JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Wonogiri

Amit-amit, Begini Dampak Tsunami 29 Meter di Laut Selatan Bagi Kabupaten Wonogiri

Pantai Nampu Paranggupito Wonogiri. Foto diambil sebelum PSBB. JSNews. Aris Arianto
PPDB
PPDB
PPDB

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM
Belakangan ramai diperbincangkan potensi terjadinya tsunami di pantai selatan khususnya wilayah Jatim.
Badan Meteorologi Klimatologi Dan Geofisika (BMKG) menyebutkan potensi tsunami hingga 29 meter yang dipicu gempa bumi.

Kendati tidak ada yang berharap tsunami terjadi, namun semua pihak mesti ambil langkah strategis. Termasuk Kabupaten Wonogiri, mengingat kabupaten ini berbatasan langsung dengan Jatim. Selain itu daerah terluas kedua di Jateng ini juga bersinggungan langsung dengan laut selatan.

Menurut Kepala Pelaksana BPBD Wonogiri, Bambang Haryanto, Sabtu (5/6/2021), warga Wonogiri, khususnya di daerah pesisir selatan, perlu meningkatkan kewaspadaan seiring adanya peringatan potensi gempa dan tsunami dari BMKG di selatan pantai Jatim. Menurut Bambang, yang harus diwaspadai dan dicermati tidak hanya potensi Tsunami, namun juga dampak gempa yang ditimbulkan.

Di Wonogiri jarak antar pemukiman relatif lebih jauh. Dengan demikian yang menjadi perhatian tidak hanya pemukiman, tapi termasuk nelayan, petani di sekitar pantai, dan pedagang di pesisir.

Pihaknya menyebutkan
tim dari Stasiun BMKG Semarang memberikan peta rawan tsunami level kecamatan. Peta itu menjelaskan risiko ketinggian air, arah tsunami, dan lain sebagainya. Selain itu, memperkenalkan aplikasi Sirens For Rapid Information On Tsunami Alert (Sirita). Ini adalah aplikasi berbasis Android yang dapat diunduh melalui Playstore sebagai sarana peringatan dini tsunami yang bisa diterapkan di Wonogiri

“Kami akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk mengunduh aplikasi itu. Itu untuk mengakses Tsunami. Dengan adanya peringatan dini, masyarakat bisa meningkatkan kewaspadaan,” beber dia.

Beberapa waktu lalu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati berkunjung ke Wonogiri. Dwikorita mengatakan, resiko dan dampak jika terjadi tsunami di Wonogiri cenderung rendah dibanding daerah lain. Pasalnya Wonogiri memiliki keuntungan secara topografis.

Topografi Wonogiri berupa tebing karang yang cukup tinggi yang menjadi pembatas garis pantai. Sedangkan Pacitan misalnya cenderung datar atau landai.

Bahkan pantai di Pacitan itu topografinya seperti mangkuk. Ketika air tsunami sudah masuk pantai, kembali ke laut sulit. Air terjerat atau terjebak di situ, jadi sulit keluar. Sehingga mengakibatkan dampak rendaman tsunami yang tinggi.

“Tapi, yang harus diwaspadai adalah seberapa kuatnya tebing-tebing di atas pantai mampu menahan guncangan gempa. Oleh sebeb itu, kita mendorong pemerintah daerah untuk segera melakukan mitigasi,” ujar dia.

Terkait potensi tsunami, kata dia, itu bukanlah prediksi atau ramalan melainkan sebuah kajian. Kajian dimaksud adalah untuk dijadikan acuan dalam membuat skenario mitigasi bencana.

“Masyarakat tidak boleh berpangku tangan atau diam saja. Namun, diminta untuk terus berlatif evakuasi mandiri dan meningkatkan kemampuan mitigasi,” tegas dia. Aris