JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Fenomena Bunuh Diri Merebak di Sragen, Apanya yang Salah. Ini Kata Kepala Kesbangpol!

Tim Polsek Gondang Sragen dipimpin Kapolsek AKP Sudarmaji saat melakukan olah TKP dan evakuasi jasad bapak anak yang tewas gantung diri bareng di rumah mereka di Grasak, Gondang, Jumat (6/5/2022) siang. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Maraknya fenomena bunuh diri di Kabupaten Sragen menuai keprihatinan berbagai kalangan.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Sragen, Sutrisna menilai ada banyak faktor yang melatarbelakangi aksi bunuh diri.

Biasanya dipicu masalah pribadi, masalah keluarga dan faktor lainnya. Menurutnya, kasus bunuh diri memang menjadi keprihatinan bersama dan butuh penanganan dari berbagai pihak.

Ia memandang ada beberapa hal yang harus diperkuat dalam diri masyarakat untuk membentengi dari rasa putus asa yang memicu bunuh diri.

“Terutama pendidikan karakter dan keagamaan untuk memperkuat keimanan dan ketaqwaan,” paparnya menanggapi maraknya kasus bunuh diri belakangan ini.

Lebih lanjut, Sutrisna menyebut peran kepedulian lingkungan sekitar, tokoh masyarakat terdekat juga sangat penting.

Menurutnya, rasa kepekaan sosial dari masyarakat dan lingkungan sekitar juga perlu ditumbuhkan.

Dengan kepekaan, setidaknya jika ada warga yang dalam masalah atau menunjukkan gelagat sedang bermasalah, bisa dibantu mengatasi atau memecahkannya.

Sehingga, akan menghindarkan seseorang dalam masalah itu terjerumus ke dalam keputusasaan yang bisa memicu bunuh diri.

“Perlu kepedulian lingkungan sekitar, tokoh masyarakat, RT dan perangkat desa. Memang agak sulit mendeteksi apakah seseorang punya masalah atau tidak. Tapi kalau kepekaan sosial itu diasah, maka akan lebih sensitif melihat kondisi lingkungan sekitarnya. Sehingga apabila ada warga yang dalam masalah, minimal bisa kasih saran atau solusi,” terangnya.

Baca Juga :  Pecah Rekor, Caleg Fenomenal Suyanto dari fraksi PDIP Dapil 5 Sragen Timur Sukses Mendapatkan Suara Terbanyak di Pemilu 2024

Meski demikian, ia menilai faktor penguatan mental, karakter dan keimanan memang lebih besar berperan membentengi dari rasa putus asa.

Sebab terkadang tak semua orang yang dalam masalah, bisa terbuka dengan lingkungan. Terlebih apabila masalah itu menyangkut privasi.

“Nah di sinilah mungkin peran orang dekat, mungkin lewat keluarganya atau teman dekatnya. Yang jelas rasa kepekaan terhadap lingkungan dan pendidikan di keluarga ini yang lebih penting. Peran tokoh masyarakat, tokoh agama dan pejabat struktural terbawah seperti RT dan perangkat juga penting untuk memberikan pemahaman dan penguatan apabila ada warga yang sedang dalam masalah,” tandasnya.

Sutrisna. Foto/Wardoyo

Pernyataan itu disampaikan menyikapi tragedi bunuh diri yang belakangan kembali merebak di Sragen. Terbaru, tiga orang di Gondang dan Kedawung, nekat mengakhiri hidupnya di tali gantungan pada Jumat (6/5/2022) lalu.

Tiga korban itu masing-masing bapak anak di Dukuh Grasak, Desa Gondang, Arifin (40) dan putrinya Saqilla Love Afilah Sungkar (5).

Ia ditemukan gantung diri bareng di rumah mereka Dukuh Grasak RT 43, Gondang, Sragen.

Dalam waktu yang sama, seorang bapak muda bernama Suwanto (34) warga Dukuh Randusari RT 0 B, Desa Pengkok, Kecamatan Kedawung, juga ditemukan tewas gantung diri di dapur rumahnya dengan tali senar.

Baca Juga :  Berikut Caleg DPR RI Dapil Jateng IV Yang Berpotensi Lolos Ke Senayan Dengan Wajah Baru dan Posisi Teratas Ternyata Dari Partai Ini!

Tiga kasus bunuh diri itu makin menambah panjang daftar rentetan kejadian harakiri di Bumi Sukowati.

Fakta miris itu juga seolah memperkuat catatan buruk maraknya fenomena bunuh diri di Sragen dalam beberapa tahun terakhir.

Bahkan, dalam hitungan setahun, jumlah warga Sragen yang bunuh diri bisa mencapai 36 orang. Mereka mengakhiri hidup dengan berbagai cara mulai dari gantung diri, nyemplung sumur, terjun ke sungai hingga nenggak racun serangga.

Data yang dihimpun JOGLOSEMARNEWS.COM dari Polres mencatat selama kurun setahun terakhir dari 2020 hingga awal 2021 lalu, tercatat sudah 36 warga di Bumi Sukowati yang memutuskan mengakhiri hidupnya secara harakiri atau bunuh diri.

Ironisnya lagi, mayoritas kasus bunuh diri itu dilakukan dengan gantung diri dan nyebut ke sungai atau terjun dari jembatan.

Motif kesulitan ekonomi dan depresi akibat sakit berkepanjangan menjadi faktor paling dominan yang melatarbelakangi aksi bunuh diri tersebut.

Fakta itu terungkap dari hasil analisa dan evaluasi (Anev) kasus tahunan yang terekam di Polres Sragen tahun 2020 dan awal 2021 lalu. Wardoyo

  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com