Beranda Edukasi Pendidikan 35 Siswa MAN Wonogiri Resmi Jadi Jurnalis Muda, Diajari Bedakan Fakta dan...

35 Siswa MAN Wonogiri Resmi Jadi Jurnalis Muda, Diajari Bedakan Fakta dan Konten yang Cuma Kejar Viral

Jurnalistik
Pelatihan jurnalistik MAN Wonogiri. Dok. Panitia

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM — Di tengah derasnya arus informasi media sosial yang nyaris tak mengenal jeda, kemampuan menulis ternyata bukan satu-satunya modal yang dibutuhkan untuk menjadi jurnalis muda. Ada kemampuan yang jauh lebih penting: tahu mana fakta, mampu memeriksa informasi, dan berani bertanggung jawab atas apa yang disampaikan kepada publik.

Pesan itulah yang mengemuka saat 35 anggota baru Ekstrakurikuler Jurnalistik MAN Wonogiri resmi dilantik dan mengikuti Pelatihan dan Pelantikan Jurnalistik Periode 2026/2027, Sabtu (8/8/2026).

Aula MAN Wonogiri menjadi ruang awal bagi puluhan siswa tersebut untuk memasuki dunia jurnalistik sekolah. Mereka tidak hanya diperkenalkan pada teknik menulis berita, tetapi juga diajak memahami bagaimana informasi harus diolah sebelum disampaikan kepada pembaca.

Pelantikan tersebut sekaligus menjadi tanda dimulainya perjalanan generasi baru jurnalistik MAN Wonogiri. Di tangan mereka, aktivitas jurnalistik sekolah diharapkan tidak berhenti pada mading atau laporan kegiatan, tetapi berkembang menjadi konten digital yang lebih kreatif, informatif, dan dekat dengan karakter generasi muda.

Kepala MAN Wonogiri, Dr Sunar, saat membuka kegiatan menekankan bahwa menjadi anggota jurnalistik bukan sekadar memiliki kemampuan merangkai kata.

Menurutnya, ada tanggung jawab yang melekat pada setiap informasi yang diproduksi dan disebarkan.

“Saya berharap anak-anak mengikuti seluruh rangkaian dengan sungguh-sungguh. Menjadi anggota Jurnalistik bukan hanya soal menulis, tetapi juga soal menjaga kebenaran informasi dan menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab,” ujarnya.

Pesan tersebut menjadi penting ketika siswa hidup di tengah ekosistem digital yang memungkinkan sebuah informasi menyebar hanya dalam hitungan detik.

Satu unggahan dapat dibagikan berkali-kali. Satu potongan video dapat ditafsirkan berbeda oleh banyak orang. Sementara sebuah informasi yang belum terverifikasi dapat telanjur dipercaya sebelum fakta sebenarnya diketahui.

Karena itu, pelatihan jurnalistik di lingkungan sekolah tidak lagi cukup jika hanya mengajarkan unsur 5W+1H dan teknik membuat berita.

Para jurnalis muda juga perlu memiliki kebiasaan memeriksa sumber, melakukan verifikasi, memahami konteks, serta membedakan informasi dengan opini.

Rangkaian kegiatan diawali dengan doa yang dipimpin Siti Senja Zevania. Setelah itu, peserta masuk ke sesi materi jurnalistik dasar yang menghadirkan Nadhiroh sebagai pemateri.

Dalam sesi tersebut, peserta diajak mengenal sejumlah prinsip penting dalam jurnalistik, mulai dari etika pemberitaan, verifikasi data, hingga cara menyajikan informasi agar tetap akurat dan bertanggung jawab.

Nadhiroh mengingatkan peserta bahwa kecepatan tidak boleh mengorbankan akurasi.

“Jurnalis yang baik bukan yang paling cepat tapi yang akurat. Kalau bisa cepat dan akurat. Di era banjir bahkan tsunami informasi ini, peran kalian sangat penting untuk menyaring dan menyajikan fakta,” kata Nadhiroh.

Kalimat tersebut sekaligus menggambarkan tantangan yang akan dihadapi para anggota baru Jurnalistik MAN Wonogiri.

Mereka tidak hanya dituntut menghasilkan berita, tetapi juga harus mampu menjadi penyaring informasi di lingkungan sekolah. Setiap berita yang dibuat akan membawa nama organisasi dan institusi tempat mereka belajar.

Baca Juga :  Bukan Boyolali Saja! Wonogiri Berpotensi Jadi Pusat Sapi Perah dan Daging Berkualitas

Di sinilah jurnalistik sekolah memiliki fungsi yang lebih luas. Siswa dapat belajar mengamati lingkungan sekitar, menemukan persoalan, melakukan wawancara, menyusun data, kemudian mengubahnya menjadi informasi yang bermanfaat.

Proses tersebut secara tidak langsung melatih kemampuan berpikir kritis.

Siswa belajar bahwa sebuah peristiwa tidak cukup hanya dilihat dari apa yang tampak di permukaan. Ada data yang perlu diperiksa, narasumber yang perlu ditemui, serta sudut pandang yang harus dipertimbangkan sebelum sebuah tulisan dipublikasikan.

Namun, dunia jurnalistik siswa saat ini juga menghadapi tantangan lain. Pembaca mereka sebagian besar merupakan generasi yang sangat akrab dengan media sosial.

Karena itu, berita yang baik juga harus mampu dikemas dengan cara yang menarik.

Hal tersebut menjadi fokus pada sesi kedua yang menghadirkan Lidzan Majid sebagai pemateri. Peserta diajak memasuki wilayah yang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka, yakni produksi konten kreatif di media sosial.

Lidzan membahas sejumlah strategi untuk membuat konten menarik, mulai dari memahami algoritma, membuat hook pada tiga detik pertama, membangun storytelling visual, hingga mengemas informasi edukatif agar tetap menarik bagi audiens muda.

Dengan materi tersebut, para peserta diarahkan untuk memahami bahwa kreativitas dan jurnalistik sebenarnya dapat berjalan beriringan.

Sebuah informasi yang akurat tidak harus disajikan secara kaku. Sebaliknya, konten yang menarik juga tetap harus memiliki isi yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Membuat konten itu seni. Harus ada nilai, ada rasa, dan ada pesan. Kalau hanya ikut-ikutan tren tanpa isi, kontennya akan cepat tenggelam,” jelas Lidzan.

Pesan tersebut menjadi bekal penting bagi jurnalis muda MAN Wonogiri yang nantinya akan berhadapan dengan berbagai platform digital.

Di era ketika jumlah tayangan, tanda suka, komentar, dan jumlah pengikut sering menjadi ukuran popularitas, siswa perlu memahami bahwa viral bukan satu-satunya tujuan.

Konten jurnalistik memiliki tanggung jawab yang berbeda.

Konten boleh menarik perhatian, tetapi informasi di dalamnya harus benar. Judul boleh menggugah rasa penasaran, tetapi tidak boleh menyesatkan. Visual boleh kreatif, tetapi tidak boleh mengubah fakta.

Perpaduan antara kreativitas dan integritas inilah yang menjadi tantangan sekaligus peluang bagi generasi baru Jurnalistik MAN Wonogiri.

Mereka memiliki ruang yang luas untuk mengembangkan berbagai bentuk karya. Berita sekolah dapat dikemas dalam tulisan, foto jurnalistik, video pendek, infografis, maupun konten media sosial.

Dengan kemampuan tersebut, kegiatan jurnalistik sekolah berpotensi menjadi ruang belajar yang tidak hanya melatih kemampuan menulis, tetapi juga komunikasi, produksi konten, kerja tim, riset, wawancara, hingga literasi digital.

Di tengah rangkaian pelatihan, suasana juga berubah menjadi lebih emosional ketika penghargaan diberikan kepada pengurus Jurnalistik periode 2025/2026.

Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas dedikasi pengurus lama dalam menjaga dan mengembangkan kegiatan jurnalistik di MAN Wonogiri.

Penghargaan diserahkan oleh Pembina Jurnalistik, Gatot Suryanto, bersama Ketua Jurnalistik demisioner Azril Esa Prasetyo.

Baca Juga :  Bukan Cuma Es Teh! 10 Ide Usaha Musim Kemarau yang Cepat Laku, Modal Ringan dan Bisa Dimulai dari Rumah

Pergantian kepengurusan itu menjadi bagian penting dalam keberlanjutan organisasi. Pengurus lama meninggalkan pengalaman, sementara anggota baru membawa energi dan gagasan yang berbeda.

Tradisi tersebut membuat jurnalistik sekolah tidak berhenti pada satu generasi.

Setelah pelantikan, tanggung jawab berikutnya berada di tangan anggota baru. Mereka dituntut membuktikan bahwa materi yang diperoleh dalam pelatihan bukan hanya catatan yang tersimpan di buku, tetapi benar-benar diterapkan dalam karya.

Gatot Suryanto saat menutup kegiatan juga menyampaikan harapan agar para anggota baru mampu mengembangkan keterampilan sekaligus lebih aktif menghasilkan informasi yang bermanfaat.

“Dengan bekal ini, saya harap anggota baru bisa lebih kreatif, terampil, dan aktif menyajikan informasi yang edukatif, aktual, dan inspiratif untuk seluruh sivitas MAN Wonogiri,” tuturnya.

Harapan tersebut sekaligus menjadi pekerjaan rumah bagi generasi jurnalistik periode 2026/2027.

Tantangannya bukan hanya menghasilkan banyak tulisan. Yang lebih penting adalah menghadirkan karya yang memiliki nilai.

Berita tentang kegiatan sekolah, prestasi siswa, aktivitas guru, kreativitas pelajar, hingga berbagai persoalan di lingkungan pendidikan dapat menjadi bahan jurnalistik jika digarap dengan serius.

Dari sana, siswa belajar bahwa jurnalistik bukan sekadar aktivitas ekstrakurikuler.

Jurnalistik adalah latihan untuk melihat, bertanya, memeriksa, kemudian menyampaikan sesuatu kepada orang lain secara bertanggung jawab.

Kemampuan tersebut akan tetap berguna bahkan ketika mereka kelak tidak lagi berada di ruang redaksi sekolah.

Sebab, dunia digital membutuhkan generasi yang tidak mudah percaya pada informasi mentah, tidak tergoda menyebarkan kabar hanya karena sedang ramai, dan mampu membedakan fakta dengan opini.

Pelantikan 35 anggota baru Jurnalistik MAN Wonogiri akhirnya bukan sekadar pergantian anggota organisasi. Ada harapan agar dari ruang sekolah lahir generasi yang mampu menggunakan kemampuan komunikasi dan teknologi secara lebih bertanggung jawab.

Mereka boleh mengejar kreativitas. Mereka boleh belajar membuat konten yang menarik. Mereka bahkan boleh bermimpi menghasilkan karya yang ditonton ribuan orang.

Tetapi satu hal yang tidak boleh ditinggalkan: kebenaran informasi.

Sebab di tengah dunia yang semakin cepat membagikan apa saja, kemampuan untuk berhenti sejenak, memeriksa fakta, kemudian menyampaikan informasi dengan benar justru menjadi keterampilan yang semakin mahal.

Dan 35 siswa MAN Wonogiri itu kini memulai perjalanan tersebut.

Bukan hanya belajar menjadi penulis berita, tetapi belajar menjadi generasi yang mampu menentukan informasi mana yang layak dipercaya dan bagaimana menyampaikannya kepada publik dengan cara yang cerdas. Aris Arianto

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.