Beranda Nasional Jogja Lewat Jamasan Pusaka, Trah Hamengkubuwono II Ajak Generasi Muda Memahami Makna Keris

Lewat Jamasan Pusaka, Trah Hamengkubuwono II Ajak Generasi Muda Memahami Makna Keris

Para narasumber berfoto bersama usai Sarasehan dan Jamasan Pusaka Paseduluran Trah Hamengkubuwono II di Omah Pleret, Pangkuran, Kaputren Pleret, Bantul, Sabtu (11/7/2026) | Foto: Istimewa

BANTUL, JOGLOSEMARNEWS.COM – Di tengah derasnya arus modernisasi, upaya merawat warisan budaya tak lagi cukup hanya dengan menyimpan benda-benda bersejarah. Nilai, filosofi, dan pengetahuan yang menyertainya juga harus diwariskan kepada generasi penerus. Semangat itulah yang mewarnai Sarasehan Tosan Aji dan Jamasan Trah Hamengkubuwono II yang digelar di Omah Pleret, Pangkuran, Kaputren Pleret, Bantul, Sabtu (11/7/2026).

Ratusan peserta dari berbagai kalangan hadir dalam kegiatan tersebut. Mulai dari keturunan Sri Sultan Hamengkubuwono II, pemerhati budaya, kolektor pusaka, pegiat sejarah, hingga generasi muda berkumpul untuk memperdalam pemahaman mengenai makna tosan aji dalam khazanah budaya Jawa.

Acara yang diketuai R. Sudaryaka itu turut dihadiri tokoh nasional Muchdi Purwopranjono dan disambut KPH Nurdiantoro Darmaningrat selaku tuan rumah.

Prosesi diawali dengan arak-arakan pusaka yang berlangsung khidmat. Satu bregada prajurit memasuki arena sambil membawa air dari tujuh sumber mata air, pataka, serta sejumlah pusaka. Iringan kidung Jawa dan aroma wewangian yang mengepul dari tungku menciptakan suasana sakral yang mengajak peserta larut dalam nilai-nilai tradisi.

Sejumlah sesepuh menyiapkan ubarampe dan memimpin prosesi jamasan pusaka dalam rangkaian Sarasehan dan Jamasan Pusaka Paseduluran Trah Hamengkubuwono II di Omah Pleret, Pangkuran, Kaputren Pleret, Bantul, Sabtu (11/7/2026) | Foto: Istimewa

Prosesi tersebut dipimpin Siswo Pangarso bersama tim Lembaga Kebudayaan Jawa Sekar Pangawikan Yogyakarta sebagai simbol penghormatan terhadap warisan leluhur.

Setelah prosesi budaya, peserta mengikuti sarasehan bertema “Nguri-uri Pusaka Adiluhung: Menanamkan Nilai Filosofis Pusaka kepada Generasi Muda.”

Forum menghadirkan tiga narasumber, yakni R. Agus Parmadi (Ki Cokro) dari Sanggar Budaya Condrowinoto, R. Bambang Putranto dari Rumah Pusaka Banyumas, serta R. Carwudi Ing Ngalogo dari Fajar Utama.

Baca Juga :  Tembok Setinggi 3 Meter Roboh Timpa Dua Tukang di Sleman, Satu Meninggal Dunia

Dalam diskusi tersebut, para pembicara menegaskan bahwa keris tidak semestinya dipandang hanya sebagai benda koleksi atau peninggalan sejarah. Di balik setiap bilah, pamor, hingga warangka tersimpan nilai-nilai moral, etika, kepemimpinan, dan perjalanan spiritual yang telah diwariskan turun-temurun.

Peserta juga diajak memahami makna jamasan sebagai tradisi merawat pusaka yang bukan sekadar membersihkan fisik benda, melainkan menjadi simbol penghormatan terhadap nilai luhur para leluhur.

Selain membahas filosofi, para narasumber memberikan edukasi mengenai tata cara memperlakukan keris dengan benar. Salah satunya saat membuka warangka, bilah keris dianjurkan menghadap ke atas untuk menghindari paparan serbuk logam maupun unsur arsenik yang pada beberapa keris tradisional masih dapat ditemukan.

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa tradisi Jawa tidak hanya sarat nilai simbolik, tetapi juga menyimpan pengetahuan praktis yang lahir dari pengalaman panjang para empu dan leluhur.

Forum juga mengulas kedudukan keris dalam pandangan masyarakat Jawa sebagai salah satu dari lima unsur penyangga kehidupan, bersama wisma, garwa, turangga, dan kukila. Dalam konsep tersebut, keris atau curiga menjadi perlambang kehormatan, tanggung jawab, serta kematangan pribadi seseorang.

Nilai sebuah pusaka, menurut para narasumber, tidak hanya ditentukan oleh usia atau keindahan tampilannya, tetapi juga oleh filosofi yang melekat pada setiap detail pembuatannya melalui proses panjang yang dijalani para empu.

Semangat pelestarian budaya itu turut dikaitkan dengan keteladanan Sri Sultan Hamengkubuwono II yang dikenal sebagai sosok pemimpin yang tidak hanya memperkuat pertahanan Kesultanan Yogyakarta, tetapi juga memberi perhatian besar terhadap pengembangan seni, sastra, dan kebudayaan Jawa.

Baca Juga :  Jaringan Pil Sapi di Bantul Terbongkar, Dua Tersangka Diciduk dan Pemasok Masih Diburu

Pada masanya lahir berbagai karya penting seperti Babad Nitik Ngayogya, Babad Mangkubumi, Serat Baron Sekender, hingga Serat Suryaraja. Hamengkubuwono II juga dikenal mendorong perkembangan seni pedalangan dengan menghadirkan lakon-lakon kepahlawanan yang sarat pesan moral.

Nilai-nilai perjuangan dan kecintaan terhadap budaya itulah yang kini turut menguatkan proses pengusulan Sri Sultan Hamengkubuwono II sebagai Pahlawan Nasional.

Sementara itu, Seksi Dokumentasi kegiatan, Hary Sutrasno, mengatakan sarasehan budaya dan jamasan pusaka diharapkan terus berlanjut sebagai ruang pembelajaran lintas generasi.

Melalui kegiatan tersebut, warisan budaya tidak berhenti sebagai koleksi masa lalu, tetapi tetap hidup sebagai sumber nilai, karakter, dan jati diri bangsa yang terus diwariskan kepada generasi mendatang.

Rangkaian acara ditutup dengan ramah tamah dan foto bersama. Pertemuan itu menjadi penegasan bahwa pusaka terbesar bukan hanya keris yang tersimpan rapi, melainkan kesadaran untuk menjaga sejarah, menghormati leluhur, dan meneruskan nilai-nilai adiluhung kepada generasi penerus. [*]

 

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.