JOGLOSEMARNEWS.COM KOLOM

Berkaca Pada Kasus Singapura, Hati – Hati Melonggarkan PPKM  di Tanah Air

Dengan mobil water canon, petugas menyemprotkan cairan desinfektan untuk mengusir Covid-19 di Solo. Foto: dok


Ilham Bintang. Foto: Republika

Catatan: Ilham Bintang*

DUA hari lagi batas waktu berakhirnya PPKM (Perberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) Darurat di Jawa dan Bali. Jika tak  ada aral melintang, mulai Senin (26/7) pemerintah akan berlakukan pelonggaran secara bertahap, kalau data kasus positif hari hari ini turun. Tapi, data terbaru update hari Kamis ( 22/7) kasus positif di Tanah Air malah melonjak  lagi.

Kasus Positif : 49.509. Yang wafat : 1.499 jiwa. Rekor kematian tertinggi dunia hari itu. Sehingga total kasus positif di Tanah Air sejak pandemi : 3.033.339. Sembuh: 2.392.923. Wafat : 79.032 jiwa. Memprihatinkan. Jangan ada lagi pihak yang mereduksi  fakta yang memprihatinkan dengan membandingkan kasus di AS atau India.

 

Advertisement

Mengganti PPKM

 

Koordinator PPKM Darurat Jawa -Bali, Luhut Binsar Panjaitan, kemarin mengumumkan mengganti nama PPKM Darurat menjadi PPKM Level 3 dan PPKM Level 4.  Seperti Ramen, yang punya level tingkat kepedasan sambelnya. Tidak dijelaskan alasan penggantian itu. Luhut, menyatakan itu perintah presiden.

Kabarnya ada kepala daerah yang mengusulkan PPKM Darurat Jawa -Bali (3-20 Juli) diganti karena terlalu menyeramkan. Rupanya mental kita belum siap hadapi kenyataan yang ada: memang mengerikan.

PPKM  Level 3 & 4 efektif baru berlaku 26 Juli. Tapi itu tergantung  naik atau  turun kasusnya. Kita hanya mau mengingatkan sekali lagi : hati-hati. Melonggarkan PPKM Darurat dengan judul apapun, harus dipertimbangkan masak-masak. Perhitungannya harus cermat. Itu pesan Presiden Jokowi juga.

Baca Juga :  Regulasi LHKPN yang Mandul

Belajarlah dari tetangga terdekat kita, Singapura. Baru satu hari memulai  pelonggaran 12 Juli,  di hari itu meledak kasus positif dari klaster tempat hiburan KTV. Menurut data Kementerian Kesehatan Singapura, dari 56 kasus  hari itu, 40 kasus bersumber dari KTV.

“Mula-mula memang, hanya 40, lima hari lalu. Tapi kemarin sudah 172 orang, ” kata Suryopratomo Dubes RI di Singapura yang saya konfirmasi  Rabu (21/7) lalu via WhatsApp.

Menurut Tommy, setelah kebijakan pengetatan (heightened alert) 16 Mei dan satu bulan pelaksanaan, kasusnya cenderung menurun, Pemerintah Singapura kembali melakukan pelonggaran. Restoran boleh dine-in dan bisa 5 orang makan di luar.

“Pada waktu heightened alert, semua kegiatan dine-in dan olahraga di dalam ruangan dilarang,” sambung dubes yang wartawan senior itu.

Pengetatan Fase 2  Singapura mulai  Kamis 22 Juli sampai 18 Agustus. Yakni :

-Tidak ada lagi kegiatan makan di restoran, hanya boleh dibawa pulang.

-Aktifitas out door dan tanpa masker terbatas 2 orang. Acara pernikahan, ibadah dan pertunjukan, bioskop dll maksimum 100 orang dengan pre event testing ( PET) maksimum 50 orang.

-Dianjurkan  kepada warga bekerja dari rumah.

-Pertemuan sosial dan menerima tamu ke rumah maksimum 2 orang.

-Tempat atraksi seperti museum dan perpustakaan dengan kapasitas  25 %.

 

Singapura pertama kali menerapkan “circuit breaker” (memantau pergerakan warga secara online) pada bulan April 2020 sampai bulan Juni. Kiat itu efektif. Setelah kasusnya bisa dikendalikan, mulai secara bertahap dilakukan pelonggaran.

Baca Juga :  Bisa Dibeli

Juni anak- anak boleh  sekolah tatap muka sampai pada 28 Desember. Warga pun boleh pergi makan di luar delapan orang.

Hampir  10 bulan terakhir di Singapura,  kasus penularan di dalam komunitas sangat kecil. Sampai muncul kasus varian Delta pada 8 Mei 2021 dan dilakukan heightened alert kembali selama satu bulan.

Setelah itu, dilonggarkan lagi. Mulai 12 Juli. Momennya pas dimulainya penutupan  kunjungan warga Indonesia. Lalu meledak  kasus KTV disusul di Tempat Penjualan Ikan Jurong, sehingga heightened alert kembali diterapkan selama satu bulan ke depan 22 Juli – 18 Agustus. Tampaknya, acara perayaan meriah  HUT Kemerdekaan Singapore 9 Agustus mendatang pun  temasuk yang akan ” dikorbankan ”

 

Dikacaukan satu wanita

 

Boleh percaya  atau tidak. Kasus yang menimpa Singapura saat memulai pelonggaran, dikacaukan oleh hanya satu wanita dari Vietnam.

Seorang warga kita di Singapura, menceritakan  kisah  wanita dari Vietnam itu kepada teman-temannya di IndonesIa. Wanita itu masuk di  Singapura sebagai turis. Diterima aparat Singapura karena di Vietnam Covid19 relatif terkendali, kasus Covid19 hanya sedikit.

Maka sang wanita hanya  perlu dua hari karantina plus tes PCR. Hasil tesnya terdeteksi negatif. Ternyata, kelak terungkap wanita Vietnam itu hostess, bekerja di tempat prostitusi yang berkedok klab Karaoke atau KTV.

Halaman:  
« 1 2 Selanjutnya › » Semua