JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

LSM Sarang Lidi: Pemberian Hadiah dari Walimurid ke Guru Termasuk Gratifikasi. Harusnya Ada Sanksi

ilustrasi hadiah atau gratifikasi
Foto ilustrasi, hadiah yang biasa diterima guru dari wali murid tiap tahun ternyata masuk kriteria gratifikasi | tribunnews
   

YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM  – Selama ini, setiap kenaikan kelas atau  kelulusan sekolah, wali murid biasanya secara patungan bersama-sama memberikan hadiah kepada guru. Pemberian hadiah kepada guru tersebut, selama ini dianggap sebagai sebuah tradisi. Padahal, sebenarnya praktik tersebut masuk kriteria  gratifikasi.

“Itu (pemberian hadiah ke guru) sudah sejak lama ada, bahkan ada yang memberikan emas. Katanya itu tradisi, jadi setiap tahun harus ada. Kalau dulu, emas 10 gram diberikan ke guru. Nah, kalau sekarang, emas 10 gram itu kan harganya Rp10 juta,” kata Ketua LSM Persatuan Orang Tua Peduli Pendidikan (Sarang Lidi), Yuliani Putri Sunardi kepada Tribun Jogja, Selasa (18/6/2024).

Ia mengatakan, pemberian kepada guru, sekecil dan semurah apapun termasuk gratifikasi. Guru, apalagi yang Aparatur Sipil Negeri (ASN), tidak boleh menerima gratifikasi itu.

“Wali murid itu akan dikenakan iuran untuk gratifikasi kepada guru setiap tahun. Anak naik kelas 1, iuran buat gratifikasi, anak naik kelas dua, juga iuran lagi. Itu iuran untuk gratifikasi ada terus sampai si anak lulus. Pas masuk ke jenjang baru, nanti ada lagi iuran gratifikasi, berulang terus,” tutur dia.

Baca Juga :  Pelajar di Kulonprogo Jadi Korban Penipuan, Honda PCX dan HP Lenyap Dibawa Kabur Pelaku

Dia mengungkapkan, meski sudah ada surat edaran (SE) dari Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora), tapi hukuman untuk guru yang menerima gratifikasi tak pernah ada.

Maka dari itu, Yuliani mengatakan, kasus gratifikasi akan berulang lantaran tidak ada hukuman yang jelas bagi guru penerima hadiah dari wali murid.

“Pada akhirnya, imbauan agar guru tidak menerima gratifikasi itu kan hanya imbauan dari Disdikpora. Nanti, kalau ada kasus, Disdikpora bisa bilang kalau mereka sudah memberikan imbauan,” terangnya.

Disinggung mengenai hukuman untuk guru penerima gratifikasi, Yuliani mengatakan, perlu adanya sanksi yang jelas dan harus dijalankan oleh pemerintah jika ada kasus tersebut.

“Misalnya, penurunan golongan, penyanderaan gaji ya begitu. Sanksi itu harus ada, kalau tidak ada ya sama saja. Gratifikasi itu akan terulang lagi,” beber dia.

Baca Juga :  Polisi Ringkus 11 Orang Pelaku Pencurian Motor yang Beroperasi di Sleman

Ia menyamakan kasus gratifikasi dengan jual beli seragam di sekolah yang selalu terjadi setiap tahun.

Keduanya selalu terjadi lantaran sama-sama tidak ada sanksi kepada sekolah maupun guru yang melakukan.

 

Memberatkan Wali Murid

 

Yuliani mengingatkan, tidak semua wali murid adalah orang kaya. Biasanya, gratifikasi yang berkedok tradisi itu justru dilakukan oleh wali murid yang kaya dengan dalih balas budi anak sudah dicerdaskan.

“Tidak semua orang tua paham dengan aturan pendidikan. Nah, biasanya itu kompornya ya orang yang merasa sok kaya. Dia jadi kompor kalau tradisi sudah seperti ini. Nah, orang miskin ya jadi tidak bisa ngomong apa-apa,” ungkapnya.

Dia menyebut, gratifikasi biasanya terjadi di jenjang SD dan SMP. Itu mulai berkurang di jenjang SMA.

“Karena kalau di SMA muridnya sudah bisa melawan ya, sudah bisa protes. Kalau di SD dan SMP kan belum. Jadi, wali murid suka ikutan arus saja,” tukas Yuliani.

www.tribunnews.com

  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com