Beranda Umum Nasional Hotspot Karhutla Melonjak 594 Persen, Ancaman Kebakaran Makin Mengkhawatirkan

Hotspot Karhutla Melonjak 594 Persen, Ancaman Kebakaran Makin Mengkhawatirkan

Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan / pixabay

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia mulai menunjukkan gejala yang semakin mengkhawatirkan. Dalam waktu hanya satu bulan, jumlah titik panas atau hotspot melonjak hampir enam kali lipat, sementara ratusan ribu hektare lahan telah dilaporkan terbakar sepanjang tahun ini.

Kondisi tersebut menjadi alarm serius karena puncak musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga Agustus-September 2026. Artinya, ancaman karhutla berpotensi semakin besar jika langkah pencegahan tidak dilakukan sejak dini.

Data organisasi lingkungan Pantau Gambut menunjukkan terdapat sedikitnya 15.067 hotspot yang terdeteksi sepanjang Juli 2026. Jumlah tersebut melonjak 594 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Lonjakan paling mencolok terjadi di sejumlah wilayah yang selama ini memiliki kerentanan tinggi terhadap kebakaran, yakni Kalimantan Barat, Papua Selatan, Kalimantan Tengah, Aceh, dan Riau.

Direktur Eksekutif Pantau Gambut, Iola Abas, menilai peningkatan hotspot tersebut tidak bisa hanya disikapi setelah kebakaran terjadi. Menurutnya, kenaikan titik panas harus menjadi dasar untuk memperkuat upaya pencegahan dan penelusuran wilayah yang berisiko.

“Pemerintah tidak boleh terus menunggu api membesar, lalu membiarkan masyarakat menanggung akibat dari pencegahan yang lamban,” kata Iola melalui keterangan tertulisnya, Senin (10/8/2026).

Menurut Pantau Gambut, kemunculan hotspot di sejumlah kawasan tersebut perlu segera ditindaklanjuti dengan pengecekan lokasi serta pemetaan faktor yang menyebabkan kawasan, terutama lahan gambut, tetap rentan terbakar.

Peringatan serupa datang dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Lembaga tersebut meminta pemerintah daerah dan pihak terkait tidak mengabaikan indikasi awal karhutla mengingat kondisi kemarau masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.

Baca Juga :  Prabowo Panggil 6 Kandidat Gubernur BI, Ada Juga Nama Thomas Djiwandono, Sang Keponakan

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan pemantauan terhadap titik panas dan kondisi asap terus dilakukan sebagai bagian dari upaya mendukung langkah antisipasi.

“BMKG terus memantau kondisi asap untuk mendukung langkah antisipasi,” ujar Faisal dalam konferensi pers virtual, Kamis (30/7/2026).

Data BMKG hingga 28 Juli 2026 menunjukkan sekitar 4.900 hotspot terdeteksi di berbagai wilayah Indonesia. Angka tersebut berbeda dengan data Pantau Gambut karena menggunakan sumber serta metode pemantauan yang berbeda.

Namun, gambaran mengenai eskalasi karhutla juga terlihat dari pemantauan satelit FireWatch yang terdapat dalam platform peta analitik Nusantara Atlas.

Berdasarkan data tersebut, luas wilayah yang terbakar di Indonesia sepanjang Januari hingga Juli 2026 telah mencapai sekitar 285.914 hektare.

Sementara itu, hingga 11 Agustus 2026, FireWatch mendeteksi 154.067 titik panas di berbagai wilayah Indonesia.

Nusantara Atlas menilai perkembangan hotspot tahun ini mulai berada pada tren yang mendekati 2019, salah satu periode ketika Indonesia mengalami musim kebakaran yang sangat berat.

Luas area terbakar terbesar tercatat di Nusa Tenggara Timur dengan 71.554 hektare. Berikutnya Papua Selatan mencapai 53.701 hektare, Jawa Timur 39.916 hektare, Kalimantan Barat 25.498 hektare, dan Nusa Tenggara Barat 17.049 hektare.

Baca Juga :  KY Kantongi 11 Nama Calon Hakim Agung, Kini Bola di Tangan DPR

Kondisi tersebut semakin patut diwaspadai karena tahun ini Indonesia menghadapi pengaruh El Niño yang dapat membuat kondisi lebih kering dan meningkatkan risiko muncul serta meluasnya kebakaran.

Meski demikian, Nusantara Atlas mengingatkan bahwa data hingga pertengahan tahun belum bisa dijadikan penentu akhir mengenai tingkat keparahan musim kebakaran 2026.

“Angka saat ini belum menentukan seberapa parah musim kebakaran 2026 secara keseluruhan, tetapi tren awal ini perlu terus dipantau secara cermat,” demikian keterangan Nusantara Atlas.

Dengan puncak musim kemarau yang masih berlangsung, peningkatan hotspot dan luas area terbakar tersebut menjadi peringatan bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman setelah api muncul.

Pengawasan wilayah rawan, deteksi dini, pencegahan pembakaran, serta respons cepat terhadap titik panas menjadi semakin penting untuk mencegah kebakaran berkembang menjadi bencana yang lebih luas. [*] Disarikan dari sumber berita media daring

 

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.