JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Solo

Beratnya Bisnis Kost Mahasiswa di Solo di Tengah Terpaan Pandemi  Covid-19

Gang Sedodadi 2 Pucangsawit Jebres, Solo, tempat pemukiman kos-kosan ini biasanya ramai mahasiswi. Tapi selama pandemi, kondisinya lengang karena banyak ditinggalkan penghuninya / Foto: Inasya Salma Nabila


Institut Sains Teknologi Kra
Institut Sains Teknologi Kra
Institut Sains Teknologi Kra

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Sudah setahun lebih semenjak virus Covid-19 muncul di Indonesia, sampai hari ini belum terjadi pengurangan jumlah kasus. Setiap harinya, penambahan jumlah Covid-19 masih terjadi secara signifikan.

Dari sekian banyak dampak yang terjadi, salah satu yang dirasakan adalah di bidang bisnis. Ibu Tri, pemilik rumah kost di Gang Sedodadi 2 No. 12 Pucangsawit Jebres, Surakarta ini salah satu yang merasakan dampaknya.

Rumah kost yang dulu ramai, sudah setahun lebih ini terasa lengang, karena ditinggalkan penghuninya, lantaran kegiatan perkuliahan dialihkan lewat daring.

Rumah kost Ibu Tri terdiri dari dua lantai. Lantai bawah dan atas, masing-masing berisi empat kamar.

“Sekarang, dari delapan kamar, hanya terisi tiga kamar saja. Lima lainnya kosong,” ujar Ibu Tri kepada Joglosemarnews.

Sebenarnya, kalau dilihat dari lokasinya, rumah kost Ibu Tri lumayan strategis karena berada di dekat kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Dulu, kenang Ibu Tri, sebelum pandemi mendera rumah kost nya selalu ramai dihuni oleh mahasiswi. Rumah kost Ibu Tri termasuk yang favorit karena jaraknya hanya beberapa ratus meter dari kampus.

“Dulu selalu penuh. Baru sekarang ini, semenjak corona kamar di sini cuma diisi berapa orang aja,” ujar Tri yang ditemui Kamis siang (15/7/2021).

Dari yang masih tinggal itu, demikian Ibu Tri, adalah mahasiswi akhir atau yang memiliki kepentingan di kampus.

Baca Juga :  Polresta Solo Mulai Lakukan Vaksinasi Jemput Bola untuk Pedagang dan Pengunjung Pasar

“Dari yang masih tinggal, satu orang sedang mengerjakan skripsi. Ada mahasiswi Farmasi yang harus nge-lab di kampus, dan mahasiswi yang magang di dekat kampus,” ujarnya.

Kondisi tersebut, bagi Ibu Tri terasa memberatkan. Bagaimana tidak, karena bisnis rumah kost itu menjadi satu-satunya tulang punggung ekonomi keluarganya.

Ibu dari satu anak tersebut tidak memiliki usaha sampingan untuk hidup keluarganya. Tri mengaku bahwa selama ini ia membayar segala keperluan seperti membeli susu anak, membayar listrik, dan biaya sehari-hari menggunakan tabungan pribadinya karena masukan dari kost hampir tidak ada.

“Rasanya memang berat. Apalagi biaya untuk anak Rp 1.500.000 hanya cukup untuk membeli susu, belum untuk kebutuhan yang lainnya. Mau enggak mau harus memakai uang tabungan saya pribadi,” tuturnya.

Otomatis, penghidupan Ibu Tri hanya tergantung pada anak yang masih tersisa di kos. Kamar kos yang ada saat ini mendapat potongan dari harga aslinya. Semula, harga kos dibandrol dengan harga Rp 6.500.000 per tahun. Namun, karena situasi pandemi seperti sekarang ia memotong harga perkamar menjadi Rp 2.500.000 saja.

Demi meningkatkan pendapatan, saat ini Tri juga menerima kos per bulan. Tarif yang diberikan perbulan ialah Rp 700.000 untuk satu kamar.

“Ya lumayan kalau perbulan bisa buat nambah bayar susu dan yang lain,” jelasnya.

Baca Juga :  Gibran Sebut Kematian Akibat Covid-19 di Solo Karena Belum Divaksin dan Komorbid

Hal tersebut juga dirasakan oleh Enola pemilik kos Safir, yang letaknya tidak jauh dari kos Ibu Tri. Sejak setahun terakhir kos-kosan miliknya hanya berisi dua orang saja dari total delapan kamar.

“Ada anak teknik yang lagi skripsi jadi perlu praktikum, dan ada satu orang yang ikut kegiatan teater di kampus,” ujar Enola.

Namun, untungnya sang pemilik kos memiliki pekerjaan sampingan. Sehingga ia masih memiliki pemasukan selain sebagai pemilik kos.

“Iya, kos hanya sebagai pekerjaan sampingan saja, tambahnya”.

Tentunya pemilik rumah kost berharap agar pandemi Covid-19 segera berlalu, sehingga kegiatan belajar mengajar dapat kembali normal dan memiliki pemasukan yang berasal dari mahasiswa. Inasya Salma Nabila