Beranda Umum Nasional Gempa NTT Telan 47 Korban Jiwa, 341 Gempa Susulan Masih Mengancam

Gempa NTT Telan 47 Korban Jiwa, 341 Gempa Susulan Masih Mengancam

Ilustrasi gempa. Pixabay

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Gempa bumi dahsyat yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) bukan sekadar menyisakan kerusakan bangunan. Hingga Minggu (16/8/2026) dini hari, bencana itu telah merenggut 47 nyawa, memaksa ribuan warga meninggalkan rumah, serta memutus sejumlah jalur penting yang menjadi urat nadi distribusi bantuan dan evakuasi.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan, korban meninggal tersebar di enam kabupaten. Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah korban terbanyak, yakni 23 orang, disusul Manggarai Timur sebanyak 17 orang.

Korban lainnya tercatat di Kabupaten Sikka empat orang, Manggarai Barat satu orang, Ende satu orang, dan Nagekeo satu orang.

“Korban meninggal terbanyak berada di Kabupaten Manggarai 23 jiwa dan Manggarai Timur 17 jiwa. Sementara itu, korban jiwa lainnya tersebar di Kabupaten Sikka 4 jiwa, Manggarai Barat 1 jiwa, Ende 1 jiwa, dan Nagekeo 1 jiwa,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, Minggu (16/8/2026).

Bencana belum sepenuhnya berhenti. Setelah gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 pada Sabtu (15/8/2026), aktivitas kegempaan masih terus terjadi. BNPB mencatat sedikitnya 341 kali gempa susulan telah mengguncang wilayah tersebut.

Di tengah ancaman gempa susulan, ribuan warga memilih bertahan di lokasi-lokasi pengungsian. BNPB mencatat jumlah pengungsi telah mencapai lebih dari 5.000 orang.

Sebanyak 1.356 orang mengungsi di Gelanggang Olahraga Samador, sementara sekitar 2.000 warga lainnya mengungsi secara mandiri di 10 titik. Di Kabupaten Manggarai, jumlah pengungsi mencapai 2.078 orang.

Pengungsian juga terjadi di Nagekeo dengan jumlah sekitar 500 orang. Dampak gempa bahkan dirasakan hingga wilayah di luar NTT, termasuk Bima dan Kepulauan Selayar.

Baca Juga :  Literasi Gizi MBG Libatkan 3,5 Juta Guru, Mendikdasmen Klaim Tidak Tambah Beban Guru

Besarnya jumlah pengungsi membuat kebutuhan dasar menjadi persoalan mendesak. Di Kabupaten Manggarai, para penyintas masih membutuhkan tenda darurat, puluhan ton beras, obat-obatan, selimut, tempat tidur lapangan hingga sarana pendukung air bersih dan listrik.

Berton mengatakan kebutuhan tersebut menjadi bagian penting dalam penanganan masa tanggap darurat.

“Pemenuhan hak-hak dasar dan logistik di pengungsian kini menjadi salah satu prioritas penanganan darurat,” kata Berton.

Kerusakan akibat gempa juga cukup luas. BNPB mencatat sedikitnya 157 rumah mengalami kerusakan berat, 41 rumah rusak sedang, dan 148 rumah lainnya rusak ringan. Angka tersebut masih berpotensi berubah karena proses pendataan di sejumlah lokasi terdampak masih berlangsung.

Pemerintah Provinsi NTT kini tengah menyiapkan keputusan untuk menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari. Sejumlah pemerintah daerah terdampak bahkan telah lebih dahulu menetapkan status tanggap darurat di wilayah masing-masing.

Kabupaten Manggarai, misalnya, menetapkan status Tanggap Darurat Bencana selama 90 hari, terhitung 15 Agustus hingga 13 November 2026. Pemerintah daerah setempat juga telah membentuk pos komando untuk mengoordinasikan penanganan bencana.

Status tanggap darurat juga diberlakukan di Kabupaten Ngada dan Manggarai Timur.

Sementara itu, upaya pencarian, pendataan, evakuasi, dan penanganan korban masih dilakukan tim gabungan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Rumah Sakit Lapangan turut didirikan di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, untuk memperkuat pelayanan kesehatan bagi warga terdampak.

Baca Juga :  Bandara IKN Hendak Disulap Jadi Embarkasi Haji, Status Masih Tunggu Perpres

Persoalan akses menjadi tantangan lain dalam penanganan bencana ini. Jalur darat Larantuka-Maumere disebut sudah kembali terhubung dan dapat digunakan untuk mendukung mobilitas logistik maupun proses evakuasi.

Namun, tidak semua jalur berhasil dipulihkan. Ruas yang menghubungkan Ende dan Nagekeo masih terputus akibat dampak gempa. Kondisi tersebut membuat tim penanganan harus mencari jalur alternatif agar distribusi bantuan dan proses evakuasi tidak terhambat.

“Namun tim penanganan masih berupaya mencari jalur alternatif lain lantaran akses jalan darat penghubung Ende – Nagekeo hingga kini masih terputus akibat gempa,” kata Berton.

Dengan korban jiwa yang terus terdata, ribuan warga yang masih berada di pengungsian, serta aktivitas gempa susulan yang belum sepenuhnya reda, penanganan bencana NTT kini berpacu dengan waktu. Pemerintah dan tim gabungan masih harus memastikan kebutuhan dasar para penyintas terpenuhi sekaligus membuka kembali akses menuju wilayah yang terisolasi. [*] Disarikan dari sumber berita media daring

 

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.