JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Menengok Perjuangan Relawan Pemakaman Jenazah Covid-19 di Sragen. Dari Bertahan di Tengah Guyuran Hujan Hingga Lewati Deretan Makam Tengah Malam yang Bikin Bulu Kuduk Merinding (Bag 2)

Relawan gabungan di bawah koordinasi PMI Sragen saat menjalankan tugas pemakaman pasien Covid-19 malam hari. Foto/Wardoyo


SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Mengabdikan diri menjadi Relawan Gabungan Penanganan Covid-19 yang bermarkas di PMI Kabupaten Sragen memang menuntut para anggota untuk mengorbankan banyak hal.

Tak hanya waktu dan tenaga, mereka yang sudah menahbiskan diri bergabung pun juga sudah ikhlas untuk tak berharap insentif atau upah apapun.

Tidak hanya itu, para relawan yang berasal dari berbagai unsur itu juga dituntut siaga 24 jam dengan beragam kisah perjuangan mengantar  pasien Covid-19 menuju peristirahatan terakhir.

Salah satunya relawan muda, Niko Armando Reza Prima Jaya (34). Relawan asal Desa Pelem Gadung, Karangmalang, Sragen itu bergabung menjadi relawan dengan latar belakang awal relawan PMI Sragen.

Advertisement

Kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , ia menyampaikan ia menjadi relawan gabungan untuk pemakaman Covid-19 sejak kali pertama komunitas itu dirintis awal Desember 2020.

Menurutnya, keinginan membantu masyarakat dan rasa kemanusiaan menjadi motivasi yang mendorongnya ikut bergabung.

“Karena dari awal, kami bergerak untuk membantu pemakaman secara protokol Covid-19 tanpa pamrih apapun, ya kami harus siap dengan segala risiko di lapangan. Dari awal kami semua sudah sepakat tidak meng-SPJ-kan atau mengadministrasikan biaya pemakaman. Walaupun itu sudah dianggarkan pemerintah, kami tidak mengambilnya,” paparnya Minggu (27/6/2021).

Niko Armando Reza. Foto/Wardoyo

Reza, sapaan akrabnya, menuturkan sebagai relawan PMI, dirinya sejak awal juga sudah dididik menjadi sukarelawan. Mengedepankan sikap ikhlas dan rela membantu kemanusiaan apapun bentuknya, menjadi sikap yang mutlak harus dimiliki.

Sejak awal pandemi, hingga kini ia mengaku sudah ikut memakamkan sekitar 200an pasien secara protokol covid-19 di berbagai wilayah Sragen.

Dari ratusan kali menjalankan misi kemanusiaan itu, Reza menyebut telah banyak memberinya pengalaman berharga. Salah satunya bisa menjalin koordinasi dan semangat kebersamaan yang kuat dengan sesama relawan dalam situasi apapun.

Baca Juga :  Gawat, 120 Bayi di Karanganyar Meninggal Dunia, Belasan di Antaranya Positif Terpapar Covid-19

Termasuk ketika menghadapi hambatan cuaca yang tidak bersahabat saat bertugas memakamkan jenazah Covid-19.

“Semangat kekompakan dan kebersamaan itu paling berkesan. Kadang kalau dapat tugas memakamkan malam hari, atau pas hujan itu menjadi kendala kami. Harus bertahan di tengah guyuran hujan dan kadang liang kubur kemasukan air juga. Tapi dengan koordinasi, semua bisa saling membantu sehingga sejauh ini semua tugas pemakaman bisa lancar tanpa hambatan,” jelasnya.

Ditanya suka dukanya, Reza mengaku lebih banyak sukanya dan hampir tak pernah merasakan duka. Meski tanpa imbalan, menurutnya semangat kebersamaan dan bisa membantu sesama sudah cukup memberinya kebahagiaan.

Namun ia tak menampik, memang ada pengalaman-pengalaman kecil yang terkadang harus dilewati.

Pemakaman Tengah Malam

Seperti perjuangan berat ketika mendapat paket ekstra atau jumbo (istilah untuk jenazah covid-19 berbobot besar), hak itu butuh perjuangan dan melibatkan banyak relawan.

Kemudian ketika mendapat tugas pemakaman malam hari, dirinya juga harus mempertebal adrenalin untuk mengusir hawa takut karena harus melewati banyak nisan atau makam lainnya.

“Kadang pas dapat tugas malam hari dan liang kuburnya berada di tengah makam, itu kita harus berjalan melewati banyak kijing atau makam makam yang tidak rata atau naik turun. Pas melewati banyak kijing tengah malam gitu, sesekali kadang juga merinding. Namanya juga manusia Mas. Tapi yang lebih ditakutkan lagi keselamatan teman-teman yang bertugas di lapangan. Makanya itulah pentingnya kebersamaan,” tukasnya.

Baca Juga :  Rekaman Lensa Serunya Duel Meet Para Petinju Sragen VS Ngawi Binaan Pertina. Mendebarkan!

Selain itu, kekhawatiran lain adalah risiko tertular Covid-19 mengingat yang dimakamkan mayoritas adalah pasien positif Covid-19.

Namun Reza memastikan dengan ketaatan dan selalu mematuhi prosedur protokol kesehatan, selama ini dirinya dan relawan lainnya bisa steril dari covid-19.

“Selain pakai APD, setelah pemakaman kita selalu melakukan sterilisasi dan penyemprotan disinfektan untuk petugas dan APD kita bakar. Semua alat- alat kita cuci, Insya Allah sampai saat ini semua aman dan steril,” tambahnya.

Ilustrasi perjuangan relawan gabungan pemakaman jenazah covid-19 dibawah PMI Sragen. Foto/Wardoyo

Sementara, Wakil Ketua PMI Sragen, Soewarno menyampaikan gabungan relawan covid-19 itu memang dibentuk dan bermarkas di PMI Sragen. Mereka terbentuk khusus untuk menangani pemakaman pasien covid-19.

Menurutnya yang membedakan dengan petugas pemakaman lainnya, bahwa keberadaan gabungan relawan itu murni untuk sosial tanpa pernah mengharap imbalan atau meminta insentif.

Meskipun untuk pemakaman pasien covid-19 sebenarnya ada anggaran dari pemerintah melalui DKK sebesar Rp 1,8 juta untuk setiap pemakaman.

“Inilah keistimewaan Relawan Gabungan itu. Mereka bekerja murni atas misi sosial dan tidak pernah menuntut SPJ alias gratis. Mereka bersatu karena punya semangat dan jiwa kerelawanan sehingga mengapa kemudian menamakan diri relawan gabungan,” terangnya.

Sejauh ini, gabungan relawan itu memiliki anggota sekitar 35 orang. Kelompok relawan ini bernaung di bawah PMI Sragen dengan KSR sebagai koordinatornya.

Kemudian PSC sebagai pusat sumber informasi, SAR MTA, SAR Himalawu, Tagana, MDMC, IOF, SAR UNS sebagai anggotanya.

Sementara sejak awal dibentuk Desember 2020 sampai Juni 2021 ini, tim relawan itu sudah memakamkan sedikitnya 274 jenazah pasien Covid-19 di berbagai wilayah Sragen. (Wardoyo/Bersambung)