JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Wonogiri

Inspiratif, Kisah Jarot Luqman Hakim Difabel Penemu 7 Sumber Air di Daerah Kekeringan Wonogiri Pakai Alat Sederhana. Belajar Otodidak dan Hampir Soal Elektronik Hingga Beli Motor dan Niat Bangun Rumah Dari Keringat Sendiri

Tangkapan layar video aksi Jarot Luqman Hakim saat mencari keberadaan sumber air dengan peralatan sederhana yang dibuatnya sendiri. Istimewa
PPDB
PPDB
PPDB

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Sepak terjang seorang Jarot Luqman Hakim (23) ini layak diapresiasi dan menjadi inspirasi. Pasalnya dengan keterbatasan mampu menghasilkan hal yang bermanfaat, tidak hanya bagi diri sendiri namun juga untuk orang banyak.

Jarot yang seorang difabel, mampu menciptakan alat sederhana untuk mendeteksi keberadaan sumber air di Kecamatan Giritontro, Wonogiri. Untuk diketahui sejumlah wilayah Giritontro merupakan langganan kekeringan ketika kemarau melanda. Sehingga keberadaan air menjadi begitu vital.

Bukan hanya satu, tercatat sudah ada tujuh sumber air yang berhasil ditemukan berkat kepiawaian Jarot. Sumber air itu kini sudah diangkat dan dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar.

Jarot sejak kecil tidak bisa berkomunikasi layaknya orang normal. Dia memiliki keterbatasan sebagai tuna rungu/tuli. Hal itu diungkapkan oleh ayahanda Jarot yang juga Kades Tlogoharjo, Miyanto (55).

Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, kata Miyanto, ada bagian di otak Jarot yang terganggu. Hal itu membuat Jarot tidak bisa mendengar dan juga berkomunikasi selayaknya anak normal.

Dia ingat betul saat awal hal itu diketahui. Yakni, pada April 1998 lalu, saat Jarot masih berumur 35 hari mengalami step alias kejang.

Warga Dusun Purembe RT 1 RW 2 Desa Tlogoharjo Kecamatan Giritontro itu mengungkapkan, Jarot tumbuh sebagai anak yang kreatif. Anak kesayangannya itu ternyata menguasai keterampilan elektronik. Kemampuan itupun mendatangkan rezeki bagi dia sendiri dan juga masyarakat setempat.

Berkat bakatnya warga Desa Tlogoharjo yang sering kesulitan mendapatkan air bersih di musim kemarau terbantu. Dia mampu mencari sumber mata air bawah tanah berbekal alat sederhana yang dibuatnya sendiri.

“Dia bikin sendiri alat deteksi sumber mata air. Dipangkal alat yang dibikinnya itu ada logamnya,” kata Kades Tlogoharjo.

Berbekal alat sederhana itu, Jarot sudah berhasil menemukan tujuh sumber mata air di Tlogoharjo. Dari tujuh sumber yang terdeteksi itu kemudian dibor dan memang ditemukan mata air bawah tanah yang kini diangkat dan digunakan masyarakat.

Miyanto menuturkan, sang anak juga diajak Camat setempat untuk mendeteksi sumber mata air di Desa Bayemharjo. Hal ini dilakukan untuk mengentaskan masalah kekeringan di Kecamatan Giritontro.

Bahkan, Jarot juga bisa melakukan pengamatan air di dalam sumur bor menggunakan kamera sederhana. Kedalaman sumur pun bisa diketahuinya. Dia membuat sendiri kamera yang terhubung dengan layar monitor bertenaga aki.

Miyanto mengaku tidak mengetahui secara pasti darimana anaknya belajar berbagai keterampilan itu. Dia hanya menduga Jarot belajar secara autodidak.

Selain itu, Jarot juga bekerja sebagai petugas pemasang jaringan internet. Di 11 dusun yang ada di Desa Tlogoharjo, kini ada titik WiFi yang bisa dimanfaatkan pelajar untuk mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Miyanto mengaku bangga memiliki anak seperti Jarot yang mampu hidup mandiri. Bahkan, Jarot juga bisa menghidupi istrinya yang belum lama ini dinikahinya.

Camat Giritontro Fredy Sasono juga salut dan mengapresiasi Jarot. Menurut dia, Jarot adalah contoh difabel yang mandiri dan juga mampu menepis anggapan kaum difabel lemah dan membutuhkan uluran tangan dari dermawan maupun pemerintah.

“Sejak saya kenal, memang anaknya mandiri. Pengin motor tidak minta orangtuanya, beli sendiri. Ini malah mau bangun rumah pakai uang sendiri,” kata Camat. Aris