JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Produksi Padi Merosot, Petani Sragen Rame-Rame Desak HPP Gabah Rp 5.500. Kuota Pupuk dan Jatah BBM Dikeluhkan!

Ketua KTNA Sragen, Suratno saat menyampaikan aspirasi ketika udiensi di DPRD Sragen, Senin (26/9/2022). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Para petani Sragen yang tergabung dalam kontak tani nelayan andalan (KTNA) mendesak harga pembelian pemerintah (HPP) gabah panen ini ditetapkan di angka Rp 5.500 perkilogram.

Dengan HPP sebesar itu diharapkan bisa menyelamatkan petani dari kebangkrutan di tengah merosotnya produksi padi musim tanam ini.

Hal itu terungkap dari aspirasi KTNA saat beraudiensi di gedung DPRD Sragen, Senin (26/9/2022). Audiensi dihadiri sekitar 15 pengurus dan anggota KTNA, dipimpin Wakil Ketua DPRD Muslim dan Ketua Komisi IV, Hariyanto.

Hadir pula Kepala Diskumindag Sragen, Cosmas Edwi Yunanto, Disnakkan, dan perwakilan dari Dinas Pertanian Ketahanan Pangan hingga perwakilan Pertamina.

Baca Juga :  Perhatian, Ini Daftar 3 Penyakit Paling Mematikan di Sragen. Simak Pemicu dan Pencegahannya!

Dalam audiensi itu, Ketua KTNA Sragen Suratno memaparkan kondisi petani yang saat ini dilanda banyak kesulitan.

Kuota pupuk yang makin sedikit tanpa lagi ada ZA dan TSP, kenaikan harga dan pembatasan BBM bersubsidi, hingga produksi padi yang merosot drastis musim panen ini.

Ia menyebut dari laporan KTNA kecamatan, penurunan produksi terjadi hampir merata. Tak hanya tanaman yang terserang ngebrok atau kerdil, tanaman yang tumbuh normal pun juga sebagian mengalami penurunan produksi.

Baca Juga :  Miris, Balita Sumbing Ditemukan Tergolek di Bawah Fly Over Ngrampal. Saat Ditemukan Sedang Mengorek Sisa Makanan

“Di Masaran, Gondang, Sambungmacan panennya satu hektar cuma dapat 30 zak padahal biasanya dapat 75 zak. Rata-rata hanya 54 persen dapatnya. Memang ada beberapa penyebabnya mulai dari pupuk yang mungkin tak berimbang, benih yang tak berlabel dan serangan tikus,” paparnya.

Atas kondisi itu, petani saat ini dihadapkan pada ancaman kerugian besar. Karenanya pihaknya mendesak agar dilakukan penelitian tentang kondisi tanah untuk mengetahui secara riil apa yang terjadi dan apa solusinya pada tanah.

Halaman selanjutnya »

Halaman :  1 2 Tampilkan semua
  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com