JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Mengenal Sosok Sarwito, Ustadz Asal Grobogan yang Terkenal Usai Rintis Usaha Warung Apung di WKO Sragen. Tergerak Buka Warung Usai Ditangisi Warga, Berharap Bisa Berdayakan Ekonomi Sambil Syiar Agama (Bagian 3)

Ustadz Sarwito dan sang istri. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Tak hanya sosoknya yang dikenal bersahaja, Ustadz Abdul Rohman Sarwito juga dikenal dengan jiwa kepeduliannya.

Meski secara ekonomi sudah mapan sebagai pemborong proyek konstruksi PT Waskita, nalurinya untuk membuka warung itu muncul ketika bertandang ke Boyolayar dan banyak mendapat curhat warga sekitar.

Sarwito pun menceritakan kehidupannya memang sedikit banyak memiliki benang merah sejarah pembangunan WKO.

Ia menceritakan dulunya bapaknya memiliki 7 hektare lahan di Dusun Gilis dan kemudian harus merelakan semua lahan itu digusur untuk dibangun WKO.

Sebagai anak tepi waduk, ia juga punya hobi memancing dan wilayah Boyolayar Sumberlawang menjadi tempat favoritnya. Dari hobinya itu membuatnya banyak berinteraksi dan mengenal warga sekitar Boyolayar.

Hingga sekitar empat bulan lalu, beberapa warga dan tokoh di sekitar Boyolayar mendadak menyampaikan curhat kepadanya.

Mereka mengeluhkan sepinya lokasi itu semenjak tutupnya satu-satunya warung apung di wilayah Boyolayar. Sejak tutupnya warung, parkiran menjadi sepi dan tidak ada lagi pemasukan ke desa.

IMG 20210417 WA0026
Ustadz Sarwito dan sang istri. Foto/Wardoyo

Termasuk yang paling menyentuh ketika ada pasangan suami istri penyandang disabilitas asal Boyolayar, Mas Di dan Mbak Mar yang harus kehilangan pekerjaan setelah tutupnya warung di lokasi situ.

“Mas Di itu sebelumnya kerja mbakar ikan di warung apung. Nah setelah warung itu tutup dia datang ke saya sambil nangis dan bilang nggak ada kerjaan lagi. Dari situlah hati saya terketuk. Ditambah dukungan tokoh-tokoh agar saya buka warung untuk menghidupkan ekonomi warga, akhirnya Bismillah saya rintis warung apung ini,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Minggu (2/5/2021).

Dengan dukungan warga dan Pemdes, Sarwito kemudian memberanikan merintis warung apung dan diberi nama Warung Apung Jatisongo A & A. Nama itu diambil dari huruf depan kedua anaknya.

Baca Juga :  Cek Exit Tol Pungkruk Sragen, Kapolda Jateng Sebut Sudah 7.000 Lebih Kendaraan Dihentikan dan Diperiksa. Kesiagaan Personel Diminta Ditingkatkan!

Menurutnya motivasi utama mendirikan warung itu memang lebih karena spontanitas untuk menolong warga sekitar.

IMG 20210417 WA0019
Pengunjung menyantap menu lobster dan ikan bakar madu. Foto/Wardoyo

Selain itu, ia berharap dari usaha warung itu bisa menjadi ladang amal dan ajang untuk bersyiar agama kepada masyarakat maupun pengunjung.

Makanya, harga menu yang dipatok juga sangat terjangkau dan jauh di bawah harga warung apung lainnya. Untuk menu ikan bakar madu andalan, hanya dibanderol Rp 50.000 perkilo saja.

Sedangkan lobster asam manis yang menjadi menu khas, juga dibanderol sangat ramah kocek.

“Karena niatan kami nggak nyari untung besar. Yang penting bisa lancar, bisa memberi pekerjaan ke warga dan bisa membayar tenaga mereka itu saja. Kemudian dari warung ini, harapannya bisa membawa dampak keberkahan menggerakkan roda ekonomi warga. Sekarang parkiran jadi ramai lagi, pengunjung yang mau mancing juga makin ramai. Jadi sekalian menggerakkan ekonomi warga sambil syiar agama,” tutur pengusaha sekaligus ustadz yang dikenal dengan penampilan sederhana itu.

Berdayakan Ekonomi

Usaha warung apung itu rupanya juga mendapat dukungan penuh dari sang istri, Tuti Widji. Tuti mengaku sangat mendukung usaha warung apung yang dirintis suaminya itu.

Menurutnya usaha warung itu bukan semata-mata profit oriented atau untuk keuntungan. Tapi sisi kemaslahatan umum dan membantu masyarakat sekitar justru menjadi motivasi utamanya.

“Mudah-mudahan dari warung ini bisa membawa berkah bagi masyarakat semua. Untuk menu resepnya dari saya sendiri. Kebetulan dari dulu hobi masak dan banyak saudara yang bilang enak, akhirnya kami pilih jadi menu di sini,” tuturnya.

IMG 20210417 WA0014
Pengunjung warung Apung A & A Jatisongo menyantap menu ikan nila asam manis. Foto/Wardoyo

Tuti menuturkan warung apungnya buka dari jam 06.00 hingga 18.00 WIB. Selain menyediakan tempat ibadah, warung apungnya saat ini juga akan dilengkapi dengan kamar untuk fasilitas bagi pemancing yang ingin menginap.

Baca Juga :  Berbagi di Bulan Suci, Yayasan Pendopo Wiryo Soemarto Sragen Kembali Bagi-Bagi Ratusan Paket Sembako ke Kaum Dhuafa dan Yatim Piatu di 6 Kampung

“Selain rasa khas dan harga yang terjangkau, semua menu di sini dimasak dari bahan yang segar. Ikan juga segar langsung dari karamba, sehingga citarasanya benar-benar terjaga Mas,” pungkasnya.

Sejumlah pengunjung yang kebetulan sedang singgah di warung itu mengaku sangat terkesan dengan menu yang ada di warung apung Jatisongo A & A.

Khoiri, salah satu pengunjung asal Gading Tanon menyebut masakan ikan bakar dan lobster asam manisnya sangat lezat.

“Rasanya nendang dan sambalnya juga mantap. Beda dari ikan bakar dan lobster warung lain. Pokoknya mantap dah, apalagi harganya juga miring. Ini tadi saya makan ikan bakar madu dan lobster asam manis,” ujarnya yang singgah bersama istrinya.

Sementara, tiga pengunjung asal Grobogan dan Sumberlawang yang singgah, juga mengakui kelezatan menu di Warung Apung Jatisongo Pak Ustadz.

Puput Akhir Yulianto (23), warga Desa Ledokdawan, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan yang memesan ikan bakar nila saus madu mengakui menu di warung Apung Jatisongo sangat khas dan istimewa.

“Rasanya mantap, bumbunya merasuk sampai dalam. Ditambah sambalnya ini mantap. Pokoknya rasanya mantap, masuk banget buat kita-kita yang jauh jauh datang kesini tidak rugi,” katanya puas.

Puput bahkan merekomendasi warung itu juga nyaman. Sehingga cocok untuk acara keluarga atau bisa ajak teman. Selain tempatnya bersih, juga dilengkapi fasilitas musala, toilet bersih dan karaoke juga ada.

“Tadi saya ambil menu ikan nila saus madu. Pokoknya nggak rugi datang kesini recomended banget nih buat kalian semua,” katanya diamini dua rekannya, Candra Setyawan (21) dan Fajar Christianto (23) asal Sumberlawang, Sragen. (Wardoyo/Habis)