JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Kondisi Memanas Jelang Muktamar ke-34, Keluarga Keturunan Pendiri NU Gelar Pertemuan, Ini Hasilnya

pertemuan keluarga keturunan pendiri NU / liputan6

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Menanggapi situasi internal yang memanas jelang pelaksanaan Muktamar ke-34 NU, keluarga keturunan pendiri NU mengadakan pertemuan khusus di Rumah Pengasuh Ponpes Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Rabu (1/12/2021) malam.

Hadir dalam pertemuan itu, masing-masing wakil keluarga pendiri NU untuk meredakan ketegangan di internal NU, terutama di kalangan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ketegangan saat ini dianggap bisa menjurus ke perpecahan jika tidak segera diredakan.

Saat ini, dinamika menjelang Muktamar ke-34 NU bergerak sangat dinamis. Munculnya ketegangan tersebut bermula dengan munculnya nama-nama calon Rais Am dan Ketua Tanfidziyah yang mengatasnamakan PWNU.

Kemudian ditambah adanya surat perintah agar pelaksanaan Muktamar NU ke-34 dipercepat, yang ditandatangani langsung Penjabat (Pj.) Rais Am KH. Miftahul Akhyar.

Oleh sebab itu, para keluarga keturunan pendiri atau Dzurriyah Muassis NU sengaja berkumpul di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.

Menurut Dzurriyah KH Hasyim Asy’ari, KH Fahmi Amrullah Hadziq selaku tuan rumah, mereka masing-masing datang atas inisiatif sendiri untuk membahas dinamika yang terjadi jelang Muktamar NU.

Baca Juga :  19 Orang Tewas dalam Bentrokan di Sorong, Mayoritas Terjebak di dalam Tempat Hiburan yang Terbakar

 

“Masing-masing datang atas inisiatif sendiri-sendiri, tidak ada yang mengatur, tidak ada yang membiayai karena didasari oleh keprihatinan atas kondisi PBNU akhir-akhir ini,” ujar Gus Fahmi, sapaan akrabnya melalui keterangan tertulis, Kamis (2/12/2021).

 

Atas kondisi carut marut PBNU belakangan ini, seluruhnya melakukan diskusi dan musyawarah hingga diperoleh 3 hal yang disepakati bersama oleh Dzurriyah Muassis NU.

Tiga hal yang disepakati merupakan imbauan dan ajakan bagi seluruh jam’iyyah NU. Pertama untuk mengingatkan bahwa niat para muassis mendirikan jam’iyyah NU adalah untuk membangun ukhuwwah (persaudaraan).

“Maka kita berharap kepada para pengurus, hendaknya menjaga ukhuwah ini. Jangan sampai kemudian apa yang disampaikan oleh Hadratus Syaikh, pesan beliau janganlah perbedaan itu menyebabkan perpecahan. Maka ini harus kita pegang, para pengurus terutama hendaknya memegang dawuh (amanat) ini,” papar Gus Fahmi.

Baca Juga :  Pengamat Transportasi Budiyanto: Kecelakaan “Tronton Maut” Bukan Cuma  Tanggung Jawab Sopir

 

Poin kedua, lanjut dia, mengimbau agar hendaknya semua pihak mengedepankan akhlaqul karimah dengan menjaga tradisi tabayyun.

 

“Tidak mengeluarkan keputusan sendiri-sendiri. Karena bagaimanapun juga pengurus itu bukan personal tetapi kolektif kolegial. Jadi hendaknya keputusan itu diambil secara bersama-sama musyawarah untuk mufakat,” terang Gus Fahmi.

 

Menurut dia, Dzurriyah Muassis NU juga berharap kepada semua pihak, terutama kiai-kiai sepuh untuk menahan diri, tidak melakukan aksi dukung mendukung terhadap salah satu pihak.

 

“Apa yang dilakukan oleh kyai-kyai ini memberikan dukungan kepada salah satu pihak akan berpotensi menyebabkan perpecahan. Jadi sebaiknya masing-masing bisa menahan diri,” pinta Gus Fahmi.

 

Apabila ingin mendukung, lanjut dia, sebaiknya tidak perlu dipublikasikan dan tidak diumumkan karena berpotensi memecah belah.

 

Terakhir Gus Fahmi mengajak agar menjaga suasana tetap sejuk, tetap damai, sehingga semua yang dicita-citakan dapat tercapai.

Halaman selanjutnya »

Halaman :  1 2 Tampilkan semua