JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Makin Memanas, Nilai Pemenang Ternyata Dirubah, Panitia Seleksi Perdes di Ngrampal Sragen Bakal Digugat PTUN. Siap-Siap Saja!

Berita acara perubahan nilai hasil seleksi perangkat desa di Bener, Ngrampal, Sragen setelah ada kesalahan penilaian sertifikat oleh panitia. Buntut perubahan nilai dan kinerja panitia yang dinilai kurang transparan memicu wacana gugatan PTUN. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Meski tiga perangkat desa terpilih hasil seleksi penjaringan penyaringan Desa Bener Kecamatan Ngrampal sudah dilantik, situasi pasca pelantikan ternyata belum sepenuhnya redam.

Salah seorang peserta ranking 2 di formasi Kebayan 3, Budi Santoso menyatakan tetap keberatan atas proses seleksi yang dinilai banyak ketidakberesan.

Ia pun mengaku sudah siap menempuh jalur hukum dengan akan mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).

Gugatan akan dilayangkan terhadap panitia seleksi yang dinilai tidak transparan dan terindikasi melakukan penyimpangan dalam menjalankan tahapan.

Gugatan PTUN itu ditempuh setelah upaya mencari keadilan melalui surat keberatan yang diajukan ke panitia dan bupati, dirasa belum sesuai harapan.

Kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Budi yang hanya berselisih 0,07 dari pemenang formasi Kebayan 3 itu mengatakan terpaksa menempuh gugatan PTUN lantaran merasa bahwa upayanya selama ini tidak mendapat respon yang baik dari panitia.

Baca Juga :  Miris, 169 BUMDes di Sragen Belum Punya NIB, 151 Belum Berbadan Hukum. Benarkah Gara-Gara Tak Akur dengan Kades?

“Selama ini surat keberatan yang saya ajukan tidak ada respon dari panitia yang membuat saya puas atas segala pertanyaan yang saya sampaikan. Tidak ada mediasi sama sekali. Termasuk dalam hal ini pihak kecamatan yang seharusnya memfasilitasi kami untuk mediasi atau tabayun. Tapi tidak ada sama sekali tindakan tersebut. Seharusnya pihak kecamatan bisa menjadi penengah,” paparnya kepada wartawan, Minggu (3/7/2022).

Budi menjelaskan gugatan PTUN itu akan diajukan bukan tanpa alasan. Menurutnya, dari awal ia memandang pelaksanaan tahapan khususnya pada penilaian sertifikat peserta, terkesan tidak transparan.

Sampai mencuatnya persoalan sertifikat peserta ranking I yang dikeluarkan aliansi seniman kemudian diprotes, panitia baru mencoret sertifikat itu setelah mendapat perintah dari Pemkab melalui Sekda.

“Saya mengetahui terkait pencoretan sertifikat Asitras itu malah dari media. Saya hanya mendapatkan berita acara perubahan nilai saja, tanpa mengetahui prosesnya bagaimana karena tidak ada mediasi. Menurut kami, kesalahan menilai sertifikat Asitras itu menjadi bukti bahwa kemampuan panitia dalam menilai sertifikat patut diragukan. Kalau satu sertifikat salah dinilai, bukan tidak mungkin sertifikat lain juga salah penilaian. Tapi kami meminta semua diverifikasi, hanya satu sertifikat itu saja yang dicek,” terangnya.

Baca Juga :  Ini Daftar 8 Pejabat yang Akan Bersaing Jadi Sekda Sragen. Satu Nama Disebut Kandidat Terkuat !

Setelah diproses, panitia kemudian mencoret satu sertifikat Asitras milik pemenang ranking I dan kemudian melakukan perubahan nilai.

Peserta ranking I yang sebelumnya mendapat total nilai 54,5 akhirnya dirubah dikurangi 1 poin menjadi 53,5. Sementara Budi Santoso di ranking 2 dengan total nilai 53,43 atau hanya berselisih 0,07.

Atas realita itu, Budi menyebut belum bisa menerima hasil seleksi tersebut.
Terkait langkah PTUN, ia mengaku sudah mendapat pendampingan dari lembaga bantuan hukum di Sragen yang siap memberi pengawalan secara cuma-cuma.

Halaman selanjutnya »

Halaman :  1 2 Tampilkan semua
  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com