JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

Delapan Sapi di Sleman Dipotong Paksa, DP3 Sleman: Boleh Dimasak Asal Bukan Sate

(Foto Ilustrasi) Petugas Disnakkan Sragen saat melakukan penyuntikan ke sapi milik warga di Sumberlawang, Sabtu (4/6/2022). Foto/Wardoyo

SLEMAN, JOGLOSEMARNEWS.COM Makin mendekati momentum Idul Adha, persebaran kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Kabupaten Sleman justru terus meluas.

Menurut data yang tercatat hingga 21 Juni 2022 pukul 17.00 WIB, penyakit yang menyerang hewan ternak berkuku genap itu telah mencapai 2.759 kasus.

Rinciannya, 2.733 suspek dan 26 terkonfirmasi. Dari jumlah tersebut, 2.612 sakit, 98 sembuh, 41 mati dan 8 ekor dipotong paksa.

Baca Juga :  Warga Bantul, Gunungkidul dan Sleman Kolaborasi Nyolong 8 Kambing Kurban, Akhirnya Meringkuk di Sel

Drh Nawangwulan selaku Plt Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman menjelaskan, 8 ternak yang terkena PMK dan dipotong paksa mayoritas adalah pedet atau anakan sapi dari sapi potong maupun sapi perah.

Anakan sapi tersebut terpaksa dipotong oleh pemiliknya karena kondisinya sudah viremia atau kadar virus di dalam tubuhnya sudah sangat tinggi.

“Kalau virus menyerang di kaki dan kondisinya sudah parah, sapi itu bisa ambruk. Makanya, sapi dipotong paksa daripada mati,” kata Nawangwulan, Rabu (22/6/2022).

Baca Juga :  Nahas, Jadi Korban Tabrak Lari di Sleman, Pemotor Terjungkal dan Nyungsep ke Gorong-gorong

Daging ternak yang terkena PMK masih bisa dikonsumsi. Asalkan, bagian getah bening dan bagian-bagian mulut (cingur) maupun kuku yang terkena virus dibuang.

Untuk bagian jeroan, menurut Nawangwulan masih aman dikonsumsi.

Ia mengimbau daging ternak yang dipotong paksa karena serangan penyakit mulut dan kuku ini tidak dibuat sate.

Halaman selanjutnya »

Halaman :  1 2 Tampilkan semua