JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Menko Airlangga Ajak Negara-negara Produsen Sawit Jaga Kepentingan Bersama

Menko Airlangga Hartarto (tengah) / istimewa

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM Menteri Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, pandemi Covid-19 masih terus menghantui dan dapat menghambat laju pemulihan perekonomian global.

Namun di tengah kondisi pandemi tersebut, harga komoditas yang terus meningkat khususnya kelapa sawit telah menciptakan peluang emas bagi negara produsen untuk mendukung perbaikan ekonomi.

Menko Airlangga mengatakan hal itu dalam 9th Ministerial Meeting Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC).

Lebih lanjut Menko Airlangga mencontohkan, pada tahun  2021, nilai ekspor minyak sawit mencapai US$29 miliar, meningkat 115% jika dibandingkan tahun sebelumnya.

Untuk menjaga momentum positif minyak sawit berkelanjutan, Indonesia sedang dalam proses memfinalisasi sertifikasi rantai pasok minyak kelapa sawit downstream.

“Tren berkembang mengenai kebijakan diskriminatif terhadap minyak sawit akan merugikan pembangunan sektor minyak sawit. Maka itu, penting bagi CPOPC untuk mendukung dan menjaga kepentingan bersama negara-negara produsen minyak sawit,” ujar Menko Airlangga, seperti dikutip dalam rilisnya ke Joglosemarnews.

Dalam pertemuan ini, dibahas mengenai perspektif negara anggota mengenai market outlook, kenaikan harga, kestabilan harga, dan program mandatori Biodiesel (B30).

Baca Juga :  Gempa Guncang Jakarta dan Banten Sore Ini, Berkekuatan Magnitudo 6,7. Ribuan Warga Sempat Panik dan Berhamburan Menyelamatkan Diri

“Oleh karena itu, perlu kerja sama dan kolaborasi antara negara produsen (CPOPC),” tutur Menko Airlangga.

Beberapa agenda penting dalam MM ke-9 antara lain adopsi/pengesahan melalui penandatanganan Protocol to Amend, Adoption of CPOPC Work Plan and Budget 2022 and Annual Contribution 2022, Adoption of Global Framework of Principles of Sustainable Palm Oil, Adoption of CPOPC Policy and Strategy Direction, Adoption of Rules of Procedure of MM and SOM of CPOPC.

Dijelaskan Airlangga, ada beberapa hal penting yang harus dilakukan negara-negara anggota setelah meeting kali ini.

Pertama, kedua negara anggota sudah menyetujui Protokol untuk Mengubah Piagam (Protocol to Amend) CPOPC, dan harus mementingkan hal ini untuk melakukan prosedur ratifikasi dalam proses internal masing-masing negara. Anggota yang akan datang juga harus meratifikasi protokol tersebut sebelum diizinkan bergabung.

Baca Juga :  Peneliti: Potensi Kemenangan Golkar di Kontestasi Pemilu 2024 Terbuka Luas

“Anggota yang masuk akan memperkuat organisasi CPOC dan meningkatkan upaya kami untuk mempromosikan pengembangan kelapa sawit berkelanjutan secara global. Ke depannya, Sekretariat akan diperkuat, dari yang tadinya dipimpin oleh Direktur Eksekutif akan ditingkatkan menjadi Sekretaris Jenderal,” ucap Menko Airlangga.

Kedua, harus membuat roadmap yang jelas untuk menarik negara-negara prioritas menjadi anggota CPOPC sesuai kriteria yang tercantum dalam Protocol to Amend.

Sekretariat CPOPC harus menyiapkan laporan kemajuan dalam isu keanggotaan ini.

“Perluasan keanggotaan harus menjadi salah satu key performance indicators di 2022,” ujar Menko Airlangga.

Halaman selanjutnya »

Halaman :  1 2 Tampilkan semua