JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Karanganyar

OK Young Javaro, Potret Perjuangan untuk Regenerasi Pemain Musik Keroncong

Grup Orkes Keroncong (OK) Young Javaro tengah membawakan sebuah lagu / Foto: Beni Indra

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM Musik keroncong terbukti masih tetap eksis meski penggemarnya tidak sebanyak musik pop, dangdut atau musik-musik lainnya.

Setidaknya hal itu menjadi bukti bahwa musik keroncong memang memiliki kualitas yang tinggi, sehingga tidak akan mudah pudar.

Bagi para musisi nasional, mereka memahami kualitas musik keroncong. Ada beberapa alasan untuk itu, pertama, musik keronccong memiliki kharakter jelas, baik dari sisi notasi ataupun pukulan alat musiknya.

Selain itu, lagu-lagu keroncong diciptakan dengan serius, puitis penuh makna dan bukan asal jadi, apalagi dicipta semata-mata demi mengejar selera pasar.

Advertisement

Adapun lagu keroncong dicipta dengan banyak varian, mulai dari kategori keroncong asli, langgam keroncong dan stambul, yang mana semua itu ada aturan dan ciri khasnya.

Baca Juga :  Diduga Hipertensinya Kambuh, Supani Meninggal Dunia Terjatuh di Los Tiga Pasar Jungke Karanganyar

Belum lagi karakter lirik pada syair keroncong juga susah tapi nikmat dirasakan karena semi irama lagu seriosa.

Dari semua kondisi tersebut, disimpulkan bahwa musik keroncong cukup fenomenal karena peka zaman walau belakangan telah lahir berbagai jenis musik di sekelilingnya.

Meskipun di satu sisi ada realitas bahwa berkarir pada musik keroncong semahir apapun secara tren masih kalah dengan musik instan yang hanya orientasi pasar sehingga realitas itu menjadi kendala sulitnya regenerasi musik keroncong.

Menurut salah satu pelatih musik  keroncong di Kota Solo, Wawan Mustari (43) setelah satu abad keroncong, sekarang terjadi kendala untuk regenerasi karena anak muda diera milenial ini lebih cendrung suka pada musik pasaran terutama musik dangdut dan sejenisnya.

Baca Juga :  Minibus Sarat Penumpang Alami Kecelakaan di Matesih Karanganyar, Proses Evakuasi Masih Berlangsung

“Mungkin karena anak muda sekarang lebih pragmatis asal happy sehingga kurang cocok dengan musik keroncong yang selalu distigma sebagai musik kalangan tua dan bikin ngantuk,” ungkapnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM .

Kondisi tersebut lanjut Wawan Mustari justru menjadi tantangan bagi semua saja pegiat keroncong untuk bisa menggaet anak muda agar regenerasi musik keroncong bisa terjadi.

Wawan mencontohkan di Kota Solo, Jateng yang boleh dikata sebagai jantungnya musik keroncong sudah mulai susah mengajak generasi muda untuk mau mengenal dan berlatih keroncong.

Namun dirinya tetap getol membumikan keroncong pada anak muda.

Halaman selanjutnya

Halaman :  1 2 Tampilkan semua