Beranda Nasional Jogja Kemarau Baru Dimulai, Ratusan Warga Gunungkidul Sudah Krisis Air Bersih

Kemarau Baru Dimulai, Ratusan Warga Gunungkidul Sudah Krisis Air Bersih

ilustrasi krisis air bersih saat musi kemaru
Ilustrasi kemarau | Pixabay

GUNUNGKIDUL, JOGLOSEMARNEWS.COM – Musim kemarau belum mencapai puncaknya, namun ancaman krisis air bersih sudah lebih dulu mengetuk pintu sejumlah wilayah di Kabupaten Gunungkidul. Di kawasan karst yang saban tahun menjadi langganan kekeringan, ratusan warga kini mulai bergantung pada bantuan air bersih agar kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi.

Salah satu wilayah yang mulai merasakan dampak kemarau adalah Padukuhan Kemesu, Kalurahan Semugih, Kapanewon Rongkop. Hujan yang tak lagi turun dalam beberapa waktu terakhir membuat cadangan air warga terus menipis.

Sebagian warga terpaksa membeli air dari penyedia swasta. Namun, bagi banyak keluarga lainnya, harapan kini bertumpu pada distribusi air bersih yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul.

Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, mengatakan pihaknya telah dua kali menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah tersebut.

“Sudah dua kali penyaluran bantuan air bersih di wilayah Padukuhan Kemesu,” kata Purwono saat dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (1/7/2026).

Menurutnya, bantuan pertama ditujukan untuk memenuhi kebutuhan sekitar 300 hingga 400 warga selama kurang lebih lima hari. Setelah dilakukan pemantauan, kebutuhan air masih tinggi sehingga BPBD kembali mengirimkan pasokan.

“Awalnya kita drooping air bersih untuk 300 hingga 400 jiwa selama kurang lebih lima hari. Setelah kita monitor, membutuhkan lagi ya kita dropping lagi hari ini untuk kebutuhan 239 jiwa,” jelasnya.

Baca Juga :  PHK Masih Menghantui DIY, 584 Pekerja Kehilangan Pekerjaan dalam Lima Bulan

Air bersih tersebut disalurkan ke bak penampungan umum milik warga agar dapat dimanfaatkan bersama. Warga bebas mengambilnya untuk berbagai kebutuhan rumah tangga, mulai dari memasak, minum, hingga mencuci.

Kondisi ini bukan hal baru bagi Padukuhan Kemesu. Wilayah tersebut berada di kawasan bentang alam karst yang minim sumber air permukaan. Saat musim hujan, sebagian besar air langsung meresap ke celah-celah batu kapur dan mengalir ke bawah tanah sehingga hanya sedikit yang tersimpan di permukaan.

Akibatnya, ketika hujan berhenti dalam waktu cukup lama, warga hampir selalu menghadapi persoalan kekurangan air bersih.

Selain faktor geografis, keterbatasan jaringan distribusi air perpipaan juga menjadi tantangan tersendiri. Hingga kini, layanan PDAM belum menjangkau seluruh wilayah sehingga masyarakat masih mengandalkan bak Penampung Air Hujan (PAH) sebagai sumber utama persediaan air.

Begitu cadangan di penampung habis, warga tidak memiliki banyak pilihan selain membeli air tangki dengan harga yang relatif mahal atau menunggu bantuan pemerintah.

Purwono mengimbau masyarakat untuk mulai menghemat penggunaan air agar persediaan yang ada dapat bertahan lebih lama selama musim kemarau berlangsung.

Baca Juga :  Diduga Terpeleset Saat Mancing, Bocah di Pakem Sleman Tenggelam dan Ditemukan di Kedalaman 5 Meter

“Kami mengimbau kepada masyarakat agar menggunakan air secara bijaksana,” ujarnya.

Sementara itu, Dukuh Kemesu, Sugiyanta, membenarkan bahwa wilayahnya mulai mengalami kesulitan air bersih sejak awal musim kemarau tahun ini.

“Kami sudah mendapatkan dropping air bersih,” katanya.

Ia menjelaskan, bantuan dari BPBD terutama dimanfaatkan warga untuk memenuhi kebutuhan memasak dan air minum. Adapun untuk mandi serta kebutuhan ternak, masyarakat masih mengandalkan air telaga yang kondisinya terus menyusut.

“Telaganya belum kering, airnya masih setinggi lutut. Warga memanfaatkannya untuk minum ternak dan mandi,” pungkasnya. [*] Disarikan dari sumber berita media daring

 

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.