligus memberikan keuntungan hasil  jualan kerupuk opak. Bagi Daryono, hasil jerih payahnya tersebut sangat berarti untuk menghidupi keluarganya serta keperluan pendidikan anaknya.

Baca Juga :  ASN Jangan Nekat Mudik! Ini Hukuman yang Diberikan Jika Sampai Melanggar

Rezeki yang diberikan untuk keluarganya juga tidak menentu jumlahnya. Namanya jualan, kisah Daryono, tidak bisa dipastikan. Kadang laris, kadang juga surut dan bahkan apes.

Namun seapes-apesnya jualan kerupuk opak,  Daryono masih  mendapatkan keuntungan Rp 100.000  per hari. Sementara kalau lagi-ramai-ramainya, ia bisa mengantongi Rp 400.000.

Akan tetapi, belakangan, sejak pandemi Covid-19 melanda, penjualan kerupuk opak yang dilakoni Daryono menurun drastis.

“Wah kalau selama pandemi Covid-19   ini lumayan sepi pembeli, Mas. Nggak tahu kenapa, mungkin orang-orang pada takut keluar rumah?“ tuturnya.  Amirul Indra Buana Akbar