YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Upaya efisiensi energi yang diharapkan menekan beban justru berubah menjadi beban tambahan bagi sebagian pelaku usaha. Di Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTY), pemadaman listrik bergilir yang terjadi beberapa waktu terakhir disebut membuat biaya operasional pedagang ikan melonjak tajam.
Bagi para pedagang ikan hias, listrik bukan sekadar fasilitas pendukung, melainkan kebutuhan vital untuk menjaga kelangsungan hidup stok dagangan di akuarium. Ketika aliran listrik terhenti, suplai oksigen pun ikut terputus sehingga mereka harus mencari solusi darurat agar ikan tetap bertahan.
Salah satu pedagang, Budiani, mengaku kondisi tersebut membuatnya harus mengeluarkan biaya tambahan yang tidak sedikit. Tanpa listrik, ia terpaksa menggunakan tabung oksigen sebagai pengganti.
“Kalau ikannya penuh (dalam akuarium) itu cuma 30 menit umurnya. Kalau nggak ada oksigen ya bisa pada mati,” katanya, Selasa (23/6/2026).
Dalam kondisi normal, satu tabung oksigen biasanya dapat digunakan hingga sekitar lima bulan. Namun ketika pemadaman listrik terjadi, pemakaian meningkat drastis sehingga hanya cukup untuk sekitar tiga bulan.
“Ya otomatis biaya operasional meningkat, karena pakai tabung oksigen untuk ikan pas pemadaman listrik,” ujarnya.
Tak hanya soal biaya, ketidakpastian jadwal pemadaman juga membuatnya enggan menambah stok ikan dalam jumlah besar. Ia khawatir risiko kerugian akan meningkat jika listrik kembali padam secara tiba-tiba.
“Soalnya kemarin itu termasuk sering (pemadaman listrik), sebelumnya nggak pernah, kalaupun ada pemadaman listrik juga ada pemberitahuan. Kalau kemarin itu kan tidak ada pemberitahuan, tiba-tiba listrik mati. Mau kulakan jadi takut, takutnya udah kulakan banyak, listrik mati, ikan pada mati,” terangnya.
Keluhan serupa juga disampaikan Egi, pedagang ikan lainnya di PASTY. Ia memilih menggunakan genset saat listrik padam, meski harus menanggung tambahan biaya bahan bakar.
“Pakai genset, tetapi kan kalau terus-terusan ongkosnya (biaya operasional) nambah. Beli Rp 50.000, itu nanti kalau kurang beli lagi. Belinya juga yang eceran, karena nggak bisa pakai jeriken. Otomatis kan harga lebih mahal, isinya juga lebih sedikit,” ungkapnya.
Meski sejauh ini ikan dagangannya masih dapat diselamatkan, Egi mengaku tetap berhati-hati dalam melakukan penambahan stok. Selain risiko listrik padam, kondisi sepinya pengunjung juga membuat perputaran usaha semakin lambat.
“Ya nggak berani kulakan juga, apalagi kalau ikan baru kebutuhan oksigennya lebih banyak. Nanti sudah kulakan, listrik mati, ikannya pada mati. Apalagi sekarang cari duit sekarang susah, pengunjung juga sepi,” ujarnya. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.














