Beranda Umum Nasional Saat Gibran Dorong Siswa SD Belajar AI, Norwegia Justru Larang AI Generatif...

Saat Gibran Dorong Siswa SD Belajar AI, Norwegia Justru Larang AI Generatif untuk Anak Usia 6-13 Tahun

Ilustrasi | pixabay

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM — Di saat Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di berbagai kesempatan selalu  mendorong pentingnya pengenalan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sejak usia sekolah, Pemerintah Norwegia justru mengambil langkah yang berseberangan.

Negara Skandinavia itu memutuskan melarang penggunaan AI generatif bagi siswa sekolah dasar mulai tahun ajaran baru 2026.

Kebijakan tersebut diumumkan sebagai bagian dari upaya pemerintah Norwegia membatasi paparan teknologi digital terhadap anak-anak. Larangan akan berlaku bagi murid kelas satu hingga kelas tujuh, atau kelompok usia enam sampai 13 tahun.

Perdana Menteri Norwegia, Jonas Gahr Stoere, menilai penggunaan AI generatif pada usia dini berisiko menghambat perkembangan kemampuan dasar yang seharusnya dibangun melalui proses belajar konvensional.

Ia menegaskan bahwa sekolah harus tetap menjadi tempat bagi anak-anak untuk menguasai keterampilan fundamental.

Menurut Stoere, tugas utama pendidikan pada jenjang awal adalah mengajarkan siswa cara “membaca, menulis, dan berhitung.”

Meski demikian, pembatasan tersebut tidak berlaku untuk seluruh jenjang pendidikan. Pemerintah Norwegia masih memberikan ruang penggunaan AI bagi siswa yang lebih tua dengan tingkat pengawasan yang berbeda.

Remaja berusia 14 hingga 16 tahun diperbolehkan memanfaatkan AI generatif dalam kegiatan belajar, tetapi harus berada di bawah pengawasan guru. Sementara siswa berusia 17 tahun ke atas didorong untuk menggunakan teknologi tersebut secara mandiri dengan tetap memperhatikan tanggung jawab dan etika penggunaannya.

Baca Juga :  Prabowo Pertanyakan Pertumbuhan Ekonomi Era Sebelumnya: Negara Kaya, Kok Rakyat Miskin Bertambah?

Kebijakan baru itu merupakan kelanjutan dari langkah Norwegia yang sebelumnya lebih dulu membatasi penggunaan perangkat digital di sekolah. Pada 2024, pemerintah setempat melarang penggunaan ponsel pintar dan tablet selama proses pembelajaran berlangsung.

Pemerintah Norwegia mengklaim kebijakan tersebut membawa sejumlah dampak positif. Selain menurunkan angka perundungan di lingkungan sekolah, pembatasan perangkat digital disebut berkontribusi terhadap peningkatan hasil belajar dan membantu mengurangi persoalan kesehatan mental di kalangan pelajar, terutama siswa perempuan.

Tak berhenti sampai di situ, pemerintah juga sedang menyiapkan aturan yang lebih luas terkait penggunaan teknologi oleh anak-anak. Salah satunya berupa rencana pelarangan media sosial bagi seluruh warga berusia di bawah 16 tahun.

Rancangan undang-undang mengenai pembatasan media sosial tersebut dijadwalkan masuk pembahasan parlemen sebelum akhir tahun 2026. Jika disahkan, Norwegia akan mengikuti jejak Australia yang telah lebih dulu menerapkan kebijakan serupa.

Perdebatan mengenai penggunaan AI oleh anak-anak sebenarnya tidak hanya terjadi di Eropa. Di Amerika Serikat, isu tersebut juga mulai mendapat perhatian serius dari kalangan legislator.

Saat ini, Kongres AS tengah membahas rancangan aturan yang mengharuskan perusahaan pengembang AI melakukan verifikasi usia pengguna serta membatasi akses chatbot tertentu bagi anak-anak.

Regulasi yang dikenal dengan nama Guidelines for User Age-verification and Responsible Dialogue Act (GUARD Act) telah lolos dari Komite Kehakiman Senat. Namun, aturan tersebut masih harus melewati sejumlah tahapan sebelum dapat disahkan menjadi undang-undang.

Baca Juga :  Prabowo Ngaku Tahu yang Bayar Demo, Ketua BEM UBK Justru Mengaku Dibayar Rp 20 Juta untuk Tak Demo di Istana

Dalam perkembangannya, cakupan aturan itu juga mengalami perubahan. Jika sebelumnya menyasar hampir seluruh chatbot berbasis AI, revisi terbaru hanya memfokuskan pengaturan pada layanan yang dikategorikan sebagai “AI companions”.

Perubahan tersebut memunculkan kritik dari sejumlah pihak. Mereka menilai penyempitan definisi dapat menjadi celah bagi perusahaan teknologi untuk menghindari pengawasan regulator dengan mengklaim layanan AI mereka sekadar fitur tambahan, bukan pendamping digital.

Perdebatan global mengenai AI untuk anak-anak pun semakin mengemuka. Di satu sisi, teknologi ini dianggap sebagai keterampilan masa depan yang perlu dikenalkan sejak dini. Namun di sisi lain, sejumlah negara mulai mempertanyakan dampaknya terhadap kemampuan berpikir, literasi, hingga perkembangan sosial generasi muda. [*] Disarikan dari sumber berita media daring

 

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.