GUNUNGKIDUL, JOGLOSEMARNEWS.COM – Musim kemarau 2026 belum memasuki puncaknya, namun ancaman krisis air bersih sudah mulai dirasakan di berbagai penjuru Gunungkidul. Sejumlah kalurahan di beberapa kapanewon mulai mengajukan bantuan air bersih kepada pemerintah karena sumber air permukaan semakin menipis dan kebutuhan warga tidak lagi dapat dipenuhi secara mandiri.
Fenomena tersebut diperkirakan masih akan terus meluas seiring berkurangnya curah hujan dalam beberapa pekan ke depan. Wilayah-wilayah yang selama ini dikenal rawan kekeringan kembali menjadi daerah pertama yang terdampak.
Di Kapanewon Tepus, pemerintah telah menyiapkan anggaran sebesar Rp76,8 juta untuk program dropping air bersih. Dana tersebut diproyeksikan mampu mendistribusikan sekitar 422 tangki air kepada masyarakat yang membutuhkan.
Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Tepus, Sukisno, mengatakan terdapat lima kalurahan yang hampir setiap tahun mengalami kesulitan air bersih saat musim kemarau, yakni Kalurahan Tepus, Sidoharjo, Purwodadi, Sumberwungu, dan Giripanggung.
Saat ini pemerintah kalurahan telah menyerahkan data warga terdampak, dan penyaluran bantuan dijadwalkan mulai pekan depan.
“Tahun ini anggaran dari Pemkab sebesar Rp 76,8 juta, diperkirakan bisa untuk menyalurkan 422 tangki air bersih,” katanya.
Ia menambahkan, distribusi tahap awal akan diprioritaskan ke tiga kalurahan yang telah melaporkan kondisi paling mendesak.
“Rencananya mulai minggu depan dilaksanakan dropping air ke warga yang membutuhkan. Meski belum kami lakukan rekap, tapi data warga terdampak kekeringan di tiga kalurahan,” kata Sukisno saat dihubungi wartawan melalui telepon, Jumat (3/7/2026).
Kondisi serupa juga mulai terjadi di Kapanewon Purwosari. Panewu Purwosari, Subiyantoro, menyebut pemerintah telah mengalokasikan anggaran Rp79,6 juta untuk membantu warga menghadapi kekurangan air bersih.
Berdasarkan hasil pendataan, sedikitnya 10 padukuhan di Kalurahan Giripurwo dan lima padukuhan di Kalurahan Giricahyo telah mengajukan permohonan bantuan.
Saat ini pemerintah kapanewon tengah menyelesaikan administrasi sebelum distribusi air dilakukan.
“Mulai minggu depan, bantuan air bersih sudah bisa disalurkan ke warga yang membutuhkan,” ucap dia.
Sementara itu, Kapanewon Gedangsari memang belum menerima permintaan resmi dari masyarakat. Meski demikian, pemerintah setempat telah menyiapkan langkah antisipasi apabila kekeringan semakin meluas.
Panewu Gedangsari, Eko Krisdiyanto, mengatakan anggaran sebesar Rp79,8 juta telah disiapkan untuk mendistribusikan sekitar 266 tangki air bersih.
Menurutnya, wilayah yang selama ini menjadi langganan kekeringan meliputi Kalurahan Mertelu, Serut, Hargomulyo, Sampang, Ngalang, dan Watugajah.
“Hanya ada satu Kalurahan yang biasanya tidak terdampak kekeringan yakni di Tegalrejo. Wilayah kami kan perbukitan jadi sulit mencari sumber air,” kata Eko.
Di sisi lain, warga Padukuhan Kemesu, Kalurahan Semugih, Kapanewon Rongkop, sudah lebih dulu merasakan dampak kemarau. Kawasan yang berada di bentang alam karst itu kembali mengalami krisis air bersih akibat minimnya sumber air permukaan.
Sebagian warga terpaksa membeli air dari penyedia swasta, sementara sisanya mengandalkan bantuan dropping dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, mengatakan pihaknya telah dua kali mengirim bantuan air bersih ke wilayah tersebut.
“Sudah dua kali penyaluran bantuan air bersih di wilayah Padukuhan Kemesu,” kata Purwono saat dihubungi melalui sambungan telepon.
Ia menjelaskan, sekitar 400 warga mengalami kesulitan memperoleh air bersih. Bantuan pertama ditujukan untuk memenuhi kebutuhan sekitar 300 hingga 400 jiwa selama lima hari. Setelah dilakukan evaluasi, BPBD kembali menyalurkan bantuan karena kebutuhan masyarakat masih tinggi.
“Awalnya kita drooping air bersih untuk 300 hingga 400 jiwa selama kurang lebih lima hari. Setelah kita monitor, membutuhkan lagi ya kita dropping lagi hari ini untuk kebutuhan 239 jiwa,” jelas Purwono.
Air bersih tersebut dipusatkan di bak penampungan umum milik warga dan dapat diambil secara gratis untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, mulai dari memasak, air minum hingga mencuci.
Purwono mengingatkan, kondisi geografis Gunungkidul yang didominasi kawasan karst menyebabkan sebagian besar air hujan langsung meresap ke bawah permukaan tanah. Akibatnya, saat musim kemarau tiba, cadangan air di permukaan sangat terbatas sehingga banyak wilayah mengalami kekeringan.
Karena itu, masyarakat diminta menghemat penggunaan air agar pasokan yang tersedia dapat dimanfaatkan lebih lama.
“Kami mengimbau kepada masyarakat agar menggunakan air secara bijaksana,” ujarnya.
Dukuh Kemesu, Sugiyanta, membenarkan bahwa wilayahnya mulai mengalami krisis air bersih sejak awal musim kemarau tahun ini.
“Kami sudah mendapatkan dropping air bersih,” katanya.
Ia mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan memasak dan air minum, sebagian besar warga kini bergantung pada pasokan bantuan dari BPBD Gunungkidul. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.















