JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Tekanan terhadap rupiah semakin terasa. Mata uang Garuda kini berada di ambang level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat, sebuah posisi yang memicu kekhawatiran pasar terhadap ketahanan ekonomi nasional di tengah gejolak global dan meningkatnya tekanan dari dalam negeri.
Pada perdagangan Rabu (3/6/2026), nilai tukar rupiah ditutup melemah 127,5 poin atau 0,71 persen menjadi Rp 17.966 per dolar AS. Pelemahan tersebut terjadi setelah pelaku pasar merespons berbagai perkembangan internasional yang dinilai berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi global.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai, kombinasi faktor eksternal dan domestik menjadi penyebab utama tertekannya kurs rupiah dalam beberapa waktu terakhir.
Dari sisi global, perhatian investor masih tertuju pada memanasnya situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda membuat pasar cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.
Israel dilaporkan melanjutkan operasi militernya di Lebanon bagian selatan, sementara Iran disebut meluncurkan rudal balistik ke wilayah Kuwait dan Bahrain. Situasi tersebut semakin memperbesar ketidakpastian di kawasan.
“Putaran pembicaraan lain yang melibatkan Israel dan Lebanon dijadwalkan pada hari Rabu, sementara ketidakpastian masih berlanjut mengenai negosiasi antara Washington dan Teheran,” ujar Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Ia menambahkan, laporan media Iran yang menyebut tidak adanya komunikasi antara pemerintah Iran dan Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir memunculkan dugaan bahwa proses negosiasi kedua negara sedang mengalami jalan buntu.
Ketegangan geopolitik itu juga berdampak pada lonjakan harga minyak dunia. Kenaikan harga energi memunculkan kekhawatiran baru terkait inflasi global, sekaligus memperkuat dugaan bahwa bank sentral Amerika Serikat atau The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan pasar.
Sentimen tersebut diperkuat oleh data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan pada April 2026 justru meningkat di luar ekspektasi. Kondisi itu menjadi sinyal bahwa perekonomian AS masih cukup kuat sehingga The Fed memiliki ruang untuk tetap mempertahankan kebijakan moneter ketat.
Pelaku pasar kini menunggu sejumlah data ekonomi penting dari Negeri Paman Sam, mulai dari laporan ketenagakerjaan ADP, indeks sektor jasa ISM, hingga data pesanan pabrik yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan The Fed menjelang publikasi data nonfarm payrolls pada Jumat (5/6/2026).
Sementara itu, dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah turut dipicu meningkatnya laju inflasi pada Mei 2026. Inflasi bulanan tercatat mencapai 0,28 persen, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 0,13 persen.
Menurut Ibrahim, kenaikan tersebut dipengaruhi oleh naiknya harga pangan yang bergejolak, tarif energi, harga yang diatur pemerintah, serta dampak pelemahan kurs rupiah itu sendiri.
Di tengah berbagai tekanan tersebut, Indonesia sebenarnya masih mencatat surplus perdagangan pada April 2026 sebesar US$ 89,1 juta. Surplus itu memperpanjang tren positif neraca perdagangan yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan surplus terutama berasal dari sektor nonmigas yang mencatat kelebihan ekspor terhadap impor sebesar US$ 3,53 miliar.
Namun demikian, Ibrahim mengingatkan bahwa surplus tersebut mengalami penyusutan yang cukup tajam dibandingkan periode sebelumnya.
“Namun kalau dilihat secara statistik, surplus perdagangan April menyempit tajam, menggarisbawahi tekanan pada daya beli, dan ketahanan eksternal akibat pasokan global yang tersendat akibat Selat Hormuz di blokade oleh pasukan garda revolusi Iran yang sampai saat ini belum ada kejelasan kapan akan dibuka kembali,” jelas Ibrahim.
Untuk perdagangan Kamis (4/6/2026), ia memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dengan rentang perdagangan di kisaran Rp 17.960 hingga Rp 18.030 per dolar AS. Jika tekanan global belum mereda, bukan tidak mungkin rupiah akan kembali menguji level Rp 18.000 yang selama ini menjadi batas psikologis penting bagi pasar keuangan Indonesia. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.















