Beranda Nasional Jogja Kemarau Baru Seumur Jagung, 5 Kalurahan di Bantul Sudah Dilanda Krisis Air...

Kemarau Baru Seumur Jagung, 5 Kalurahan di Bantul Sudah Dilanda Krisis Air Bersih

ilustrasi krisis air bersih saat musi kemaru
Ilustrasi kemarau | Pixabay

BANTUL, JOGLOSEMARNEWS.COM – Musim kemarau tahun ini belum mencapai puncaknya. Namun tanda-tanda krisis air bersih mulai dirasakan di Kabupaten Bantul. Ratusan kepala keluarga di lima kalurahan sudah bergantung pada bantuan dropping air bersih setelah debit sumur mereka terus menurun dalam beberapa pekan terakhir.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul menunjukkan, sejak 20 Juni hingga 6 Juli 2026 telah didistribusikan sedikitnya 110.000 liter air bersih atau setara 22 tangki untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang terdampak kekeringan.

Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik dan Peralatan BPBD Bantul, Antoni Hutagaol, mengatakan kekeringan sejauh ini telah melanda lima kalurahan yang tersebar di tiga kapanewon. Sedikitnya 306 kepala keluarga atau sekitar 1.387 jiwa telah menerima bantuan air bersih.

“Lokasi terdampak kekeringan berada di Kalurahan Jatimulyo, Temuwuh, dan Terong, Kapanewon Dlingo; Kalurahan Seloharjo, Kapanewon Pundong; serta Kalurahan Gowosari, Kapanewon Pajangan,” ujarnya, Rabu (8/7/2026).

Di antara wilayah tersebut, Kalurahan Jatimulyo menjadi daerah yang paling banyak menerima distribusi air bersih. Sebanyak 70.000 liter air telah disalurkan untuk membantu memenuhi kebutuhan warga yang mulai kesulitan memperoleh air layak konsumsi akibat menyusutnya debit sumber air.

Distribusi tersebut dilakukan secara bersama-sama oleh BPBD Kabupaten Bantul, Palang Merah Indonesia (PMI) Bantul, serta sejumlah donatur yang ikut membantu penanganan dampak kekeringan.

Sementara itu, Panewu Dlingo, Marjihidayat, membenarkan bahwa penurunan debit air telah dirasakan warga di sejumlah wilayah, terutama di Kalurahan Terong dan Jatimulyo. Menurutnya, sumur bor maupun sumur dalam yang selama ini menjadi andalan masyarakat mulai mengalami penurunan debit.

Baca Juga :  Cincin Emas Tak Bisa Dilepas, Damkarmat Kulon Progo Turun Tangan Selamatkan Jari Warga

“Iya, debit air milik sumur warga di Kalurahan Terong dan Jatimulyo menurun. Sebagian kan menggunakan sumur bor atau sumur dalam. Nah itu, debit airnya sudah berkurang. Tapi, untuk beberapa waktu sudah ada donatur atau donasi kepada masyarakat kami yang terdampak,” jelasnya.

Tak hanya berdampak pada kebutuhan rumah tangga, berkurangnya ketersediaan air juga memengaruhi sektor pertanian. Namun, masyarakat Dlingo dinilai sudah cukup terbiasa menghadapi pola musim tersebut sehingga sejak awal telah menyesuaikan jenis tanaman yang dibudidayakan.

Lahan yang sebelumnya ditanami padi kini banyak dialihkan menjadi tanaman palawija yang membutuhkan air lebih sedikit sehingga risiko gagal panen dapat ditekan.

“Wilayah Dlingo itu tidak bisa maksimal ditanamin padi-padi. Jadi, sekarang ditanam palawija. Dengan adanya potensi kekeringan ini, masyarakat sudah melakukan antisipasi. Karena itu irama tahunan,” katanya.

Marjihidayat menambahkan, sebenarnya wilayah Dlingo memiliki potensi sumber air dari Sungai Oya yang debitnya relatif stabil sepanjang tahun. Sayangnya, pemanfaatan air sungai tersebut untuk mendukung pertanian masih terkendala keterbatasan anggaran pembangunan sarana pendukung.

Menurutnya, apabila infrastruktur pemanfaatan air Sungai Oya dapat diwujudkan, persoalan kekurangan air untuk sektor pertanian berpotensi diatasi secara lebih permanen.

Baca Juga :  Pukat UGM: Terseretnya Oknum TNI-Polri di Kasus MBG Jadi Alarm Keras Penempatan Aparat di Luar Tupoksi

“Harapan kami ketika itu bisa dimanfaatkan dengan baik, saya kira problem atau masalah pertanian ini menjadi terselesaikan. Tapi betul, selama ini air sungai itu tidak bisa untuk dikonsumsi melainkan hanya untuk pertanian dan peternakan,” tuturnya.

Pemerintah Kapanewon Dlingo juga membuka kesempatan bagi para dermawan maupun lembaga sosial yang ingin membantu penyaluran air bersih kepada warga. Pengalaman dua tahun terakhir menunjukkan kebutuhan air bersih saat musim kemarau terus meningkat di sejumlah wilayah.

“Pengalaman kami berdasarkan kondisi kekeringan selama dua tahun kemarin, hampir di enam kalurahan kami membutuhkan air bersih. Maka mulai sekarang kami menggandeng para kemitraan, donatur, untuk dipersilahkan kalau ingin membantu air bersih masyarakat di wilayah Dlingo,” pungkasnya. [*] Disarikan dari sumber berita media daring

 

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.